3 Pelatih Klub Inggris Juarai Ajang Eropa pada Laga Terakhir

Oliver Glasner menuntaskan pertandingan pemungkasnya sebagai arsitek Crystal Palace dengan kebahagiaan. Sosok asal Austria itu berhasil mempersembahkan trofi Liga Konferensi Eropa berkat kemenangan 1-0 atas Rayo Vallecano pada 27 Mei 2026. Hasil ini sekaligus menjadikan Glasner sebagai pelatih klub Inggris ketiga yang menjuarai kompetisi Eropa pada laga terakhirnya.
1. Oliver Glasner memilih tidak memperpanjang kontraknya di Crystal Palace
Crystal Palace mengalahkan Rayo Vallecano pada final Liga Konferensi Eropa 2025/2026 lewat gol tunggal Jean-Philippe Mateta pada menit 50. Ini menjadi perpisahan yang manis bagi Oliver Glasner yang mengumumkan pada Januari 2026 akan meninggalkan The Eagles ketika kontraknya habis pada akhir musim. Pria yang lahir pada 28 Agustus 1974 tersebut beralasan, dirinya tidak berada dalam kondisi terbaik untuk melanjutkan pekerjaannya. Itu membuat Glasner takut gagal memberikan komitmen serta motivasi penuh.
Glasner layak disebut sebagai pelatih terbaik dalam sejarah Palace. Ia bergabung pada 20 Februari 2024 ketika tim berada di posisi ke-15 di English Premier League. Glasner lantas memastikan mereka selamat dari degradasi dengan bertengger di peringkat sepuluh. Magis sesungguhnya Glasner mula terlihat pada 2024/2025. Ia menghadirkan trofi mayor pertama sejak klub terbentuk pada 1861 dengan menjuarai Piala FA. Tidak berhenti di situ, Glasner juga membuat mereka mengangkat piala Community Shield pada awal musim berikutnya dengan menaklukkan Liverpool.
2. Maurizio Sarri berpisah dengan Chelsea setelah menjuarai Liga Europa 2018/2019
Chelsea berpisah dengan Antonio Conte pada akhir 2017/2018. Mereka kemudian menggantikannya dengan pria asal Italia lain, Maurizio Sarri. Sosok yang lahir pada 10 Januari 1959 itu berhasil mencuri perhatian berkat kinerjanya di Napoli. Kepercayaan penuh Chelsea kepada Sarri bahkan membuat mereka mempersilakannya untuk memboyong andalannya di Napoli, Jorginho. Sarri lantas mempersembahkan trofi Liga Europa pada penghujung 2018/2019 berkat kemenangan telak 4-1 atas Arsenal. Sementara, di Premier League, mereka cuma bertengger di posisi ketiga. Sarri dan Chelsea kalah dari Manchester City pada final di Piala Carabao dan di Piala FA terhenti pada ronde kelima.
Sekitar 2 pekan usai kemenangan atas Arsenal, tepatnya pada 16 Juni 2019, Chelsea justru mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Sarri untuk berpisah. Padahal, kontraknya masih tersisa 2 tahun. Pernyataan resmi klub mengungkapkan, Sarri mengajukan permintaan ini agar bisa dekat dengan orang tuanya yang memang sudah sepuh. Namun, Sarri kembali ke Italia tidak dengan tangan hampa. Ia sudah lebih dulu menerima tawaran untuk menjadi pelatih Juventus. Chelsea tidak keberatan dengan situasi itu. Direktur Chelsea pada saat itu, Marina Granovskaia, bahkan menyampaikan ucapan selamat atas kesempatan besar tersebut. Chelsea sendiri menggantikan Sarri dengan Frank Lampard.
3. Keith Burkinshaw mengundurkan diri setelah membawa Tottenham Hotspur menjuarai UEFA Cup 1983/1984
Pelatih klub Inggris pertama yang menjuai kompetisi Eropa pada pertandingan terakhirnya merupakan sosok lokal. Dia adalah Keith Burkinshaw yang meninggalkan Tottenham Hotspur setelah kemenangan atas Anderlecht lewat adu penalti pada final UEFA Cup 1983/1984. Pria yang lahir di Inggris pada 23 Juni 1935 tersebut mengundurkan diri karena visi yang tidak lagi searah dengan manajemen. Burkinshaw berpisah dengan Spurs usai menukangi mereka sejak 1976.
Era Spurs di bawah asuhan Burkinshaw merupakan salah satu periode tersukses dalam sejarah klub. Sebelum UEFA Cup 1983/1984, Burkinshaw terlebih dahulu mempersembahkan dua trofi Piala FA pada 1980/1981 dan 1981/1982. Menariknya, Spurs mengalami degradasi ke kasta kedua pada musim debut Burkinshaw (1976/1977). Namun, mereka langsung promosi lagi dan merasakan kejayaan tersebut. Burkinshaw sendiri merupakan asisten pelatih Spurs sebelumnya, Terry Neill.
Keberhasilan menjuarai kompetisi Eropa seharusnya menjadi salah satu faktor yang membuat klub dan manajemen klub makin yakin untuk melanjutkan kerja sama. Namun, dengan berbagai alasan yang berbeda, ketiga nama di atas justru memilih hengkang usai pertandingan yang istimewa tersebut.


















