Polemik Selebrasi Mematung Pemain Aljazair di Piala Afrika 2025

Ada satu sosok menarik di Piala Afrika 2025, tetapi kali ini datang dari tribun penonton. Dilansir BBC, namanya Michel Nkuka Mboladinga, seorang pria asal Republik Demokratik Kongo yang mendadak jadi ikon Piala Afrika 2025 gara-gara konsistensinya jadi “patung” saat menonton pertandingan yang dilakoni negaranya.
Aksi teatrikal yang mengundang perhatian itu ditiru salah satu pemain Aljazair, Mohamed Amine Amoura saat mereka berhasil menyingkirkan Republik Demokratik Kongo pada babak 16 besar (06/01/2026). Namun, bukan dengan penuh hormat, aksi teatrikal balasan itu dilihat sebagian orang sebagai bentuk penghinaan atau lebih tepatnya ketidakpedulian yang fatal. Mengapa?
1. Mboladinga sedang memperagakan sosok penting dalam kemerdekaan RD Kongo
Aksi teatrikal Mboladinga bukan sebuah lelucon. Ia sedang memperagakan salah satu sosok penting dalam sejarah RD Kongo, Patrice Lumumba. Sebagai konteks, Lumumba adalah Perdana Menteri pertama Kongo setelah berhasil merdeka dari koloni Belgia. Sebelum terpilih lewat pemilu pada 1960, Lumumba adalah aktivis dan petinggi Partai Congolese National Movement (MNC).
Tak lama setelah menjabat, Lumumba meninggal secara tragis. Ia menjelma jadi martir setelah tewas di tangan kelompok militan yang melakukan kudeta di bawah pimpinan Mobutu Sese Seko. Tidak sendirian, Mobutu dibantu Belgia dan beberapa sekutunya untuk melakukan penangkapan sampai eksekusi atas Lumumba pada 1961. Tak pelak, ia jadi simbol perlawanan atas kolonialisme di RD Kongo sampai sekarang. Sosoknya diabadikan dalam bentuk patung monumen yang berdiri di ibu
2. Aksi balasan Mohamed Amine Amoura dianggap tone-deaf
Parah, seorang pemain Aljazair merayakan akhir perjalanan RD Kongo di Piala Afrika dengan melakukan selebrasi balasan yang secara langsung ditujukan pada Mboladinga. Ia meniru gaya patung si penonton kreatif itu untuk kemudian menjatuhkan diri ke tanah. Mungkin baginya itu lelucon, tetapi banyak orang yang menganggap itu sebagai aksi kurang terpuji. Kegagalannya membaca situasi dan konteks sejarah bikin publik geram.
Ini karena Lumumba dikenal pula sebagai sosok yang menganut ideologi Pan-Afrika, yakni paham yang mendorong bersatunya masyarakat Afrika melawan penjajahan. Keputusan Mboladinga menghadirkan sosok Lumumba harusnya jadi semacam pemicu persatuan, apalagi momennya turnamen sepak bola se-Afrika. Belum lagi, seperti RD Kongo, Aljazair juga menderita di bawah jajahan Eropa, Prancis lebih tepatnya. Meski bukan pertama yang berhasil merebut kemerdekaan, proses perjuangan kemerdekaan Aljazair adalah yang paling terdokumentasi dan diklaim paling masif serta brutal di seluruh Afrika. Ini yang bikin sikap impulsif Amoura amat disayangkan.
3. Selebrasi provokatif kerap terjadi di arena olahraga
Kasus Mohamed Amine Amoura bukan yang pertama. Selebrasi provokatif dan mengundang kontroversi itu sudah beberapa kali terjadi. Beberapa bahkan berakhir jadi denda dan sanksi larangan bertanding. Namun, tetap saja pemain masih kesulitan mengontrol impuls. Adrenalin yang terpacu saat pertandingan biasanya jadi salah satu faktornya.
Beberapa periset yang diwawancara New Scientist menyebut ini saat ditanya soal aksi impulsif Luis Suarez yang suka menggigit lawan di tengah sengitnya pertandingan. Tak bisa dimungkiri pula bahwa pemain melakukan selebrasi tertentu karena ingin menarik perhatian, biasanya karena muak dengan ejekan media atau penonton/penggemar. Beberapa, sengaja maupun tidak, menggunakan selebrasi sebagai personal branding yang membuat mereka lebih mudah diingat.
Polemik selebrasi tone-deaf Amoura diselesaikan dengan permintaan maaf resminya pada masyarakat RD Kongo. Ini memang insiden yang tidak seberapa besar pemberitaannya, tetapi berhasil membuat kita teringat dua isu sekaligus, yakni legasi kolonialisme dan selebrasi provokatif di arena olahraga.



















