Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengapa Sirkuit Sepang Jadi Tuan Rumah Formula 1 GP Bahrain 2026?
salah satu area Sirkuit Sepang, Malaysia (commons.wikimedia.org/Leminhel)
  • GP Bahrain 2026 digelar di Sirkuit Sepang, Malaysia, pada 2–4 Oktober setelah konflik Timur Tengah kembali memupuskan rencana balapan di Bahrain International Circuit.
  • Lokasi Sepang dekat Bandara Internasional Kuala Lumpur dan berjarak sekitar satu jam penerbangan dari Singapura, sehingga memudahkan logistik dalam rangkaian triple-header Azerbaijan, Bahrain, dan Singapura.
  • Penyelenggaraan ini menjaga pemasukan hosting fee Formula 1; Bahrain menanggung sebagian besar biaya, sementara Malaysia hanya membiayai perbaikan kecil tanpa membayar hosting fee.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Formula 1 mengeluarkan pengumuman mengenai kepastian penyelenggaraan GP Bahrain pada Minggu (26/7/2026) sore WIB. Seri balap ini akan digelar pada 2--4 Oktober 2026. GP Bahrain akan menjadi bagian dari triple-header dengan GP Azerbaijan dan Singapura.

Namun, GP Bahrain kali ini tidak akan digelar di Bahrain International Circuit. Sirkuit Sepang yang berlokasi di Kuala Lumpur, Malaysia, justru yang terpilih untuk melangsungkan seri balap tersebut. Mengapa itu bisa terjadi?

1. Kondisi konflik di Timur Tengah yang belum reda menyebabkan GP Bahrain 2026 digelar di Sirkuit Sepang

GP Bahrain sejatinya masuk sebagai seri keempat pada kalender balap Formula 1 2026. GP Bahrain dijadwalkan melangsungkan pekan balap pada 10--12 April 2026. Namun, Pekan balap itu batal digelar lantaran konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat-Israel dan Iran.

Tidak hanya GP Bahrain yang gagal digelar pada April 2026. GP Arab Saudi juga terkena imbas akibat konflik. Alhasil, Formula 1 tidak mengisi kekosongan selama bulan tersebut.

Peluang GP Bahrain atau Arab Saudi kembali ke kalender balap musim ini terbuka pada Juni 2026. Ketika itu, Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan kerangka kerja untuk gencatan senjata. Situasi tersebut membawa angin segar bagi Formula 1, mengingat sejumlah peralatan milik kejuaraan masih berada di Bahrain setelah digunakan saat tes pramusim pada Februari. Akan tetapi, situasi berubah pada awal Juli.

Konflik kembali pecah di Timur Tengah menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyatakan gencatan senjata telah berakhir. Praktis, rencana melangsungkan balapan di Bahrain International Circuit pun pupus. Formula 1 harus mengambil langkah cepat untuk menentukan kelanjutan GP Bahrain. Apalagi, para tim balap membutuhkan kepastian rencana perjalanan sebelum jeda musim panas.

Permintaan untuk menjadi tuan rumah balapan Formula 1 mengalami peningkatan sejak 2017. Ini memberi mereka sejumlah pendekatan untuk memutuskan sirkuit pengganti. Salah satu yang faktor yang menentukan adalah aspek geografis.

Faktor itulah yang turut memengaruhi pemilihan Sirkuit Sepang sebagai tuan rumah GP Bahrain. Penerbangan dari Kuala Lumpur ke Singapura hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Selain itu, lokasi Sirkuit Sepang juga dekat dengan bandara International Kuala Lumpur. Hal ini jelas membantu tim dalam mengangkut logistik di tengah padatnya jadwal triple-header.

2. Adanya kepentingan finansial untuk mengembalikan GP Bahrain ke kalender balap Formula 1 2026

Usaha mengembalikan GP Bahrain ke kalender balap Formula 1 2026 juga tak lepas dari kepentingan finansial. Apalagi, GP Bahrain merupakan seri balap dengan hosting fee tertinggi di kejuaraan. SalaryLeaks melansir, per 20 September 2025, estimasi hosting fee untuk GP Bahrain adalah 60 juta dolar AS atau setara 1,084 triliun rupiah.

Besaran hosting fee berdasarkan perpanjangan kontrak yang ditandatangani pada 2022. Kesepakatan yang telah diteken membuat GP Bahrain tetap bertahan di kalender balap hingga 2036. Nilai hosting fee yang sebesar itu jelas menjadi hal penting bagi Formula 1.

Hosting fee merupakan salah satu sumber pemasukan Formula 1. Ajang balap tersebut dapat menghasilkan sekitar 700 juta dolar AS atau setara 12,646 triliun rupiah dari total pembayaran hosting fee tiap tahunnya. Jumlah ini mencakup sekitar 25 persen dari total pendapatan tahunan.

Pemasukan hosting fee tidak hanya memengaruhi pendapatan Formula 1. Hal itu juga berhubungan dengan hadiah uang yang diberikan kepada tim pada akhir musim. Jika ada seri balap yang dibatalkan, maka pemasukan serta hadiah uang untuk tim balap akan mengalami penurunan. Kepastian penyelenggaraan GP Bahrain di Sirkuit Sepang setidaknya dapat meminimalkan potensi semacam itu.

3. Simbiosis mutualisme antara Malaysia dan Bahrain dari kesepakatan penyelenggaraan balapan di Sirkuit Sepang

Terpilihnya Sirkuit Sepang sebagai tuan rumah GP Bahrain 2026 memberi keuntungan bagi Bahrain dan Malaysia. Kontribusi untuk menanggung sebagian besar penyelenggaraan balapan di Sirkuit Sepang membuat Bahrain tetap tercantum dalam kalender balap musim ini. Selain itu, Gulf Air selaku maskapai penerbangan nasional Bahrain menjadi sponsor utama dari balapan awal Oktober nanti.

Dari sisi Malaysia, negara tersebut hanya mengeluarkan biaya yang tidak terlalu untuk melangsungkan balapan Formula 1. Anwar Ibrahim selaku Perdana Menteri Malaysia menyatakan, pihaknya hanya perlu mengalokasikan dana sebesar 16 juta ringgit Malaysia atau setara 70,7 miliar rupiah untuk perbaikan kecil di sirkuit. Malaysia dibebaskan dari kewajiban pembayaran hosting fee kepada Formula 1.

"Kami akan menyelenggarakan balapan tanpa perlu membayar biaya registrasi kepada Formula 1. Itu sepenuhnya gratis. Jika ada pengeluaran, itu hanya untuk peningkatan kecil di sirkuit balap yang saat ini digunakan untuk balapan sepeda motor dan aktivitas lainnya," kata Anwar Ibrahim dilansir The Straits Times.

Kembalinya Formula 1 ke Sirkuit Sepang juga menjadi momentum penting bagi Malaysia. Mereka dapat menguji seberapa besar animo penggemar ajang balap tersebut setelah terakhir kali melangsungkan balapan pada 2017. Bukan tidak mungkin, Malaysia kembali menjadi tuan rumah dengan menggunakan nama negara sendiri pada masa mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article