Lantas, mengapa ini lebih sering menjangkiti fans olahraga yang didominasi pria dan menarget pasangan yang bergender perempuan? Kultur misoginis bisa jadi jawabannya. Ada fenomena umum yang menganggap perempuan kurang kompeten dibanding pria. Alhasil banyak pria yang ketika berkelakuan buruk diasosiasikan dengan perempuan. Celotehan seperti “pakai rok saja kalau tidak bisa bermain sepak bola” atau “jadi laki-laki jangan suka nyinyir seperti perempuan” mungkin terasa familier dan natural, tetapi sebenarnya berakar dari kultur misoginis dan seksis.
Kultur itu kemudian termanifestasi jadi beragam fenomena. Salah satunya menyalahkan perempuan yang ada dalam sirkel terdekat pria ketika pria itu dianggap tak kompeten, termasuk para atlet. Tak heran, dahulu sempat berkembang teori bahwa seks bisa memengaruhi performa atlet. Namun, para ilmuwan akhirnya membuat klarifikasi lewat riset-riset mereka dan membantah teori tersebut. Salah satunya dipublikasikan Zavorsky dan Brooks dalam jurnal Scientific Reports berjudul "The influence of sexual activity on athletic performance: a systematic review and meta-analyses". Dari 9 atlet muda yang mereka teliti (8 pria dan 1 perempuan), tidak ditemukan adanya korelasi antara performa di lapangan dengan hubungan seks yang dilakukan 24 jam sampai 30 menit sebelum pertandingan. Riset ini memang kurang heterogen, tetapi untuk menjawab pola misoginis yang kerap terjadi, seharusnya ini cukup untuk mematahkan mitos tersebut.
Menyalahkan pasangan perempuan atas performa buruk atlet pria itu sungguh ganjil. Harusnya sebagai orang dewasa dan profesional di bidangnya, mereka punya tanggung jawab atas diri mereka sendiri. Ada banyak faktor di lapangan yang bisa dianalisis, mengapa pula kita harus sampai ke ranah pribadi atlet? Namun, fenomena ini bisa jadi bukti betapa toksiknya basis penggemar olahraga.