Misi Juara Liga Champions, Inter Dapat Pelajaran Berharga di Bernabeu

- Inter Milan kalah 1-2 dari Real Madrid di Santiago Bernabeu pada laga pembuka Liga Champions 2026/27, setelah kebobolan gol Kylian Mbappe dan Federico Valverde dalam 23 menit awal.
- Kapten Lautaro Martinez menilai start lambat dan hilangnya fokus menjadi penyebab fatal. Inter diminta memperbaiki detail kecil saat menghadapi lawan sekelas Madrid.
- Meski menguasai 59 persen bola dan mencatat 15 tembakan, Inter hanya mencetak satu gol. Lautaro menekankan peningkatan penyelesaian akhir menjelang laga melawan Club Brugge.
Jakarta, IDN Times - Inter Milan yang mengusung misi juara Liga Champions 2026/27 langsung ditampar kenyataan pahit pada laga perdana. Mereka digebuk Real Madrid dengan skor 2-1 dalam lawatannye ke Santiago Bernabeu, Rabu (9/9/2026).
Inter dibobol dua gol cepat saat duel baru berusia 23 menit. Kylian Mbappe menundukkan kiper Josep Martinez lebih dulu pada menit 14, disusul Federico Valverde delapan menit kemudian.
Nerazzurri baru memperkecil kedudukan setelah memecah kebuntuan pada menit 77. Nahas, upaya mereka untuk menghindari kekalahan sirna akibat kembali mengalami kebuntuan hingga peluit panjang berakhir.
1. Start lambat hancurkan skema permainan Nerazzurri
Menurut kapten Lautaro Martinez, start Inter yang cukup lambat menjadi petaka utamanya. Inter harus memetik kekalahan ini sebagai pelajaran berharga, karena sedikit saja kehilangan fokus pada awal laga bisa berujung hukuman fatal, apalagi menghadapi tim sekaliber Madrid.
"Kami harus memperbaiki detail-detail kecil, karena ini baru pertandingan pertama," kata Lautaro Martinez selepas laga, dikutip dari laman resmi UEFA.
2. Inter harus lebih klinis
Secara permainan, Inter sejatinya tampil cukup mengesankan dengan menguasai 59 persen penguasaan bola, melepaskan 15 tembakan yang delapan di antaranya mengarah ke gawang. Catatan peluang ini bahkan melampaui statistik Real Madrid yang hanya melepaskan sembilan tembakan.
Namun, penyelesaian akhir yang buruk serta ketangguhan Thibaut Courtois di bawah mistar gawang membuat dominasi Inter menjadi sia-sia. Untuk menjadi juara, dominasi permainan harus diimbangi dengan penyelesaian akhir yang klinis.
"Courtois adalah salah satu penjaga gawang terbaik di dunia, tetapi kami juga perlu meningkatkan penyelesaian akhir dan seharusnya bisa tampil lebih baik," ucap Lautaro.
3. Masih panjang, ada waktu untuk berbenah
Lautaro mengajak rekan-rekannya untuk segera bangkit dan berbenah. Kekalahan ini bukan berarti mematahkan misi mereka juara, karena baru laga perdana. Selanjutnya, mereka akan menjamu Club Brugge pada matchday kedua, 14 Oktober mendatang.
"Perjalanan masih panjang dan kami harus meraih kemenangan pada laga berikutnya," ujar Lautaro.






















