Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Trump Ikut Campur, FIFA Diduga Langgar Statuta
Logo FIFA (doc. FIFA)

  • FIFA membatalkan hukuman kartu merah Folarin Balogun setelah Donald Trump menghubungi Gianni Infantino, memicu kontroversi soal intervensi politik dalam keputusan sepak bola.
  • Langkah FIFA dianggap melanggar regulasi internal seperti Pasal 14, 66, dan 10 yang mewajibkan sanksi otomatis bagi pemain berkartu merah, meski mereka berdalih memakai Pasal 27 untuk penangguhan.
  • Federasi Belgia, UEFA, dan tokoh sepak bola dunia mempertanyakan integritas FIFA karena keputusan tersebut dinilai mencederai keadilan serta kredibilitas lembaga tertinggi sepak bola internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Keputusan FIFA membatalkan hukuman kartu merah penyerang Tim Nasional Amerika Serikat, Folarin Balogun, jelang laga kontra Belgia pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 memicu gelombang kontroversi di dunia sepak bola.

Polemik semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengakui secara terbuka telah menghubungi Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk meminta agar kasus tersebut ditinjau ulang.

Langkah FIFA langsung menuai sorotan karena dinilai bertentangan dengan regulasi yang selama ini mereka terapkan. Sejumlah federasi sepak bola, tokoh olahraga, hingga mantan petinggi FIFA mempertanyakan independensi badan sepak bola dunia tersebut, terutama karena keputusan itu muncul setelah adanya intervensi politik dari kepala negara.

1. Telepon Donald Trump jadi awal mula kontroversi

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump saat Kongres. (AFP/Kenny Holston)

Sebelumnya, Folarin Balogun menerima kartu merah saat Amerika Serikat mengalahkan Bosnia dan Herzegovina dengan skor 2-0 di 32 besar Piala Dunia 2026. Berdasarkan regulasi FIFA, kartu merah tersebut seharusnya membuat Balogun otomatis menjalani larangan bermain satu pertandingan, sehingga dipastikan absen menghadapi Belgia pada laga perebutan tiket ke perempat final.

Namun, situasi berubah drastis setelah Donald Trump menghubungi Gianni Infantino dan meminta FIFA meninjau kembali keputusan wasit. Trump meyakini Balogun tidak melakukan pelanggaran serius dan menilai insiden itu hanyalah benturan biasa antara dua pemain yang sama-sama berlari dalam kecepatan tinggi. Pengakuan Infantino yang membenarkan adanya komunikasi tersebut semakin memicu kontroversi.

"Ya, saya secara rutin membahas berbagai hal terkait Piala Dunia FIFA dengan Presiden Amerika Serikat, dan dalam persoalan ini saya memang menerima telepon dari Presiden Donald Trump, sebagaimana saya juga menerima telepon dari kepala negara, pejabat pemerintah, pelaku sepak bola, dan pimpinan bisnis dari berbagai negara," ujar Gianni Infantino, dikutip Evening Standard.

2. FIFA dinilai langgar aturan yang dibuat sendiri

ilustrasi Piala Dunia (unsplash.com/myprofittutor)

Keputusan FIFA membatalkan hukuman kartu merah Balogun dinilai bertentangan dengan sejumlah regulasi internal yang selama ini menjadi dasar penegakan disiplin dalam kompetisi internasional. Langkah tersebut memunculkan pertanyaan besar mengenai konsistensi FIFA dalam menerapkan aturan.

Setidaknya terdapat beberapa regulasi yang dianggap berpotensi dilanggar, yakni Pasal 14 dan Pasal 66 Kode Disiplin FIFA, serta Pasal 10 Regulasi Piala Dunia 2026. Ketiga aturan tersebut menegaskan bahwa pemain yang menerima kartu merah wajib menjalani sanksi larangan bermain pada pertandingan berikutnya secara otomatis.

Di sisi lain, FIFA menjelaskan bahwa keputusan tersebut mengacu pada Pasal 27 Kode Disiplin FIFA yang memberikan kewenangan kepada badan peradilan untuk menangguhkan pelaksanaan hukuman disiplin dalam kondisi tertentu. Melalui mekanisme itu, sanksi larangan bermain terhadap Balogun ditunda dengan masa percobaan sehingga ia tetap dapat diturunkan saat menghadapi Belgia.

3. Dunia sepak bola pertanyakan integritas FIFA

ilustrasi Piala Dunia (unsplash.com/Fauzan Saari)

Keputusan FIFA memicu reaksi keras dari berbagai kalangan sepak bola internasional. Federasi Sepak Bola Belgia, UEFA, sejumlah pelatih, hingga para legenda sepak bola mempertanyakan bagaimana hukuman kartu merah dapat dibatalkan setelah adanya campur tangan politik dari seorang kepala negara.

UEFA bahkan menegaskan bahwa keputusan tersebut berpotensi mencederai kredibilitas dan integritas FIFA sebagai otoritas tertinggi sepak bola dunia. Menurut mereka, konsistensi penerapan aturan merupakan fondasi utama untuk menjaga keadilan dalam setiap kompetisi internasional.

"Sepak bola dibangun di atas aturan agar setiap pertandingan berlangsung secara transparan dan adil. Namun, keputusan FIFA yang menganulir kartu merah Folarin Balogun telah melewati batas," bunyi pernyataan resmi UEFA.

Editorial Team

Related Article