Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ini Alasan Windows Arm Masih Jauh dari Harapan
ilustrasi laptop Windows (pexels.com/Andrey Matveev)
  • Windows Arm dikritik karena sistem terkunci, kompatibilitas aplikasi rendah, dan banyak fungsi dasar laptop gagal berjalan normal saat diuji oleh pengguna awal.
  • Performa gaming di Windows Arm masih lemah; emulator Prism belum stabil dan banyak game populer seperti Dota 2 serta Cyberpunk 2077 menunjukkan hasil tidak konsisten.
  • Qualcomm memperkenalkan cip Snapdragon X2 Elite Extreme dengan arsitektur 18 inti dan grafis Adreno baru yang mampu menyaingi Apple M5 dalam uji performa visual.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Microsoft dan Qualcomm merilis sistem operasi Windows Arm dengan desain locked down pada perangkat keras terbaru. Perusahaan teknologi itu mengunci driver sistem secara sengaja untuk membatasi kebebasan penggunaan ekosistem. Bahkan, produsen chip itu menyembunyikan dokumentasi teknis dari publik untuk menjaga kerahasiaan operasional.

Qualcomm membangun software enablement dengan kualitas sangat buruk pada infrastruktur Windows Arm. Pabrikan silikon itu gagal menjalankan program x86 secara fungsional melalui lapisan perangkat lunak. Sementara, Microsoft dan Dell hanya mencatatkan tingkat kompatibilitas 82 persen pada presentasi penawaran perangkat keras itu.

1. Windows Arm dianggap sama sekali tidak bisa disebut komputer fungsional karena berbagai alasan

ilustrasi laptop Windows (pexels.com/Abdelrahman Ahmed)

Pengamat teknologi mendefinisikan komputer fungsional dengan keberadaan bootloader terbuka untuk memuat berbagai pilihan sistem operasi. Akan tetapi, Qualcomm menghilangkan kemampuan dasar itu pada Windows Arm terbaru. Mereka justru merancang lini produk itu seperti HP cerdas dengan batasan penggunaan yang sangat mengikat.

Pada laptop Surface edisi perdana, ditemukan berbagai kerusakan fungsionalitas dasar saat pemakaian. Laptop dengan Windows Arm itu gagal memproses koneksi internet, keluaran suara, dan masukan keyboard secara normal. Sistem itu bahkan memicu crash saat pengguna menggunakan mouse untuk keperluan navigasi visual.

Tak lupa, insinyur perangkat lunak juga memanipulasi kompatibilitas game dengan menulis ulang program anti-cheat di tingkat kernel Windows Arm. Pendekatan itu berpotensi merusak sistem keamanan saat pengembang merilis pembaruan. Akan tetapi, Qualcomm terus menyembunyikan kelemahan itu dengan menyediakan lingkungan pengujian performa yang sangat terbatas.

2. Banyak game belum didukung ekosistem Arm dan emulator Prism masih kesulitan

ilustrasi laptop Windows (pexels.com/Christina Morillo)

PC Gamer melaporkan kegagalan game Resident Evil Requiem karena keterbatasan emulator Prism pada Windows Arm. Mengingat, ekosistem itu memang belum mendukung banyak game. Kendala peluncuran serupa ditemukan saat menguji game Arc Raiders.

Chip silikon terbaru Qualcomm menghasilkan performa sangat buruk pada game Dota 2. Ada ketimpangan performa sangat besar pada metrik rata-rata dan pencapaian terendah dalam pengujian itu. Kesenjangan metrik itu menghasilkan pergerakan gambar yang sangat tidak konsisten pada layar monitor.

Teknologi frame generation tetap dibutuhkan untuk menjalankan game berat secara lancar pada Windows Arm. Dalam game Cyberpunk 2077, komputasi itu menghasilkan kecepatan 80 frame per second pada resolusi 1080p. Hasil pengujian itu diambil sebagai kesimpulan bahwa Windows Arm belum siap menggantikan komputer gaming sejati.

3. Reliabilitas Windows Arm dipengaruhi besarnya beban sistem dan hilangnya fitur aplikasi

ilustrasi laptop Windows (pexels.com/Andrey Matveev)

Emulator Prism terbukti meningkatkan penggunaan CPU dan RAM secara signifikan pada Windows Arm. Peningkatan beban sistem itu menguras daya baterai laptop dengan sangat cepat dalam masa pemakaian normal. Bahkan, perangkat lunak dengan instruksi AVX berat menurunkan tingkat performa visual secara drastis dalam pengujian operasional.

Lapisan kompatibilitas tambahan menghilangkan sebagian fitur esensial pada aplikasi Solidworks dalam lingkungan pengujian Windows Arm. Selain itu, sistem operasi ini juga gagal menjalankan fungsi spesifik program Matlab. Keterbatasan itu menghalangi dukungan perangkat lunak resmi untuk kedua aplikasi pemodelan ini.

Khusus untuk Windows Arm, pengembang perangkat lunak merilis beberapa program komputasi berformat native. Akan tetapi, pendekatan itu tetap menghilangkan fungsi perlindungan internal tertentu, seperti pada aplikasi Proton VPN. Berbagai kehilangan fungsionalitas aplikasi itu mengurangi reliabilitas komputasi modern untuk skenario penggunaan pekerjaan spesifik.

4. Akan tetapi, Snapdragon X2 Elite Extreme berhasil menghilangkan batasan Windows Arm

ilustrasi laptop Windows (pexels.com/Andrey Matveev)

Untuk Windows Arm terbaru, Qualcomm merancang chip Snapdragon X2 Elite Extreme dengan arsitektur 18 inti. Pabrikan silikon itu melengkapi prosesor ini dengan unit pemrosesan kecerdasan buatan berkapasitas 80 triliun operasi per detik (TOPS). Mesin komputasi terbaru itu berhasil mengalahkan skor performa multi-core chip seri Apple M5 dalam pengujian Cinebench.

Penguji dari PCMag menjalankan program Handbrake untuk mengubah resolusi video 4K menjadi 1080p. Hasilnya, laptop ASUS Zenbook A16 menyelesaikan tugas konversi media itu kurang dari 5 menit. Pencapaian waktu pemrosesan itu menghilangkan batasan performa Windows Arm untuk skenario pembuatan media visual.

Sebagai penyegaran, Qualcomm merombak struktur arsitektur grafis Adreno untuk mendukung DirectX 12.2 Ultimate. Pembaruan komponen internal itu meningkatkan kualitas efisiensi performa dan daya sampai lebih dari dua kali lipat. Oleh karena itu, sistem grafis terintegrasi ini sukses melampaui chip Apple M5 dalam pengujian simulasi visual ray tracing.

Singkat kata, meski ada banyak keluhan reliabilitas, Qualcomm tetap meluncurkan chip Snapdragon X2 Elite Extreme untuk ekosistem Windows Arm sebagai bentuk komitmen nyata. Perusahaan itu merombak struktur arsitektur grafis Adreno secara menyeluruh demi meningkatkan performa komputasi visual. Pembaruan itu membuat prosesor dan ekosistem ini bisa mengalahkan chip Apple M5.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team