Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sambil Menangis, Scaloni Lempar Sinyal Cabut dari Argentina

Sambil Menangis, Scaloni Lempar Sinyal Cabut dari Argentina
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, syok usai kalah di final Piala Dunia 2026 (AFP / Paul Ellis)
Intinya Sih
  • Lionel Scaloni menangis usai Argentina kalah 0-1 dari Spanyol di final Piala Dunia 2026 dan memberi sinyal akan mengakhiri masa baktinya sebagai pelatih.
  • Sejak melatih Argentina pada 2018, Scaloni sukses mempersembahkan dua Copa America, satu Piala Dunia, dan satu Finalissima, namun kini ia mempertimbangkan masa depannya.
  • Scaloni menyebut kekalahan itu sangat menyakitkan dan ia butuh waktu untuk memulihkan diri serta memikirkan langkah selanjutnya setelah kontraknya berakhir di akhir 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, begitu emosional dalam menjalani konferensi pers pascafinal Piala Dunia 2026. Dalam momen tersebut, Scaloni sampai menangis karena gagal mengantarkan Argentina juara secara back-to-back usai kalah dari Spanyol di New York New Jersey Stadium, Senin dini hari WIB (20/7/2026), dengan skor 0-1.

Tak cuma menangis, Scaloni juga mengungkapkan untuk mengakhiri masa baktinya bersama Argentina. Dia mengaku harus memikirkan ulang masa depannya, menyusul kontrak bersama Albiceleste selesai di akhir 2026.

"Saya belum bicara dengan Lionel Messi. Saya juga akan bicara kepada Presiden (AFA). Saya punya ide tentang apa yang mau dijalankan. Saya akan memenuhi kontrak, lalu lihat selanjutnya apa yang terjadi. Faktanya, saya merasa harus memikirkan ulang, karena bisa melakukan hal sebesar ini," ujar Scaloni, dilansir Daily Mirror.

1. Pelatih tersukses Argentina

Scaloni menjadi salah satu pelatih tersukses di Argentina. Sejak menangani Argentina pada 2018 lalu, dia sudah mempersembahkan dua Copa America, satu trofi Piala Dunia, dan satu mahkota Finalissima.

Kesuksesan itu tak membuat Scaloni aman. Justru, dia memilih untuk memikirkan masa depannya setelah kegagalan mengantar Argentina menjadi juara dua edisi beruntun pada 2026.

"Mungkin, kami akan bicara. Saya bersyukur Presiden AFA memberikan kesempatan ini, ada di posisi ini," kata Scaloni sambil menangis.

2. Mimpi yang jadi nyata

Pria 48 tahun tersebut mengaku melatih Argentina merupakan impiannya setelah pensiun sebagai pemain. Dia merasa, hal tersebut menjadi kebanggaan tersendiri, apalagi mampu membawa Argentina menjadi juara dunia.

"Berada di tempat ini, merupakan mimpi yang jadi kenyataan. Kami berusaha hingga momen akhir, memberikan yang terbaik sebagai pelatih dan pemain. Hal yang bisa saya katakan adalah, ini waktunya memikirkan ulang. Ini posisi indah, mimpi jadi nyata, yang tak pernah saya bayangkan dalam hidup," kata Scaloni.

3. Perlu waktu

Kekalahan dari Spanyol, diakui Scaloni, membuatnya sakit hati. Dia merasa perlu waktu untuk memulihkan diri sebelum mengambil keputusan.

"Untuk melanjutkannya, perlu banyak hal yang dilakukan, terutama mengatur ulang, membangun tim seperti ini. Sulit dibentuk kembali dan saya merasa begitu sakit," ujar Scaloni.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More