Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Manajemen Pasang Badan Usai Pemain Persija Dicaci Saat Bela Timnas
Bek Timnas Indonesia, Jordi Amat, setelah menghadapi Vietnam di Stadion Pakansari, Senin (3/8/2026). (IDN Times/Tino).
  • Presiden Persija Mohamad Prapanca membela Rizky Ridho, Jordi Amat, dan Shayne Pattynama yang disalahkan atas kegagalan Timnas Indonesia lolos semifinal Piala AFF 2026.
  • Prapanca menilai kegagalan Timnas tidak sepenuhnya disebabkan pemain Persija, karena negara-negara AFF turut berkembang, termasuk komposisi skuad, kualitas pemain, dan strategi.
  • Menurut Prapanca, masih terlalu dini menyebut pemain Persija tampil buruk di Piala AFF 2026 karena kegagalan Timnas dipengaruhi banyak faktor.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Persija Jakarta, Mohamad Prapanca, membela para pemainnya yang mendapatkan caci maki saat membela Timnas Indonesia sepanjang Piala AFF 2026 lalu. Dia menyebut, kesalahan tak sepenuhnya ada pada pemain Persija.

Memang, performa sejumlah pemain Persija seperti Rizky Ridho, Jordi Amat, dan Shayne Pattynama, tak sesuai harapan. Mereka tampil di bawah performa terbaiknya, sehingga mampu diekspose oleh lawan-lawan Timnas. Khusus buat Ridho, sejumlah kesalahan fatal sempat dilakukannya di Piala AFF 2026.

Alhasil, publik mencaci mereka, menganggapnya sebagai biang keladi kegagalan Timnas ke semifinal. Namun, Prapanca merasa hal itu tak adil karena sebenarnya banyak pemain lain yang juga melakukan kesalahan dan berpengaruh terhadap hasil Timnas di Piala AFF.

1. Negara-negara lain di AFF sudah berkembang

Persija jalani TC di Thailand, fisik dan taktik digeber Shin Tae Yong. (Dok. Persija)

Prapanca menyebut, kegagalan Timnas di Piala AFF 2026 tak semata karena pemain Persija. Menurutnya, kegagalan tersebut juga terjadi karena negara-negara di kawasan Asia Tenggara juga berkembang.

"Mungkin ya, waktu kita selesai dari negara AFF yang lain melakukan improve (perkembangan). Ya kan bisa lihatlah lawan Vietnam naturalisasinya lumayan banyak juga kan? Begitu," ujar Prapanca kepada awak media.

2. Strategi dan kualitas tim lain berkembang

Persija jalani TC di Thailand, fisik dan taktik digeber Shin Tae Yong. (Dok. Persija)

Menurut Prapanca, perkembangan tim-tim di kawasan Asia Tenggara tak berhenti pada aspek teknis, melainkan juga pada strategi. Meski banyak yang tak mengandalkan diaspora, pada akhirnya mereka bisa meningkatkan kualitasnya demi bisa naik kelas.

"Jadi mereka improve (berkembang) begitu, dan juga meng-improve komposisi skuadnya dan juga mungkin materi pemain dan strateginya lah," kata Prapanca.

3. Terlalu dini menilai para pemain Persija jelek

Potret latihan Persija di Thailand. (Dok. Persija).

Lebih lanjut, Prapanca menilai terlalu dini untuk menilai para pemain Persija yang mentas di Timnas dalam Piala AFF 2026 itu tampil buruk. Sebab, kegagalan Timnas disebabkan banyak faktor.

"Terlalu dini lah kalau menurut saya untuk menilai bahwa pemain-pemain Persija yang ada di Timnas itu enggak bagus saat Piala AFF 2026. Kalau menurut saya sih enggak," kata Prapanca.

Curated For You

Editorial Team

Related Article