Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Cerita Deni Bersaudara Berguru di UFC Performance Institute

Cerita Deni Bersaudara Berguru di UFC Performance Institute
Petarung Indonesia, Deni Arif (kiri) dan Deni daffa (kanan). (Dok. UFC).
Intinya Sih
  • Deni Arif dan Deni Daffa, kakak beradik asal Bengkulu, mendapat beasiswa latihan di UFC Performance Institute Shanghai setelah tampil impresif melawan petarung China pada November tahun sebelumnya.
  • Selama di Shanghai, mereka menikmati fasilitas lengkap seperti pelatih spesialis, program nutrisi presisi, serta sparring dengan petarung juara dari berbagai negara yang meningkatkan kemampuan teknik dan fisik mereka.
  • Keduanya menargetkan untuk menyerap ilmu sebanyak mungkin demi memantapkan diri menuju panggung utama UFC, sambil terus berlatih dan memperkuat mental sebagai petarung profesional Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Jalan panjang menuju panggung oktagon terbesar di dunia, Ultimate Fighting Championship (UFC), kembali dirintis oleh petarung asal Indonesia. Kakak beradik asal Bengkulu, Deni Arif dan Deni Daffa, mendapat kesempatan emas untuk menimba ilmu melalui program beasiswa di fasilitas elit UFC Performance Institute (UFC PI), Shanghai, China.

Lahir dan besar di keluarga yang mendedikasikan hidupnya pada seni bela diri, "Deni Bersaudara" membawa misi besar untuk menyerap segudang ilmu. Sang ayah yang merupakan mantan petarung MMA dan ibu merupakan karateka, membuat darah petarung mengalir deras di nadi keduanya sejak kecil.

Bagi Deni Arif dan Deni Daffa, berlatih di Shanghai membuka mata mereka terhadap standar profesionalisme dalam ekosistem combat sport. Di sana, mereka dimanjakan dengan fasilitas latihan super lengkap, mulai dari pelatih spesialis untuk setiap teknik, fasilitas recovery, hingga asupan nutrisi yang ditakar dengan presisi.

Meski awalnya sempat kewalahan dengan program latihannya, duo jagoan Bengkulu ini perlahan mulai beradaptasi dan menikmati prosesnya. Berbekal tempaan ilmu dan kerasnya uji coba melawan juara-juara dari berbagai negara di UFC PI, mereka kini bersiap memantapkan diri untuk kembali menggebrak arena MMA dan mengejar mimpi untuk mendapat kontrak dari UFC.

Mereka telah mulai berguru sejak April 2026. Berikut adalah wawancara khusus IDN Times bersama Deni Arif dan Deni Daffa, seputar perjuangan mereka di Shanghai.

Kewalahan ikut program latihan di UFC PI Shanghai?

Deni Arif: Program mungkin kita tidak terlalu kewalahan, cuma memang di sini tekniknya lebih spesifik. Kita jadi mengenal dasar dan ternyata bisa dikulik lebih dalam lagi, jadi ilmu kita bertambah. Awal-awal mungkin agak keteteran saat baru dapat teknik baru dan harus dipelajari dulu, tapi lama-lama sudah bisa mengikuti.

Deni Daffa: Awal-awal tentu membutuhkan waktu untuk penyesuaian, tapi sekarang sudah bisa mengejar.

-
Petarung Indonesia, Deni Arif. (Dok. UFC).

Apakah pelatih di sana lebih keras dari Indonesia?

Deni Arif: Pelatihnya sangat profesional, dari mana pun asalnya mereka tetap melatih dengan bagus. Enaknya di sini pelatihnya ada banyak dan spesifik, belum lagi ada pelatih dari China untuk menerjemahkan ke atlet mereka. Jadi dengan banyaknya fighter yang latihan, pengawasannya tetap maksimal.

Bagaimana proses kalian bisa dapat beasiswa UFC PI?

Deni Arif: Kebetulan kami lolos ke sini karena penampilan di bulan November tahun lalu. Saat itu kami diadu antara fighter Indonesia dengan fighter China, dan kami berdua berhasil menang. Pihak UFC PI melihat potensi itu dan menarik kami untuk ikut beasiswa ini.

Apa bedanya fasilitas di Shanghai dan Indonesia?

Deni Arif: Di sini semuanya serba lengkap. Pelatih tekniknya spesifik, ada khusus striking, grappling, gulat, hingga pelatih strength and conditioning. Fasilitas recovery-nya seperti sauna dan massage juga lengkap. Soal makanan luar biasa, nutrisi dan protein atlet benar-benar tercukupi. Ilmu-ilmunya bisa kita serap, walau untuk membawa sarana prasarana sebesar ini ke Indonesia mungkin agak sulit.

Kapan kalian mulai jatuh cinta pada combat sport?

Deni Arif: Dari kecil hari-hari kami sudah biasa nonton combat sport dan MMA. Jon Jones sering main waktu kami masih kecil, jadi udah idola banget dan ada pikiran, "Oh, keren nih yang kayak gini."

Deni Daffa: Kalau jadi fighter MMA kami enggak kaget, soalnya papa kita juga fighter MMA dan mama saya seorang karateka. Mereka bahkan berjodoh di karate. Bapak saya setelah dari karate lanjut ke MMA, lalu ilmunya turun ke kami. Prosesnya panjang.

Bagaimana dinamika latihan sebagai kakak-adik?

Deni Arif: Kebetulan kami satu kelas di 70 kilogram, jadi saat latihan pasangan (*sparring*) ya kami sering berdua. Untuk teknik baru kita saling belajar dan mengingatkan, apalagi istirahat juga satu apartemen, jadi saling membantu.

Deni Daffa: Kalau saya lebih ke tumbuh sama-sama, berproses sama-sama, dan sukses sama-sama. Saya lebih kayak pengin grow up bareng jadi lebih baik.

Apa target utama dari tempaan di UFC PI ini?

Deni Daffa: Intinya sekarang kita ambil ilmu sebanyak-banyaknya, mulai dari teknik, recovery, hingga manajemen berat badan. Kami lengkapi semua "senjata" di badan, terus bertumbuh, karena ujung-ujungnya kita ingin tembus ke UFC.

Deni Arif: Bagaimanapun kita mau target ke mana-mana kalau kemampuan di situ-situ saja pasti agak sulit. Jadi kami memantaskan diri dulu, tingkatkan kemampuan fisik dan teknik maksimal, agar nanti siap main di kasta tertinggi (UFC).

Apa pengalaman paling berharga yang didapat di Shanghai?

Deni Arif: Tentunya soal lawan sparring. Di camp kami di Bengkulu, kami kesulitan dapat lawan sparring sepadan karena hanya kami berdua, sisanya masih junior. Di sini, level petarungnya tinggi, mereka banyak juara di sana-sini dan seumuran dengan kami. Jadi lawan sparring di sini sangat berkualitas, berbeda jauh dengan di Bengkulu.

Deni Daffa, apa ada rencana kembali ke Road to UFC?

Deni Daffa: Yang menentukan kita kembali ke Road to UFC itu pihak UFC-nya. Tapi kalau ditanya kemauan, ya pasti pengin dipanggil lagi. Jadi kita harus berbenah, introspeksi, dan berlatih lebih keras. Harapan saya, saya mau lagi ke Road to UFC.

Apa kelebihan petarung Indonesia di mata kalian?

Deni Daffa: Hampir-hampir samalah kita sama petarung lain. Tapi Indonesia saya rasa lebih unik dan lebih bervariasi, karena latar belakang bela diri yang dimiliki atlet-atlet kita sangat berbeda-beda.

Share Article
Topics
Editorial Team
Satria Permana
EditorSatria Permana

Related Articles

See More