Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengintip Drama di Balik Pemilihan Pelatih Timnas Italia
ilustrasi bola (unsplash.com/Peter Glaser)
  • Kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2026 untuk ketiga kali beruntun memicu restrukturisasi FIGC, dengan Paolo Maldini dan Leonardo ditugaskan mencari pengganti Gennaro Gattuso.
  • Carlo Ancelotti memilih tetap melatih Brasil, Pep Guardiola menolak proyek jangka panjang, sementara pencalonan Andrea Pirlo kandas akibat penolakan terkait kerja samanya dengan perusahaan taruhan Rusia.
  • Maldini dan Leonardo mundur 16 hari setelah ditunjuk. FIGC kemudian memilih Roberto Mancini sebagai pelatih kepala, sedangkan Claudio Ranieri menggantikan Maldini sebagai Direktur Teknik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kegagalan Timnas Italia ke Piala Dunia 2026 memaksa Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) melakukan evaluasi besar-besaran. Pasalnya, ini ketiga kalinya secara beruntun Gli Azzurri absen di turnamen sepak bola 4 tahunan. Ironisnya, proses evaluasi yang diawali dengan pencarian kepala pelatih baru justru diwarnai berbagai drama.

1. Paolo Maldini dan Leonardo memulai perburuan pelatih baru Timnas Italia

Presiden FIGC, Giovanni Malago, menunjuk legenda AC Milan, Paolo Maldini, sebagai direktur teknis. Mantan bek yang mencatatkan 126 caps bersama Timnas Italia ini kemudian mengajak Leonardo Nascimento de Araujo, pesepak bola Brasil yang pernah menjadi rekan setimnya saat sama-sama berseragam Rossoneri. Atas rekomendasi Maldini, Leonardo yang sempat menduduki kursi direktur olahraga Paris Saint-Germain (PSG) pun diangkat sebagai penasihat.

Bersama Leonardo, Maldini mengemban tugas pertamanya, yaitu mencari pelatih baru Timnas Italia untuk menggantikan Gennaro Gattuso. Sebab, pelatih yang kini menangani Lazio itu gagal membawa Gli Azzurri lolos ke Piala Dunia setelah kalah dari Bosnia dan Herzegovina pada final playoff Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa. Tidak lama, Gattuso mengakhiri masa baktinya sebagai pelatih Timnas Italia.

2. Carlo Ancelotti masuk radar utama perburuan pelatih Timnas Italia

Paolo Maldini bersama Leonardo Nascimento de Araujo bergerak cepat untuk mencari sosok yang tepat dalam proyek restrukturisasi Gli Azzurri. Carlo Ancelotti menjadi nama pertama yang didekati Maldini untuk mengisi kursi pelatih Timnas Italia. Sepanjang kariernya, pelatih kelahiran Reggiolo ini pernah menjadi asisten Arrigo Sacchi di Gli Azzurri pada 1992—1995 sebelum menjelma sebagai salah satu pelatih tersukses dengan koleksi 5 gelar juara Liga Champions Eropa dan 5 gelar juara liga elite Eropa, yaitu Serie A Italia, English Premier League, Ligue 1 Prancis, Bundesliga Jerman, dan LaLiga Spanyol.

Meski mendapat tawaran menggiurkan untuk kembali mengabdi di tanah airnya, Ancelotti memilih menolaknya. Dilansir ESPN, pelatih yang kini berusia 67 tahun tersebut berkomitmen melatih Timnas Brasil. Meskipun tersingkir di tangan Norwegia pada perempat final Piala Dunia 2026, Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF) tetap menaruh kepercayaan penuh kepada Ancelotti untuk melanjutkan proyek pembangunan tim menuju Copa America 2028 dan Piala Dunia 2030.

3. Pep Guardiola masuk daftar incaran usai gagal memboyong Carlo Ancelotti

Gagal meyakinkan eks pelatih Real Madrid, Paolo Maldini mengalihkan bidikannya kepada Pep Guardiola. Pelatih asal Spanyol yang sukses mengantarkan Manchester City meraih treble pada 2022/2023 ini bahkan sempat mengadakan pembicaraan resmi dengan FIGC. Demi membujuk Guardiola, Giovanni Malago disebut siap memberikan keleluasaan dalam negosiasi, termasuk menawarkan paket gaji dan kontrak yang lebih besar supaya sang arsitek bersedia memimpin proyek restrukturisasi Timnas Italia.

Upaya membawa pelatih baru kembali menemui jalan buntu ketika Guardiola menolak proyek jangka panjang yang ditawarkan Maldini dan FIGC. Dilansir Sky Sports, dirinya mengaku memang tidak berniat menerima pekerjaan baru, bahkan sebelum masa baktinya bersama The Citizens berakhir. Setelah bertahun-tahun menangani klub elite, mulai dari Barcelona hingga Manchester City, Guardiola ingin beristirahat dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga.

4. Andrea Pirlo hampir menjadi pelatih sebelum terganjal isu geopolitik

Di tengah drama dan ketidakpastian yang menyelimuti proses pencarian arsitek baru, nama Andrea Pirlo kemudian mencuat sebagai salah satu kandidat paling ideal. Legenda Italia tersebut pernah membawa Gli Azzurri memenangkan Piala Dunia 2006 sebagai pemain serta mempersembahkan Coppa Italia dan Piala Super Italia pada 2020/2021 ketika melatih Juventus. Menurut La Repubblica, Pirlo bahkan dilaporkan telah mencapai kesepakatan dengan FIGC untuk menandatangani kontrak berdurasi 4 tahun untuk melatih Timnas Italia.

Sayangnya, kedatangan Pirlo menuju kursi pelatih justru menimbulkan penolakan dari sejumlah pejabat FIGC dan politikus Italia akibat keterkaitannya dengan isu geopolitik. Pelatih yang kini menakhodai United FC Dubai di Uni Emirat Arab ini diketahui menjalin kerja sama sebagai brand ambassador perusahaan taruhan asal Rusia, Fonbet, dan sempat hadir dalam acara promosi yang diselenggarakan di Moskow. Mengingat sikap Italia yang mendukung Ukraina di tengah konflik Rusia-Ukraina, hubungan komersial Pirlo dengan perusahaan Rusia dinilai berpotensi mencoreng citra FIGC sehingga pencalonannya tidak mendapat dukungan penuh dari kalangan internal federasi maupun elite politik.

5. Paolo Maldini dan Leonardo mundur usai penunjukan Andrea Pirlo ditolak

Rencana penunjukan Andrea Pirlo yang tidak mendapat restu mengakibatkan namanya langsung tersingkir dari bursa calon pelatih Gli Azzurri. Akibatnya, proyek jangka panjang yang sudah dirancang Paolo Maldini bersama Leonardo Nascimento de Araujo pun praktis runtuh. Klimaksnya, Maldini dan Leonardo memutuskan mengundurkan diri hanya 16 hari setelah mereka diberikan kepercayaan untuk memimpin proyek restrukturisasi.

Mundurnya dua arsitek yang digadang-gadang menjadi motor kebangkitan Timnas Italia makin memperbesar krisis internal FIGC. Situasi ini memaksa Giovanni Malago mengambil peran lebih besar dalam mencari kepala pelatih baru. Pilihan pun mulai mengerucut pada tiga kandidat yang dianggap paling sesuai dengan identitas permainan Gli Azzurri, yakni Roberto Mancini, Thiago Motta, dan Antonio Conte.

6. Roberto Mancini hadir untuk mengembalikan masa emas Gli Azzurri

Di antara tiga nama yang telah disebutkan tadi, Roberto Mancini akhirnya resmi dipercaya menduduki kursi kepala pelatih Timnas Italia. Walau mewarisi tim yang gagal lolos Piala Dunia 2018, pelatih yang kini berusia 61 tahun tersebut sukses membangkitkan tim raksasa dengan mempersembahkan gelar juara Euro 2020, trofi Kejuaraan Eropa kedua yang dimenangkan Italia sejak 1968. Di bawah kepemimpinannya, Gli Azzurri juga mencatatkan rekor 37 pertandingan beruntun tanpa 1 pun kekalahan selama hampir 3 tahun.

Usut punya usut, kembalinya Mancini sebagai nakhoda Timnas Italia tidak sepenuhnya disambut positif sebagian publik dan media Italia. Hal ini berkaitan dengan kepergian eks pelatih Inter Milan untuk menerima tawaran melatih Timnas Arab Saudi pada Agustus 2023 yang dianggap sebagai bentuk pengkhianatan oleh sejumlah suporter. Di sisi lain, keputusan FIGC untuk mendatangkan Mancini juga dinilai sebagai langkah yang "aman" dan cepat setelah gagal membujuk pelatih-pelatih top dunia, mulai dari Carlo Ancelotti, Pep Guardiola, hingga Andrea Pirlo.

Drama yang terjadi di balik layar FIGC pun mulai mereda setelah Claudio Ranieri ditunjuk menggantikan Paolo Maldini sebagai direktur teknik. Bersama Roberto Mancini yang kembali dipercaya sebagai pelatih, mereka diharapkan mampu memulihkan kejayaan Timnas Italia yang pernah memenangkan empat trofi Piala Dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article