Pernyataan Ratcliffe Bikin Panas Ruang Ganti Manchester United

- Terkejut dengan komentar RatcliffeDalam komentarnya, Ratcliffe menyebutkan Inggris telah ‘dijajah’ oleh imigran. Pernyataan ini membuat banyak pemain internasional di skuad Manchester United merasa tidak nyaman.
- Paul Parker ikut kritisi pernyataan RatcliffeMantan bek kanan United, Paul Parker, ikut memberikan kritik pedas terhadap munculnya politik dalam sepak bola. Parker menyebut pernyataan Ratcliffe sebagai bukti bahwa batas antara olahraga dan politik semakin kabur.
- Pernyataan klub setelah Ratcliffe minta maafRatcliffe sendiri disebut sudah menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya. Namun, dinamika tak langsung se
Jakarta, IDN Times - Senjata makan tuan, begitulah ungkapan yang pas untuk menggambarkan apa yang terjadi di tubuh Manchester United sekarang. Akibat pernyataan kontroversial pemilik sahamnya, Sir Jim Ratcliffe, situasi internal MU dikabarkan jadi tak stabil.
Pernyataan Ratcliffe terkait imigran, ternyata tak disambut dengan baik oleh sejumlah pemain. Ada keresahan yang muncul akibat pernyataan bos INEOS tersebut dan bisa saja menciptakan kelimbungan baru dalam performa MU yang sedang menanjak.
1. Pemain terkejut dengan komentar Ratcliffe
Pernyataan "Inggris dijajah imigran" yang dilontarkan Ratcliffe, dilansir Metro, telah membuat para pemain MU terkejut. Mereka merasa resah karena pada dasarnya mayoritas pemain Setan Merah merupaka imigran.
Contohnya saat melawan West Ham, ada 14 pemain MU yang statusnya adalah imigran dan hanya tiga yang lahir di Inggris. Jika ditotal, ada 17 pemain asing di skuad MU. Sumber dalam klub menyebutkan, sejumlah pemain merasa tersinggung dan menilai pernyataan Ratlcliffe kurang peka dan dikhawatirkan mengganggu keharmonisan tim yang secara alami sangat multikultural.
2. Paul Parker ikut kritisi pernyataan Ratcliffe
Mantan bek kanan MU, Paul Parker, ikut memberikan kritik pedas terhadap munculnya politik dalam sepak bola yang dipicu pernyataan Ratcliffe. Parker merasa, apa yang dilontarkan Ratcliffe sebagai bukti jika erosi antara batasan politik dengan olahraga sudah mulai kabur. Dalam teorinya di buku Political Football: Regulation, Globalization, and the Market, karya Wyn Grant terbitan 2021, tanda-tanda batasan yang terkikis antara politik dan sepak bola sudah terlihat sejak lama, terutama ketika masa globalisasi di awal abad 21. Hal ini tak terlepas dari kepentingan pemasaran, kebutuhan publikasi, dan misi dari elite-elite sepak bola di dalam klub atau federasi.
"Pikiran pertama saya adalah, tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi, tapi tiba-tiba kita membiarkan politik ikut campur dalam sepak bola. Bahkan sebelum situasi ini, menurut saya itu sudah merusak permainan ini, karena politik dibiarkan masuk ke dalamnya," kata Parker mengutip Metro.
"Sepak bola dulu adalah milik rakyat, terutama kelas pekerja. Itu adalah permainan mereka. Tapi, sekarang sudah diambil alih oleh orang-orang berdasi dan ketika orang-orang seperti itu masuk, politik juga ikut masuk. Sekarang sepertinya mereka justru disambut, dan itu sedang merusak permainan kita," lanjutnya.
3. MU sudah klarifikasi
Ratcliffe sudah menyampaikan permohonan maaf atas pernyataannya. Namun, dinamika tak langsung selesai setelah pernyataan tersebut. Menurut manajer Manchester City, Pep Guardiola, apa yang sudah dilontarkan Ratcliffe tak bisa lagi ditarik dan sudah terlanjur menciptakan kerusakan serta gejolak sosial.
MU mencoba memitigasi krisis dari pernyataan Ratcliffe. Mereka melayangkan pernyataan resmi mengenai identitas klub yang mengusung keberagaman di antara para pemainnya, namun tak menyebutkan Ratcliffe.
"Manchester United bangga menjadi klub yang inklusif dan terbuka untuk semua orang. Kelompok pemain, staf, dan komunitas pendukung kami di seluruh dunia yang beragam mencerminkan sejarah dan warisan Manchester, sebuah kota yang bisa disebut rumah oleh siapa saja," tulis MU dalam lamannya pada Kamis (12/2/2026) waktu setempat.
MU juga menyinggung soal kampanye "All Red All Equal" yang disuarakan sejak 2016, lalu. MU mengklaim telah menanamkan nilai kesetaraan, keberagaman, dan inklusi dalam semua hal yang mereka lakukan.
"Kami tetap sangat berkomitmen pada prinsip dan semangat kampanye tersebut. Nilai-nilai itu tercermin dalam kebijakan kami, juga dalam budaya klub, dan diperkuat dengan pencapaian kami meraih standar kesetaraan yang berlanjut, keberagaman, dan inklusivitas dari Premier League," tulis MU.


















