Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Kekurangan Menggunakan Tablet Sebagai Pengganti Laptop
ilustrasi tablet (Unsplash/Daniel Romero)
  • Tablet membutuhkan keyboard, mouse, hub USB-C, dan aksesori lain agar nyaman untuk produktivitas, sehingga pengalaman mirip laptop bergantung pada periferal tambahan.
  • RAM dan penyimpanan internal tablet umumnya tidak dapat di-upgrade, sementara multitasking sistem operasi mobile masih lebih terbatas dibanding pengaturan jendela di laptop.
  • Tablet kurang stabil saat digunakan di pangkuan dalam waktu lama, serta pilihan game dan akses ke platform gaming lebih terbatas dibanding laptop Windows.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Tablet memang sudah jauh lebih canggih dalam beberapa tahun terakhir, di mana chipset-nya lebih cepat, layarnya lebih memanjakan mata dan fiturnya semakin mendekati pengalaman menggunakan PC atau laptop. Namun, ketika dipaksa menjadi pengganti laptop sepenuhnya, sejumlah keterbatasan tetap muncul, terutama ketika pengguna butuh mengerjakan tugas-tugas yang kompleks, multitasking berat, atau mengelola file dengan lebih leluasa. Berikut beberapa kekurangan dari menggunakan tablet sebagai pengganti laptop.

1. Butuh banyak periferal tambahan agar mirip laptop

ilustrasi tablet (Unplash/Daniel Romero)

Salah satu kelemahan terbesar tablet adalah agar nyaman digunakan untuk sebagian besar aktivitas produktif, kamu hampir pasti perlu menambah sejumlah periferal. Keyboard virtual di layar memang praktis untuk mengetik singkat, tetapi untuk mengetik berjam-jam, keyboard fisik tetap jauh lebih nyaman. Hal yang sama juga berlaku untuk mouse yang lebih efisien untuk pekerjaan seperti copy-paste, memilih teks atau melakukan navigasi dengan presisi. Belum lagi, kamu mungkin masih memerlukan hub USB‑C atau adapter tambahan agar bisa menyambungkan lebih banyak perangkat seperti flashdisk, monitor eksternal, kartu SD, dan sebagainya. Semua aksesori tersebut memang meningkatkan produktivitas, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa pengalaman menggunakan laptop lewat tablet sebenarnya dibangun dari banyak periferal tambahan.

2. RAM dan penyimpanan internal tidak bisa di-upgrade

Hampir semua tablet memiliki komponen internal yang ‘dikunci’. Beberapa contohnya adalah RAM dan penyimpanan internal yang umumnya tertanam (soldered) pada motherboard, sehingga tidak ada opsi untuk meng-upgrade dengan komponen yang lebih besar atau lebih cepat. Sebagai perbandingan, kebanyakan laptop masih memungkinkanmu menambah RAM dan mengganti atau menambah kapasitas penyimpanan internal. Kemampuan upgrade ini penting karena bisa memperpanjang usia pakai sebuah perangkat. Sayangnya di tablet, ketika spesifikasi komponen internalnya sudah tidak lagi memadai untuk kebutuhanmu, satu-satunya jalan adalah membeli tablet baru, alih-alih sekadar meng-upgrade komponen tertentu.

3. Multitasking dibatasi oleh sistem operasi mobile

ilustrasi tablet (Unplash/Walls.io)

Mayoritas tablet saat ini memang menonjolkan fitur multitasking seperti split-screen, floating windows hingga mode desktop. Fitur-fitur ini sangat membantu, misalnya ketika kamu menulis dokumen sembari mengecek referensi di browser atau aplikasi lain. Namun, pengalaman multitasking di tablet masih tidak sefleksibel laptop yang menjalankan Windows atau macOS, di mana kamu bisa mengubah ukuran, menumpuk dan mengatur banyak jendela dengan lebih leluasa. Sistem operasi mobile seperti iPadOS atau Android cenderung membatasi berapa banyak aplikasi yang bisa tetap aktif secara bersamaan, dan meski ada fitur seperti Samsung DeX yang mampu menciptakan pengalaman menggunakan sistem operasi desktop, fitur itu tetap terikat pada batasan sistem Android.

4. Tidak nyaman ketika digunakan sambil dipangku

Dari sisi kenyamanan, tablet juga memiliki kelemahan, terutama jika kamu berencana menggunakannya berjam-jam setiap hari. Laptop dirancang sebagai satu perangkat utuh di mana keyboard, trackpad dan layar terhubung oleh engsel sehingga stabil ketika digunakan sambil dipangku. Tablet di sisi lain, sangat bergantung pada aksesori seperti stand dan keyboard detachable yang kestabilannya ketika dipangku sangat bergantung pada kualitasnya. Kombinasi stand dan keyboard eksternal butuh posisi tertentu agar tidak mudah goyang atau miring, sehingga jauh dari kata nyaman. Selain itu, ukuran layar yang lebih kecil juga membuat teks dan UI terlihat lebih padat, yang bisa memicu lebih banyak penyesuaian posisi duduk atau meningkatkan rasa tidak nyaman ketika digunakan dalam waktu yang lama.

5. Pengalaman bermain game di tablet belum bisa menggantikan PC atau laptop

ilustrasi tablet (Unplash/I'm Zion)

Jika kamu membeli perangkat dengan pertimbangan untuk bermain, tablet berada di posisi yang kurang menguntungkan dibandingkan laptop. Android dan iPadOS memang memiliki banyak game yang dibuat khusus untuk keduanya, tetapi pilihannya masih jauh lebih sedikit daripada yang tersedia di PC. Laptop berbasis Windows memberimu akses ke berbagai toko game digital seperti Steam, Epic Games Store, dan Xbox, serta kebebasan menginstal game dari banyak sumber lain. Kendati demikian, tablet tetap bisa diandalkan untuk bermain game, terutama untuk bermain game mobile, game konsol lawas menggunakan emulator atau mengakses layanan cloud gaming. Selain itu, ukurannya yang ringkas dan mudah dibawa juga membuat tablet sangat enak untuk digunakan bermain game di mana pun.

Demikian tadi ulasan mengenai beberapa kekurangan dari menjadikan tablet sebagai pengganti laptop. Tetap tertarik mengalihfungsikan tablet-mu sebagai laptop setelah membaca ulasan di atas?

Curated For You

Editorial Team

Related Article