Jakarta, IDN Times - Mengutip Franklin Foer dalam bukunya How Soccer Explains the World: An Unlikely Theory of Globalization, Piala Presiden 2026 berhasil menciptakan tribalisme, dengan kekuatan-kekuatan lama yang bertahan dan melesat dalam persaingan. Pada musim ini, Piala Presiden tak lagi hanya membicarakan gengsi, melainkan membuktikan bahwa tradisi dan kekuatan lama di sepak bola Indonesia justru yang mengangkat kembali martabat bangsa.
Semifinal Piala Presiden 2026 menjadi buktinya. Sebanyak empat poros kekuatan lama, Persib Bandung, Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, dan Arema FC, masuk ke semifinal. Bahkan, selain Arema, tiga di antaranya merupakan tim legendaris yang sudah eksis sejak era Perserikatan.
Secara simbolis, fakta itu menunjukkan gengsi Indonesia kembali dalam Piala Presiden 2026. Sebab, di musim 2025, Piala Presiden justru dikuasai klub-klub asing. Port FC kala itu jadi juaranya, dengan Oxford United yang didaulat sebagai runner-up.
Tapi kali ini cerita berbeda muncul. Sebanyak tiga klub asing gagal melaju ke semifinal. DPMM FC (Brunei Darussalam), Tampines Rovers (Singapura), dan Port FC (Thailand) semuanya terhenti di fase grup.
Bahkan, Port FC yang merupakan juara bertahan dan merupakan klub asing pertama menyabet status tersebut, tersingkir dalam skenario dramatis. Keok dari Persebaya di partai pamungkas penyisihan Grup B, Port FC gagal lolos akibat kalah selisih gol dengan Persija.
"Kompetisi ini menjadi ujian yang sangat bagus. Kami menghadapi tim-tim berkualitas dan tampil cukup baik di setiap pertandingan, meski belum beruntung melangkah lebih jauh. Kami berharap bisa kembali tahun depan dan kembali menjadi bagian dari turnamen ini. Kami sangat mengapresiasi semua yang telah dilakukan PSSI. Kami menikmati setiap momennya," kata pelatih DPMM FC, Jamie MacAllister.
