Masalah finansial kemudian menjadi faktor krusial yang mempercepat jatuhnya Leicester City. Mereka dikenai pengurangan enam poin karena pelanggaran Profitability and Sustainability Rules (PSR) akibat melampaui batas kerugian sebesar 20,8 juta pound sterling (Rp483,4 miliar) dalam kurun 3 tahun. Namun, hukuman ini bukan penyebab utama degradasi karena mereka tetap berada di zona merah meski tanpa pengurangan poin.
Laporan keuangan tim menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Dilansir Telegraph, Leicester City mencatat kerugian fantastis sebesar 71,1 juta pound sterling atau setara Rp1,652 triliun pada 2024/2025. Angka ini terlihat lebih tragis karena mereka mengeluarkan uang jauh lebih banyak untuk membayar pemain daripada seluruh pendapatan yang berhasil mereka kumpulkan.
Ketergantungan pada suntikan dana luar membuat kondisi finansial Leicester City makin runyam. Klub memanfaatkan pinjaman dari Macquarie Group, grup perbankan asal Australia, dengan cara menggadaikan pemasukan masa depan. Namun, strategi gali lubang tutup lubang ini justru mengorbankan stabilitas jangka panjang demi mempertahankan status kompetitif yang semu.
Penurunan pendapatan akibat degradasi menjadi pukulan telak berikutnya. Dari sekitar 187 juta pound sterling (Rp4,347 trilun) saat di Premier League, pendapatan mereka turun menjadi sekitar 100 juta pound sterling (Rp2,234 triliun) di Championship, dan diprediksi menurun menjadi sekitar 60 juta pound sterling (Rp1,394 triliun) ketika di League One. Mau tak mau, mereka melakukan penyesuaian besar-besaran dalam struktur pembiayaan.
Regulasi League One yang membatasi pengeluaran gaji hanya 60 persen dari total pendapatan bakal menjadi masalah baru klub untuk mengatur komposisi skuad. Nilai pasar pemain yang anjlok akibat turun kasta makin mempersulit langkah klub untuk menyeimbangkan neraca keuangan mereka. Alhasil, sisa dana parachute payments yang kian menipis tak lagi sanggup menambal lubang finansial akibat kelalaian manajemen pada masa lalu.
Saat ini, mereka harus menerima kenyataan pahit kemampuan keuangan mereka sudah tidak mampu lagi mengimbangi ambisi untuk tetap bersaing di level atas. Ambisi klub untuk tetap kompetitif tanpa landasan keuangan yang stabil menjadi gambaran nyata dari fenomena financial overreach. Pada akhirnya, kejatuhan pun menjadi hal yang tak terelakkan ketika performa di lapangan tak lagi sanggup menopang beratnya beban tekanan finansial yang ada.
Dengan kondisi saat ini, Leicester City harus melakukan perubahan total atau makin hancur. Tanpa adanya transformasi, drama kejatuhan The Foxes bisa saja memburuk pada masa mendatang.