Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Prediksi Inggris vs Kongo: Duel Panas Berbalut Historis Masa Lalu

Prediksi Inggris vs Kongo: Duel Panas Berbalut Historis Masa Lalu
Luka Modric (kiri) berduel dengan Harry Kane (kanan) di laga Grup L Piala Dunia 2026, Kamis (17/6/2026). (Photo by Richard Pelham / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)
Intinya Sih
  • Laga Inggris vs DR Kongo di Piala Dunia 2026 bukan sekadar duel sepak bola, tapi juga sarat makna historis terkait masa lalu kelam yang melibatkan MI6 dan gugurnya Patrice Lumumba.
  • Pelatih DR Kongo, Sébastien Desabre, menegaskan timnya siap tampil disiplin dan penuh motivasi menghadapi Inggris, dengan dukungan pemain yang mengenal gaya cepat Premier League.
  • Thomas Tuchel menyadari Inggris harus bersabar menghadapi pertahanan rapat DR Kongo meski unggul peringkat dunia, karena laga ini akan menguji mental dan kreativitas Three Lions di lapangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Timnas Inggris bersiap melakoni laga krusial demi mengamankan tiket ke babak 16 besar Piala Dunia 2026. Di atas kertas, bagi skuad Three Lions, duel ini merupakan pembuktian taktik dan ambisi besar untuk melangkah lebih jauh di turnamen sepak bola terakbar jagat raya ini.

Namun, bagi publik Republik Demokratik Kongo, duel 90 menit di Mercedes-Benz Stadium, Kamis (2/7/2026) dini hari WIB, memiliki arti yang jauh lebih masif dari sekadar papan skor. Pertandingan ini juga mengungkit kembali atensi publik terhadap catatan sejarah masa lalu yang melibatkan hubungan kedua negara.

Bagi Republik Demokratik (DR) Kongo, dinamika sejarah mencatat adanya peristiwa politik masa lampau yang membekas, salah satunya adalah gugurnya pahlawan nasional mereka, Patrice Lumumba, pada tahun 1961.

Dokumen sejarah dari The Guardian dan investigasi sejarawan Ludo De Witte mencatat, selain keterlibatan Belgia dan CIA, klaim keterlibatan agen MI6 Inggris dalam konspirasi tersebut juga sempat mencuat ke publik, memicu sentimen anti-kolonial yang panjang di bumi Kongo.

Narasi historis inilah yang kembali mencuat ke permukaan dan mewarnai atmosfer menjelang bentrokan kedua tim dalam perebutan tiket 16 besar Piala Dunia 2026.

1. Motivasi historis berkelindan dengan kedisiplinan lapangan

Sentimen historis yang melekat pada publik DR Kongo tersebut seolah bertransformasi jadi suntikan motivasi tersendiri di atas lapangan. Alih-alih terbebani narasi masa lalu, skuad asuhan Ssbastien Desabre ini justru membuktikan kapasitas di sepanjang gelaran Piala Dunia 2026 lewat performa yang disiplin dan militan.

Meski Inggris lebih diunggulkan berkat materi pemain bintang yang berkompetisi di Premier League, Harry Kane dan kolega dipastikan harus bekerja ekstra keras. Sebab, DR Kongo datang dengan motivasi berlipat ganda untuk mencetak sejarah baru di dunia sepak bola modern.

Menanggapi tantangan besar di depan mata, pelatih kepala DR Kongo, Sebastien Desabre, menegaskan bahwa timnya sama sekali tidak gentar menghadapi nama besar Inggris. Pelatih asal Prancis tersebut menilai momentum ini sebagai pembuktian konsistensi anak asuhnya.

"Ini merupakan pertandingan yang sulit yang menanti kami, tetapi bukan sesuatu yang mustahil untuk dihadapi," kata Desabre dalam sesi konferensi pers menjelang laga, dikutip Vavel.

Menurutnya, Kongo telah membuktikan saat menghadapi tim-tim yang dianggap lebih unggul, mampu tampil dengan baik.

"Kami fokus pada kekuatan kami dan kami terus mengikuti jalur yang sudah kami bangun, karena pada tahap kompetisi seperti ini semuanya memang sulit bagi setiap tim. Kami akan memberikan energi, kemampuan, dan kekuatan terbaik kami. Yang terpenting adalah percaya kepada diri kami sendiri," ujarnya.

Desabre juga mengingatkan anak asuhnya, atmosfer ketat fase gugur menuntut konsentrasi penuh sejak menit pertama, sebagaimana yang telah terlihat pada babak sebelumnya.

Pelatih asal Prancis tak menampik skuad Three Lions sangat mewah dan berkualitas, tetapi ia memastikan pasukannya siap tampil habis-habisan di lapangan hijau.

"Tentu saja kami menghormati tim Inggris ini yang memiliki sejumlah pemain hebat, tetapi kami juga memiliki kekuatan yang ingin kami tunjukkan. Para pemain saya akan dengan bangga membela warna Republik Demokratik Kongo," bebernya.

Desabre mengisyaratkan bakal memanfaatkan pemain-pemain yang sudah mengenal krakter kick and rush yang diusung Inggris.

Total ada lima pemain yang merumput di Premier League, salah duanya adalah Yoane Wissa dan Aaron Wan-Bissaka. Mreka sudah dianggap sangat familier dengan karakter permainan cepat ala pemain-pemain Inggris.

2. Tuchel paham Inggris bakal dibuat kesulitan

Inggris boleh saja diunggulkan secara materi pemain dan kemegahan Premier League di atas kertas. Namun, Harry Kane cs wajib waspada penuh karena malam nanti mereka tak hanya menghadapi 11 pemain, melainkan energi dari memori sejarah sebuah bangsa.

Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel sendiri tampaknya sudah memahami masalah terbesar yang menunggu timnya. Kualitas individu Inggris memang superior, tetapi itu tidak otomatis memberi mereka jalan mudah menuju gawang lawan.

Kongo sudah membuktikan diri mampu membuat tim besar kehilangan kenyamanan. Menghadapi Portugal dan Kolombia, mereka menunjukkan kemampuan bertahan dengan sangat rapat, membatasi ruang, dan memaksa raksasa dunia mencari celah yang hampir tidak tersedia.

"Saya tidak yakin apakah ada solusi taktik. Sejujurnya, saya melihat mereka bermain melawan Portugal dan Kolombia, bagaimana mereka mampu membatasi lawan hingga hanya memiliki sedikit peluang," kata Tuchel kepada talkSPORT.

Bagi Inggris, situasi seperti ini bisa menjadi perang kesabaran yang melelahkan. Masalahnya, mereka ingin membangun identitas permainan yang agresif dan mencerminkan intensitas Premier League.

Namun gaya tersebut membutuhkan lawan yang juga mau bermain terbuka. Ketika DR Kongo memilih untuk bertahan, menyerap tekanan, dan bermain demi harga diri bangsa, Inggris dipaksa mencari cara lain yang lebih kreatif.

"Kami harus sadar, ini bisa menjadi pertandingan yang sulit, pertandingan yang menuntut banyak kerja keras. Kami tidak boleh terlalu berharap kepada diri sendiri bahwa kami harus menang dengan gaya yang indah dan spektakuler," ujar eks Manajer Chelsea itu.

3. Inggris unggul ranking dan punya catatan apik lawan wakil Afrika, tapi ...

Di lapangan nanti perbedaan antara tim bagus dan tim juara akan terlihat. Jika DR Kongo mampu bertahan hingga pertandingan memasuki fase akhir, tekanan psikologis yang sangat besar akan muncul di kubu Inggris.

Sebaliknya, satu gol dari Inggris bisa mengubah segalanya karena akan memaksa DR Kongo keluar menyerang dan meninggalkan area pertahanan mereka.

"Ketika hal itu terjadi, saya pikir kita akan melihat versi terbaik dari diri kami. Namun sampai saat itu, ini adalah momen untuk bekerja keras, menerima bahwa kami sedang berada dalam perjuangan yang berat, dan menemukan cara untuk menang," ucap pelatih asal Spanyol itu.

Inggris memang belum pernah bertemu dalam duel resmi melawang Kongo, tapi mereka punya catatan yang sangat superior di Piala Dunia saat menghadapi wakil-wakil dari Afrika.

Dari 10 laga yang sudah dilakoni sepanjang sejarah turnamen ini, mereka masih nirkalah, dengan rincian lima kali menang dan lima imbang.

Walau jarak kekuatan kedua tim di atas kertas cukup jauh, karena Inggris saat ini berada di peringkat empat dunia dan DR Kongo berada di peringkat 41, tapi gap di lapangan nantinya sulit diprediksi.

Inggris harus melewati ujian yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan modal nama besar atau kemegahan Premier League.

Duel nanti bukan tentang siapa yang punya ranking paling bagus. Ini tentang siapa yang lebih kuat menghadapi situasi sulit, dan apakah Inggris punya cukup kesabaran untuk meruntuhkan benteng pertahanan DR Kongo yang diselimuti motivasi sejarah.

Prakiraan susunan pemain Inggris vs RD Kongo di 32 besar Piala Dunia 2026.

Inggris (4-2-3-1): Jordan Pickford; Djed Spence, Ezri Konsa, Marc Guehi, Nico O'Reilly; Elliot Anderson, Declan Rice; Bukayo Saka, Jude Bellingham, Marcus Rashford; Harry Kane.

Pelatih: Thomas Tuchel

RD Kongo (5-3-2): Lionel Mpasi; Aaron Wan-Bissaka, Chancel Mbemba, Axel Tuanzebe, Steve Kapuadi, Arthur Masuaku; Noah Sadiki, Samuel Moutoussamy, Edo Kayembe; Yoane Wissa, Cedric Bakambu.

Pelatih: Sebastien Desabre

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ilyas Listianto Mujib
EditorIlyas Listianto Mujib

Related Articles

See More