Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Paradoks Fans Pria Jepang di Piala Dunia 2026
ilustrasi penggemar timnas sepak bola Jepang (unsplash/Tommaso Ubezio)
  • Unggahan FIFA tentang fans pria Jepang yang membersihkan stadion menuai kritik warganet lokal karena dianggap kontras dengan perilaku mereka di rumah tangga.
  • Survei Mainichi dan OECD menunjukkan pria Jepang hanya sedikit berkontribusi pada pekerjaan rumah, sementara perempuan menanggung beban domestik jauh lebih besar meski sama-sama bekerja.
  • Banyak pria Jepang membela diri dengan alasan tuntutan kerja panjang, namun total jam kerja perempuan—termasuk pekerjaan tak berbayar—ternyata lebih tinggi, memicu sorotan soal ketimpangan gender.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Seperti beberapa edisi sebelumnya, fans Jepang kembali disorot karena membersihkan stadion setelah pertandingan Piala Dunia. Dalam unggahan di situs media sosial resmi X milik FIFA, tampak sejumlah fans mereka–yang cukup prominen presentase prianya itu–membungkuk memunguti sampah-sampah penonton lain dan mengumpulkannya dalam kantong-kantong plastik biru berlogo JFA, Federasi Sepak Bola Jepang.

Namun, ada yang lebih menarik dari itu. Unggahan di media sosial justru menuai kritik pedas dan sindiran menohok dari akun-akun berbahasa Jepang. Kebanyakan dari mereka menyoroti kontrasnya sikap pria-pria dalam video tersebut dengan kenyataan dalam kehidupan rumah tangga dan profesional. Apa itu dan mengapa kita perlu membahasnya?

1. Dimulai dari unggahan FIFA yang bikin publik Jepang kesal

Tampaknya, fitur terjemah otomatis yang diperkenalkan X punya peran penting di sini. Semua bermula dari unggahan FIFA yang kemudian dikutip seorang pengguna X dengan bahasa Jepang, yang kemudian muncul di beranda orang-orang dan viral dalam waktu cepat. Si pengguna dengan nama @gui_bata814 itu berkata, “Wahai penggemar sepak bola di seluruh dunia! Pria-pria Jepang tidak pernah bersih-bersih ketika ada perempuan Jepang di sekitar mereka, tetapi sekarang mereka berisik soal itu dalam situasi seperti ini! Jangan tertipu!!!”

Sang pengguna menutup kolom komentarnya, tetapi unggahannya diabadikan melalui tangkapan layar dan membuka forum diskusi yang kali ini tidak hanya melibatkan publik Jepang. Ada beberapa yang membela fans Jepang dan beralasan pada akhirnya memungut sampah di stadion adalah kebiasaan terpuji. Namun, lebih banyak yang sepakat dengan argumen awal bahwa fenomena fans pria Jepang bersih-bersih di stadion sebagai aksi performatif. Kemunafikan itu bahkan menginspirasi pengguna lain membuat poster himbauan yang berisi ilustrasi penggemar Timnas Jepang memungut sampah dan tulisan “Please do it at home!” yang berarti 'Tolong lakukan ini di rumah!'.

2. Berdasar survei, pria Jepang memang masuk golongan yang minim kontribusi dalam pekerjaan rumah

Dilansir media Jepang, Mainichi, survei yang dilakukan pada 2024 oleh pusat riset terafiliasi Japanese Trade Union Confederation (JTUC) di Tokyo dan Kansai menemukan, perempuan masih mendominasi kontribusi dalam pekerjaan rumah, seperti mencuci dan memasak. Survei tersebut melibatkan 996 orang yang sudah berpasangan dan bekerja. Artinya, perempuan tetap dapat porsi dominan dalam pekerjaan rumah terlepas dari pekerjaan profesional mereka.

Survei lain yang dilakukan OECD pada 2021 menunjukkan kecenderungan yang sama. Pria Jepang usia 15–64 tahun hanya menghabiskan rata-rata 46 menit per hari untuk melakukan kegiatan tak dibayar, mayoritas berkaitan dengan pekerjaan rumah dan merawat anggota keluarga. Ini amat jauh selisihnya dengan perempuan dari kelompok usia sama yang harus menghabiskan 208 menit per hari untuk itu. Gara-gara itu pula, OECD juga menemukan selisih upah karena perempuan kerap terpaksa mengurangi jam kerja untuk bisa menyelesaikan tugas rumah dan beban pengasuhan.

3. Tuntutan pekerjaan dijadikan pembelaan

Pembelaan atas minimnya kontribusi pria Jepang di rumah biasanya berkaitan dengan tuntutan pekerjaan. Dalam data OECD 2021 memang disebut, pria Jepang menghabiskan rata-rata 442 menit per hari untuk bekerja (paid work), sementara perempuan hanya 292 menit. Namun ingat, perempuan harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tak berupah (unpaid labor) untuk mereka. Bila ditotal antara pekerjaan berbayar dan tidak berbayar, jam kerja perempuan Jepang pun bisa dibilang lebih panjang dari pria.

Tak pelak aksi fans pria Jepang di Piala Dunia disebut performatif karena kontras dengan kebiasaan mereka di rumah sendiri. Dalam liputan BBC, terlihat bahwa fans Jepang memang sengaja membawa kantong plastik biru dalam jumlah lumayan dan membagikannya kepada sesama penggemar untuk memunguti sampah seusai pertandingan. Tidak jelas pula apakah ini murni inisiatif pribadi penggemar-penggemar itu atau memang sebuah gerakan kolektif yang terorganisasi. Namun, itu berhasil membuat mereka dielu-elukan masyarakat global.

Siapa sangka, dari unggahan FIFA yang tampak tak berbahaya, sebuah diskursus ketimpangan gender menyeruak. Bagaimana menurutmu? Apakah respons pedas warganet Jepang berlebihan atau justru sebuah revelasi yang patut direnungkan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article