Janji Setia De Zerbi Jika Tottenham Hotspur Terdegradasi dari Premier League

- Roberto De Zerbi menegaskan komitmennya tetap melatih Tottenham Hotspur meski tim terdegradasi, menghormati kontrak hingga Juni 2031 dan menganggap sepak bola lebih dari sekadar posisi klasemen.
- De Zerbi membela para pemain Spurs yang dituding kehilangan semangat, menjelaskan bahwa mereka hanya terguncang akibat rentetan hasil buruk dan masih memiliki kepedulian tinggi terhadap klub.
- Berbekal pengalaman di Benevento, De Zerbi menyebut tekanan laga penentuan degradasi jauh lebih berat dibanding final Eropa karena beban emosional dan mental pemain yang sangat besar.
Jakarta, IDN Times - Nasib Tottenham Hotspur sedang berada di ujung tanduk. Mereka dihantui ancaman degradasi pada laga pamungkas Premier League, bersaing dengan West Ham, Sabtu (24/5/2026) malam WIB.
Dalam laga penentuan, Spurs dan West Ham sama-sama bermain di markas sendiri. The Lilywhites menjamu Everton, sementara West Ham akan meladeni Leeds United. Spurs wajib menang untuk bertahan di Premier League.
Di tengah situasi tersebut, dikutip dari Football London, fans Spurs ternyata khawatir Roberto De Zerbi akan meninggalkan kursi manajer apabila terdegradasi. Lantas, seperti apa sikap De Zerbi kelak?
1. De Zerbi janji setia
De Zerbi dengan tegas membantah bakal angkat koper jika skenario terburuk itu terjadi. Juru taktik berpaspor Italia itu mengungkapkan janji setia, untuk menemani Spurs di Championship. De Zerbi menghormati kontrak panjang yang telah disepakatinya dengan manajemen hingga Juni 2031 mendatang.
"Ya, saya menegaskan semuanya. Bagi saya, tetap merupakan suatu kehormatan untuk menjadi pelatih Tottenham, bahkan jika pada hari Minggu kami bermain untuk memperebutkan tempat di zona degradasi, itu bukan masalah. Saya menganggap sepak bola lebih dari sekadar klasemen, lebih dari sekadar level permainan," kata De Zerbi.
2. Spurs kena mental
De Zerbi juga pasang badan soal tudingan liar dari sebagian pihak, yang menyebut para pemainnya sudah tidak peduli dengan nasib klub. Anak-anak asuhnya, dijelaskan De Zerbi, cuma terguncang hebat akibat rentetan hasil buruk musim ini.
"Itu sama sekali salah. Reaksi mereka memang tidak tepat. Tapi, karena mereka adalah orang-orang yang sensitif, jadi sangat menderita karena situasi ini," ujar eks manajer Brighton and Hove Albion tersebut.
3. Tekanan degradasi lebih mengerikan dari final Eropa
Berbekal pengalamannya saat menukangi tim degradasi, Benevento, pada 2018 lalu, De Zerbi paham betapa horornya tekanan di laga penentuan ini. Dia bahkan berani mengklaim bertarung di laga hidup-mati jauh lebih membuat stres ketimbang bermain di final Liga Europa, seperti yang dialami Spurs tahun lalu.
"Itu adalah pengalaman yang sangat penting bagi saya karena jika Anda bermain untuk bersaing dan menang, pasti ada antusiasme, perasaan yang baik selama seminggu, dalam pertemuan. Tapi, saat Anda berjuang menghindari degradasi dan tim ini dengan semua pemain di depan, tatapan matanya tidak sama seperti ketika memenangkan liga, atau berkompetisi seperti Brighton untuk meraih kualifikasi Eropa," ujar De Zerbi.


















