Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Sony Tidak Merilis Smartphone Murah seperti Samsung?
potret smartphone Sony Xperia (pixabay.com/thetejeshwarmagar)
  • Sony memilih fokus pada segmen premium dengan menjaga citra brand dan kualitas tinggi, berbeda dari Samsung yang menjangkau semua lapisan pasar.
  • Standar desain, material, dan teknologi kamera Sony membuat biaya produksi tinggi sehingga sulit bersaing di pasar smartphone murah.
  • Skala produksi kecil serta strategi bisnis selektif membuat Sony lebih memilih mempertahankan lini produk eksklusif daripada masuk ke segmen entry-level yang kompetitif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Industri smartphone dipenuhi persaingan ketat dari berbagai merek yang menawarkan produk di semua segmen harga. Berbagai perusahaan termasuk Samsung berlomba menghadirkan perangkat murah dengan spesifikasi menarik untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Salah satu yang cukup menarik perhatian adalah Sony. Perusahaan asal Jepang ini dikenal lewat lini Xperia yang cenderung bermain di kelas menengah hingga premium. Sejak sekitar 10 tahun lalu, Sony tak lagi memproduksi HP murah seperti seri Xperia E. Kenapa begitu? Berdasarkan referensi dari beberapa sumber, berikut sederet alasan Sony tak pernah lagi merilis HP entry-level.

1. Sony berfokus pada segmen premium

potret Sony Xperia (pixabay.com/ys-park-680363)

Sony memosisikan lini smartphone sebagai produk premium dengan ciri khas tersendiri. Xperia dirancang untuk menghadirkan pengalaman multimedia, terutama dalam hal layar dan audio berkualitas tinggi. Strategi ini membuat Sony lebih memilih menjaga citra brand dibandingkan mengejar volume penjualan dari segmen murah.

Pilihan tersebut berbeda dengan Samsung yang menyasar semua lapisan pasar melalui seri Galaxy A hingga Galaxy S. Sony tampaknya lebih nyaman berada di ceruk pengguna yang menghargai kualitas dibanding harga terjangkau. Dampaknya, produk murah tidak menjadi prioritas utama.

2. Menekankan pada standar kualitas tinggi

potret Sony Xperia (pixabay.com/jeshoots-com)

Standar kualitas Sony terkenal tinggi, terutama dalam hal desain, material, dan teknologi kamera. Berbagai komponen yang digunakan memiliki standar industri profesional, termasuk sensor kamera yang juga dipasok ke brand lain. Hal ini secara langsung meningkatkan biaya produksi.

Harga jual yang lebih tinggi menjadi konsekuensi logis dari kualitas tersebut. Upaya menekan harga untuk masuk ke pasar low-end berpotensi mengorbankan standar yang selama ini dijaga. Risiko penurunan citra brand menjadi pertimbangan besar bagi Sony.

3. Skala produksi yang berbeda

potret Sony Xperia (pixabay.com/ys-park-680363)

Samsung memiliki keunggulan besar dalam skala produksi global. Perusahaan asal Korea Selatan itu mampu memproduksi perangkat dalam jumlah masif sehingga biaya per unit bisa ditekan. Efisiensi tersebut memungkinkan Samsung menjual HP murah dengan margin yang tetap menguntungkan.

Sony tidak memiliki skala produksi sebesar Samsung di sektor smartphone. Volume penjualan yang lebih kecil membuat biaya produksi per unit relatif lebih tinggi. Kondisi ini menyulitkan Sony untuk bersaing di segmen harga rendah.

4. Strategi bisnis Sony lebih selektif

potret Sony Xperia 1 VII (sony.co.uk)

Sony tidak lagi menjadikan smartphone sebagai bisnis utama seperti sebelumnya. Fokus perusahaan lebih tersebar ke berbagai sektor lain seperti kamera, bisnis hiburan, dan konsol game. Divisi mobile akhirnya dijalankan dengan cara lebih selektif dan efisien.

Alih-alih mengejar pangsa pasar besar, Sony memilih mempertahankan lini produk dengan identitas kuat. Strategi tersebut membuat jumlah model yang dirilis lebih sedikit dan target pasar menjadi lebih spesifik. Segmen murah dianggap tidak sejalan dengan arah bisnis tersebut.

5. Persaingan ketat di segmen entry-level

potret smartphone flagship Sony (sony.co.id)

Pasar smartphone murah saat ini sangat kompetitif dengan kehadiran banyak brand dari China. Merek seperti Xiaomi, Realme, dan lainnya menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga agresif. Kondisi tersebut jelas membuat margin keuntungan di kelas entry-level menjadi sangat tipis.

Masuk ke segmen tersebut berarti Sony harus bersaing dengan strategi harga yang ekstrem. Peluang untuk mendapatkan keuntungan besar menjadi lebih kecil dibandingkan risiko yang dihadapi. Oleh karena itu, Sony lebih memilih bermain aman di segmen yang lebih menguntungkan.

Keputusan Sony untuk tidak merilis smartphone murah bukan tanpa alasan. Faktor citra brand, biaya produksi, hingga strategi bisnis menjadi pertimbangan utama dalam menentukan arah produk. Menariknya, divisi smartphone Sony tetap bertahan hingga sekarang meski pasarnya tidak besar dan cenderung segmented.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team