Piala Dunia 2026, Akhir Tragis Generasi Emas Belgia?

- Belgia tersingkir di perempat final Piala Dunia 2026 usai kalah 1-2 dari Spanyol, menandai akhir pahit bagi generasi emas yang telah mendominasi lebih dari satu dekade.
- Sejumlah pemain senior seperti Courtois, De Bruyne, dan Lukaku diperkirakan akan pensiun dari tim nasional setelah gagal mempersembahkan trofi utama meski selalu difavoritkan sejak 2014.
- Meski era lama berakhir, Belgia menatap masa depan dengan optimisme lewat talenta muda seperti De Ketelaere, Onana, dan Doku yang siap melanjutkan warisan generasi sebelumnya.
Jakarta, IDN Times - Piala Dunia 2026 kembali menghadirkan kisah pahit bagi sebuah generasi emas sepak bola. Setelah era Cristiano Ronaldo bersama Portugal dan Luka Modric dengan Kroasia perlahan menemui akhir, kini giliran Belgia yang harus menerima kenyataan berat.
Langkah Timnas Belgia di Piala Dunia 2026 terhenti di babak perempat final. The Red Devils kalah 1-2 dari Spanyol dalam laga yang berlangsung pada Sabtu (11/7/2026) dini hari WIB.
Gol telat Mikel Merino pada menit 88 menjadi pukulan terakhir bagi Belgia. Momen tersebut sekaligus terasa seperti penutup perjalanan panjang generasi emas yang selama lebih dari satu dekade menjadi wajah utama sepak bola Belgia.
Sejumlah pemain senior yang menjadi fondasi tim sejak Piala Dunia 2014 kini berada di persimpangan karier. Belgia berpotensi memasuki fase regenerasi besar setelah gagal meraih trofi utama.
1. Courtois, Lukaku, hingga De Bruyne berpotensi pensiun di Timnas Belgia
Kegagalan di Piala Dunia 2026 kemungkinan menjadi pertandingan terakhir bagi sejumlah pemain veteran Belgia.
Nama-nama seperti Thibaut Courtois, Romelu Lukaku, Kevin De Bruyne, Axel Witsel, dan Thomas Meunier diprediksi mulai mempertimbangkan masa depan mereka bersama tim nasional.
Para pemain tersebut telah menjadi tulang punggung Belgia sejak Piala Dunia 2014. Mereka melewati berbagai turnamen besar dengan harapan membawa negaranya meraih gelar juara.
Pelatih Belgia, Rudi Garcia, menyadari momen sulit yang harus dihadapi para pemain seniornya. Ia merasa kecewa karena perjalanan para veteran tersebut harus berakhir dengan cara yang menyakitkan.
"Ini sangat disayangkan karena saya pikir semua orang pantas melangkah jauh di Piala Dunia ini," ujar Garcia seusai pertandingan, dikutip dari BBC.
Bagi Belgia, kehilangan pemain seperti De Bruyne dan Courtois bukan sekadar kehilangan kualitas individu. Mereka juga kehilangan pemimpin yang selama bertahun-tahun menjadi simbol kekuatan tim.
2. Kutukan generasi emas Belgia tanpa trofi masih berlanjut
Sejak Piala Dunia 2014, Belgia selalu masuk dalam daftar kandidat juara di berbagai turnamen internasional.
Saat itu, mereka memiliki skuad bertabur bintang. Selain De Bruyne, Courtois, dan Lukaku, Belgia juga diperkuat pemain elite seperti Eden Hazard, Vincent Kompany, Dries Mertens, hingga Radja Nainggolan.
Prestasi terbaik generasi tersebut datang pada Piala Dunia 2018 ketika Belgia finis di posisi ketiga. Namun, pencapaian itu belum cukup untuk memenuhi ekspektasi besar publik.
Belgia juga beberapa kali tampil kuat di Piala Eropa. Mereka mampu mencapai perempat final Euro 2016 dan Euro 2020, tetapi tetap gagal mengangkat trofi mayor.
Kegagalan itu membuat istilah "generasi emas Belgia" selalu disertai pertanyaan besar: mengapa skuad sehebat itu tidak pernah menjadi juara?
Jurnalis sepak bola Spanyol, Guillem Balague, pernah mengkritik label tersebut.
"Untuk menjadi generasi emas, Anda harus memenangkan emas, barulah Anda bisa disebut demikian," katanya.
Meski begitu, perjalanan Belgia juga tidak mudah. Mereka harus bersaing dengan negara-negara kuat seperti Prancis, Spanyol, Inggris, dan Italia yang juga memiliki generasi terbaik pada periode yang sama.
Karena itu, kegagalan Belgia tidak bisa hanya dilihat sebagai kesalahan satu generasi. Persaingan di sepak bola modern memang semakin ketat.
3. Generasi baru Belgia siap lanjutkan warisan De Bruyne Cs
Meski era para legenda mulai berakhir, Belgia tidak sepenuhnya kehilangan harapan.
Tim asuhan Rudi Garcia masih memiliki fondasi kuat membangun kembali kekuatan baru. Dari skuad yang dibawa ke Piala Dunia 2026, terdapat 13 pemain yang masih berusia di bawah 25 tahun.
Salah satu nama yang mencuri perhatian adalah Charles De Ketelaere. Pemain muda tersebut tampil impresif dengan mencetak tiga gol dan menjadi pencetak gol terbanyak Belgia di turnamen kali ini.
Selain De Ketelaere, Belgia juga memiliki pemain muda potensial seperti Amadou Onana dan Jeremy Doku yang diproyeksikan menjadi pemimpin baru tim nasional.
Kekalahan dari Spanyol memang menyakitkan, tetapi Belgia melihat hasil tersebut sebagai bagian dari proses regenerasi.
"Pemain muda akan belajar banyak dari kekalahan ini. Saya rasa kami tidak perlu merasa dipermalukan. Ini adalah era baru bagi kami," kata Rudi Garcia.
Generasi emas Belgia mungkin gagal menghadirkan trofi Piala Dunia. Namun, warisan mereka tetap penting karena berhasil mengangkat standar sepak bola negara tersebut ke level tertinggi.
Kini, tugas berikutnya berada di tangan generasi baru Belgia untuk membuktikan bahwa akhir sebuah era bukan berarti akhir dari mimpi menjadi juara.




















