Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Mengapa Negara Afrika Belum Pernah Juara Piala Dunia?
Pemain Afrika Selatan, Jayden Adams, dan gelandang Meksiko, Roberto Alvarado, berebut penguasaan bola dalam pertandingan Grup A Piala Dunia 2026 di Mexico City, 12 Juni 2026. (AFP/Yuri Cortez)
  • Negara Eropa dan Amerika Selatan masih mendominasi Piala Dunia karena memiliki fondasi sepak bola kuat, sistem pembinaan berkelanjutan, serta pengalaman panjang yang belum dimiliki negara-negara Afrika.
  • Infrastruktur dan fasilitas sepak bola di banyak negara Afrika belum berkembang merata, membuat potensi pemain muda sulit berkembang maksimal dan menghambat pembentukan tim nasional yang kompetitif.
  • Maroko mencatat sejarah sebagai negara Afrika pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia 2022, menjadi bukti bahwa benua tersebut mulai mampu bersaing di level tertinggi dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tiap 4 tahun sekali, negara dari berbagai benua bersaing ketat demi memperebutkan trofi Piala Dunia. Namun, hingga dimulainya Piala Dunia 2026, hanya negara-negara dari Eropa dan Amerika Selatan yang mampu keluar sebagai juara dunia. Sepanjang sejarah Piala Dunia, belum ada satu pun negara dari Afrika yang berhasil meraih gelar juara dan mengangkat trofi di partai final.

1. Negara Eropa dan Amerika Selatan sudah terlalu lama mendominasi

Sejak Piala Dunia pertama bergulir pada 1930, negara-negara Eropa dan Amerika Selatan terus menguasai turnamen ini. Brasil, Argentina, Uruguay, Jerman, Italia, Prancis, Spanyol, dan Inggris menjadi satu-satunya negara yang pernah mengangkat trofi juara dunia. Dominasi tersebut menunjukkan bahwa persaingan di level tertinggi sangat sulit ditembus negara dari benua lain, salah satunya Afrika.

Keberhasilan negara-negara tersebut tidak muncul secara instan. Mereka sudah membangun fondasi sepak bola yang kuat selama puluhan tahun. Mereka mengembangkan kompetisi domestik yang kompetitif dan menciptakan sistem pembinaan pemain yang berkelanjutan. Hasilnya, mereka mampu melahirkan generasi berkualitas secara konsisten di tiap edisi Piala Dunia.

Sementara itu, banyak negara Afrika baru mulai tampil secara rutin di Piala Dunia pada era modern atau 2000 ke atas. Akibatnya, pengalaman masih kurang dan harus berusaha mengejar pengalaman yang telah dikumpulkan negara-negara Eropa dan Amerika Selatan selama beberapa dekade. Perbedaan pengalaman tersebut sering kali terlihat ketika turnamen memasuki fase gugur.

2. Infrastruktur sepak bola di Afrika belum berkembang merata

Afrika tidak pernah kekurangan bakat sepak bola. Banyak pemain muda menunjukkan potensi besar sejak usia dini dan menarik perhatian pencari bakat dari berbagai negara. Namun, tidak semua negara Afrika memiliki fasilitas yang mampu mendukung perkembangan mereka secara maksimal.

Sebagian negara masih menghadapi keterbatasan stadion, pusat pelatihan, hingga kompetisi usia muda yang terstruktur. Kondisi tersebut membuat proses pengembangan pemain berjalan lebih lambat dibandingkan negara-negara elite sepak bola. Akibatnya, banyak talenta muda tidak mendapatkan lingkungan ideal untuk berkembang.

Selain itu, pembangunan sepak bola modern membutuhkan investasi yang besar dan berkelanjutan. Negara-negara juara dunia biasanya memiliki jaringan akademi yang terhubung dengan kompetisi profesional. Banyak negara Afrika masih berupaya membangun sistem seperti itu hingga sekarang.

Keberadaan fasilitas yang memadai sangat penting untuk menciptakan pemain berkualitas dalam jumlah besar. Tim nasional tidak bisa hanya mengandalkan satu atau dua pemain bintang ketika menghadapi turnamen sekelas Piala Dunia. Mereka membutuhkan kedalaman skuad yang kuat di tiap lini.

3. Masalah federasi masih menjadi tantangan bagi negara Afrika

Kesuksesan di Piala Dunia tidak hanya bergantung kepada kualitas pemain. Federasi sepak bola juga memegang peran penting dalam menentukan arah perkembangan sebuah tim nasional. Mereka harus menyusun program yang jelas dan mendukung kebutuhan pemain serta pelatih.

Beberapa negara Afrika masih menghadapi tantangan dalam aspek tata kelola sepak bola. Pergantian pelatih yang terlalu sering atau masalah administratif terkadang mengganggu persiapan tim menjelang turnamen besar. Situasi tersebut membuat program jangka panjang sulit berjalan secara konsisten. Sebaliknya, negara-negara di Eropa sudah banyak menjaga kestabilan federasi selama bertahun-tahun.

Nigeria menjadi salah satu contoh bagaimana persoalan federasi dapat mempengaruhi sepakbola nasional. Pada 2014, FIFA bahkan sempat menjatuhkan sanksi kepada Federasi Sepak Bola Nigeria (NFF) karena adanya campur tangan pemerintah dalam urusan federasi, yang bertentangan dengan aturan FIFA. Selain itu, FIFA juga pernah terlibat dalam perdamaian kepengurusan sepak bola Nigeria pada tahun-tahun berikutnya untuk memastikan federasi dapat beroperasi secara independen.

4. Maroko membuktikan Afrika mulai bisa bersaing di Piala Dunia

Maroko menorehkan sejarah baru bagi sepak bola Afrika pada Piala Dunia 2022. Tim Atlas Lions menjadi negara Afrika pertama yang berhasil menembus semifinal Piala Dunia. Pencapaian tersebut membuat Maroko mencatatkan hasil terbaik yang pernah diraih wakil Afrika sepanjang sejarah turnamen.

Maroko mengawali turnamen dengan hasil imbang 0-0 melawan Kroasia pada fase grup. Setelah itu, mereka mengalahkan Belgia dengan skor 2-0 dan menundukkan Kanada 2-1 untuk keluar sebagai juara Grup F. Dari tiga pertandingan grup, Maroko mencatat dua kemenangan dan satu hasil imbang tanpa menelan kekalahan.

Performa impresif tersebut berlanjut pada fase gugur. Maroko menyingkirkan Spanyol melalui adu penalti setelah bermain imbang tanpa gol selama 120 menit di babak 16 besar. Mereka kemudian mengalahkan Portugal 1-0 di perempat final melalui gol Youssef En-Nesyri yang sekaligus mengantar Afrika untuk pertama kalinya menembus empat besar Piala Dunia.

Perjalanan luar biasa Maroko akhirnya terhenti ketika menghadapi Prancis di semifinal. Tim asuhan Walid Regragui kalah dengan skor 0-2 dari sang juara bertahan sebelum kembali kalah 1-2 dari Kroasia dalam perebutan tempat ketiga. Meski gagal membawa pulang medali perunggu, pencapaian tersebut tetap menjadi tonggak terbesar dalam sejarah sepak bola Afrika.

Maroko telah membuktikan, negara Afrika mampu bersaing hingga level semifinal Piala Dunia melalui penampilan impresif pada 2022. Keberhasilan Atlas Lions membangun tim yang solid, disiplin, dan kompetitif layak menjadi contoh bagi negara-negara Afrika yang tampil di Piala Dunia 2026. Kini, menarik untuk menantikan apakah wakil-wakil Afrika mampu melampaui pencapaian Maroko atau bahkan menciptakan sejarah baru dengan melangkah hingga partai final dan memperebutkan gelar juara dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article