Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Hal yang Sebaiknya Jangan Dilakukan pada Steam Deck-mu

4 Hal yang Sebaiknya Jangan Dilakukan pada Steam Deck-mu
ilustrasi Steam Deck (Unsplash/Georgiy Lyamin)
Intinya Sih
  • Steam Deck sukses terjual sekitar lima juta unit sejak 2022 dan dikenal karena fleksibilitasnya sebagai perangkat handheld yang bisa berfungsi layaknya PC mini.
  • Pengguna disarankan berhati-hati saat membuka casing, tidak bergantung penuh pada rating Valve, serta tetap memainkan backlog agar pengalaman gaming lebih maksimal.
  • Menginstal Windows di Steam Deck tidak direkomendasikan karena performa menurun, driver belum optimal, dan antarmuka Windows kurang cocok untuk perangkat handheld.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Steam Deck bukan sekadar konsol, melainkan perangkat handheld yang dirancang Valve untuk menjadi “jembatan” ke ekosistem PC mereka. Sejak dirilis pada 2022 lalu, penjualannya sudah tembus sekitar lima juta unit dan bahkan konsepnya kini berkembang ke perangkat lain seperti Steam Machine. Salah satu hal paling menarik dari Steam Deck adalah fleksibilitasnya karena bisa digunakan dengan sederhana layaknya konsol, tapi juga bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan. Kendati demikian, jika kamu sudah memiliki Steam Deck, ada beberapa hal yang sebaiknya jangan kamu lakukan terhadap perangkat tersebut. Apa saja itu? Berikut daftarnya.

1. Jangan lupa mencabut kartu microSD ketika membuka casing Steam Deck

best-microsd-cards-for-steam-deck-alt.jpg
ilustrasi memasang kartu microSD di Steam Deck (dok. Valve)

Jika kamu berencana membuka casing Steam Deck, jangan lupa keluarkan dulu kartu microSD-nya. Sebab, bodi belakang perangkat ini bisa langsung mengenai slot kartu microSD ketika casing diangkat, dan karena posisi microSD sedikit menonjol di dalam, kartu tersebut bisa patah seketika. Masalah seperti ini ternyata sangat sering terjadi dan bahkan sampai sekarang masih banyak laporan di forum seperti Reddit soal microSD yang rusak gara-gara hal ini. Situasinya juga semakin diperburuk dengan fakta bahwa harga microSD sedang melonjak tajam. Akibatnya, upgrade penyimpanan yang dulu cukup terjangkau sekarang jadi terasa sangat mahal. Selain itu, Steam Deck sendiri juga belum mendukung microSD Express yang lebih cepat.

2. Jangan abaikan backlog

Steam Deck memang masih jadi perangkat yang menyenangkan untuk bermain game, terutama untuk pemain yang memiliki banyak backlog. Di tengah banyaknya game baru di Steam, justru penting untuk tidak melupakan game-game lama yang sudah dibeli namun belum sempat dimainkan. Meski secara performa sudah mulai terasa ketinggalan, game-game indie dan AAA rilisan sebelum 2019 masih bisa berjalan tanpa masalah. Beberapa seri game seperti Like a Dragon (Yakuza), Resident Evil, Nier dan Darksiders tetap nyaman dimainkan di perangkat ini. Kembali memainkan game-game di backlog bukan hanya pilihan hemat, tapi juga cara terbaik menikmati Steam Deck secara maksimal sebelum terlalu fokus mengejar rilisan terbaru.

3. Jangan bergantung pada sistem rating Valve

which-games-run-on-a-steam-deck-valves-rating-system-will-he_e14y.1200.jpg
ilustrasi sistem rating Valve untuk Steam Deck (dok. Valve)

Banyak pengguna Steam Deck akhirnya tidak terlalu percaya pada sistem rating dari Valve. Sistem ini awalnya dibuat untuk menandai apakah sebuah game bisa berjalan lancar di Steam Deck lewat Proton, tapi kenyataannya sering meleset. Bahkan sejak awal rilis, ada game yang diberi label “Unsupported” hanya karena launcher-nya tidak mendukung kontroler, padahal sebenarnya masih bisa dimainkan dengan touchpad atau layar sentuh. Sebaliknya, beberapa game berlabel “Verified” malah performanya buruk, seperti Death Stranding 2 yang terlalu berat ketika rilis dan baru membaik beberapa bulan kemudian setelah berkali-kali mendapat patch. Karenanya, banyak pemain yang kemudian lebih mengandalkan ProtonDB untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat.

4. Jangan menginstal Windows

Steam Deck yang berbasis Linux (SteamOS dari Arch) memang memiliki keterbatasan, terutama soal game dengan anti-cheat seperti Fortnite, Call of Duty, dan Destiny 2 yang sampai sekarang belum benar-benar bisa dimainkan. Memasang Windows di Steam Deck mungkin terdengar seperti solusi yang menarik, tapi sebenarnya tidak direkomendasikan karena pengalaman penggunaan yang didapatkan tidak lebih baik. Selain karena driver yang kurang optimal, performa yang tidak maksimal dan UI Windows yang kurang nyaman di perangkat handheld seperti Steam Deck juga menjadi masalah tersendiri. Pada akhirnya, usaha untuk melakukan dual-boot atau mengganti OS demi bisa memainkan beberapa game tertentu tidak sepadan dengan repotnya.

Itulah tadi ulasan mengenai beberapa hal yang sebaiknya tidak dilakukan terhadap Steam Deck-mu. Semoga ulasan di atas bermanfaat!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More