Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Kesalahan saat Membeli Laptop Pertama yang Sering Bikin Menyesal

5 min read
5 Kesalahan saat Membeli Laptop Pertama yang Sering Bikin Menyesal
ilustrasi laptop (Pexels.com/Jakub Zerdzicki)
  • Pembeli laptop pertama perlu menyesuaikan prosesor dengan kebutuhan, sambil menilai generasi CPU, RAM, penyimpanan, GPU, dan aplikasi yang akan digunakan.
  • Menghemat berlebihan pada RAM dan penyimpanan dapat membatasi multitasking serta kapasitas data; periksa juga kemungkinan upgrade karena banyak komponen modern disolder.
  • Kualitas layar, baterai nyata, bobot, ukuran, dan konstruksi perlu dinilai bersama spesifikasi utama agar laptop nyaman, tahan digunakan, dan sesuai mobilitas harian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Membeli laptop pertama bisa terasa membingungkan. Ada banyak pilihan merek, prosesor, RAM, kapasitas penyimpanan, ukuran layar, hingga fitur tambahan yang ditawarkan dengan harga berbeda-beda. Bagi orang yang belum terlalu memahami spesifikasi laptop, hal tersebut justru bisa membuat pilihan semakin sulit.

Tidak sedikit orang akhirnya membeli laptop karena tergiur harga murah atau spesifikasi yang terlihat tinggi, tetapi baru menyadari kekurangannya setelah digunakan sehari-hari. Padahal, laptop bukan perangkat yang biasanya diganti setiap beberapa bulan. Karena itu, kesalahan kecil saat memilih bisa terasa cukup lama. Berikut lima kesalahan yang sebaiknya dihindari ketika membeli laptop pertama.

  1. 1. Membeli laptop hanya karena prosesornya terlihat bagus

    sedang pakai laptop
    ilustrasi menggunakan laptop (Pexels.com/Mikhail Nilov)

    Nama prosesor sering menjadi salah satu hal pertama yang diperhatikan ketika seseorang mencari laptop. Misalnya, pembeli langsung menganggap laptop dengan Core i7 pasti lebih baik daripada Core i5 tanpa melihat komponen lainnya. Padahal, prosesor bukan satu-satunya faktor yang menentukan pengalaman menggunakan laptop. RTINGS menjelaskan bahwa pemilihan laptop sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan, termasuk CPU, RAM, penyimpanan, layar, baterai, dan aspek lainnya.

    HP juga menjelaskan bahwa kebutuhan prosesor berbeda berdasarkan penggunaan. Laptop untuk browsing, dokumen, dan pekerjaan ringan tidak membutuhkan spesifikasi yang sama dengan perangkat untuk video editing, gaming, atau pekerjaan profesional. Karena itu, jangan hanya melihat label Core i5, Core i7, Ryzen 5, atau Ryzen 7. Perhatikan juga generasi prosesor, kapasitas RAM, jenis penyimpanan, GPU, serta kebutuhan aplikasi yang akan digunakan.

  2. 2. Menghemat terlalu banyak di RAM dan penyimpanan

    sedang memakai laptop
    ilustrasi memakai laptop (pixabay.com/This_is_Engineering)

    Harga murah memang menarik, terutama bagi pembeli laptop pertama. Namun, memilih kapasitas RAM dan penyimpanan yang terlalu kecil bisa membuat laptop terasa cepat terbatas. Microsoft menjelaskan bahwa RAM berpengaruh terhadap kemampuan komputer menjalankan banyak aplikasi secara bersamaan. Untuk penggunaan ringan, 8 GB masih dapat digunakan, sedangkan kebutuhan seperti editing foto dan video dapat membutuhkan 16 GB atau lebih.

    RTINGS merekomendasikan setidaknya 16 GB RAM untuk laptop Windows, terutama jika pengguna ingin melakukan multitasking tanpa mudah mengalami perlambatan. Selain itu, perhatikan apakah RAM dan penyimpanan dapat di-upgrade. Banyak laptop modern menggunakan komponen yang disolder sehingga tidak selalu mudah diganti. Laptop dengan komponen yang dapat diganti dapat memberikan fleksibilitas lebih panjang karena pengguna bisa melakukan upgrade ketika kebutuhan meningkat.

    Penyimpanan juga perlu diperhatikan. Microsoft menyebut kapasitas 256 GB hingga 1 TB atau lebih dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Pengguna yang menyimpan banyak foto, video, dan dokumen tentu membutuhkan kapasitas lebih besar. Sementara itu, pengguna yang banyak memanfaatkan penyimpanan cloud mungkin tidak membutuhkan kapasitas sebesar itu.

  3. 3. Mengabaikan kualitas layar karena terlalu fokus pada spesifikasi

    bekerja pakai laptop
    ilustrasi bekerja pakai laptop (Pexels.com/CoWomen CoWomen)

    Salah satu bagian yang juga sering dilupakan pengguna saat membeli laptop pertama adalah kualitas layar. Padahal, layar menjadi bagian yang terus dilihat selama menggunakan laptop. RTINGS menyebut resolusi, tingkat kecerahan, refresh rate, jenis panel, gamut warna, akurasi warna, dan kemampuan menangani pantulan sebagai beberapa aspek yang perlu diperhatikan.

    Laptop memiliki beberapa jenis panel, di antaranya IPS, OLED, atau Mini LED. OLED dan Mini LED memiliki keunggulan dalam hal kontras dan kualitas gambar, tetapi bukan berarti selalu lebih baik untuk semua pengguna. Pilihannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan, misalnya pekerjaan desain atau editing video. Jangan sampai uang lebih banyak dihabiskan untuk prosesor, tetapi layar yang digunakan setiap hari justru kurang nyaman. Sebelum membeli, perhatikan setidaknya resolusi, kecerahan, ukuran layar, dan jenis panel.

  4. 4. Terlalu percaya pada klaim daya tahan baterai

    lagi pakai laptop
    lagi pakai laptop (Pexels.com/Startup Stock Photos)

    Daya tahan baterai sering ditulis dalam bentuk angka yang terlihat meyakinkan. Misalnya, sebuah laptop diklaim mampu bertahan belasan jam. Namun, angka tersebut tidak selalu menggambarkan pengalaman penggunaan sehari-hari. Intel menjelaskan bahwa daya tahan baterai dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk ukuran dan tingkat kecerahan layar serta jenis prosesor yang digunakan. Intel juga menyarankan calon pembeli melihat estimasi produsen sekaligus membaca ulasan untuk mengetahui performa baterai dalam penggunaan nyata.

    Dell menyarankan calon pembeli tidak hanya melihat klaim pabrikan. Ulasan dari pengguna yang sudah memakai terdahulu dapat membantu memberikan gambaran mengenai performa baterai di kondisi penggunaan sebenarnya. Karena itu, jangan langsung menganggap laptop dengan klaim baterai 15 jam pasti bisa digunakan selama itu. Aktivitas seperti video editing, bermain game, penggunaan layar dengan tingkat kecerahan tinggi, dan aplikasi berat dapat menguras baterai lebih cepat.

  5. 5. Tidak memikirkan bobot, ukuran, dan build quality

    ilustrasi sedang bekerja pakai laptop
    ilustrasi sedang bekerja pakai laptop (Pexels.com/Lukas Blazek)

    Kesalahan terakhir adalah hanya memperhatikan spesifikasi utama tanpa memikirkan bagaimana laptop akan digunakan sehari-hari. Coba bayangkan jika laptop sering dibawa ke kampus atau kantor. Maka, bobot dan ukuran perangkat tentu menjadi penting. Laptop yang ringan akan memudahkan pengguna untuk bepergian. Selain itu, memilih laptop dengan ukuran yang sesuai juga penting agar perangkat tetap nyaman dibawa dan digunakan.

    Kualitas build juga perlu diperhatikan. RTINGS menjelaskan bahwa kualitas konstruksi dapat memengaruhi ketahanan dan kenyamanan penggunaan laptop. Bagian seperti engsel, penutup layar, serta area keyboard perlu terasa kokoh dan tidak mudah melengkung. Material seperti aluminium juga tidak selalu menjamin laptop lebih tahan lama karena kualitas konstruksi secara keseluruhan tetap penting.

    Memilih laptop pertama sebenarnya tidak harus serumit yang dibayangkan. Kuncinya adalah memahami kebutuhan penggunaan sebelum melihat merek dan spesifikasi. Membeli laptop sebaiknya tidak hanya berpatokan pada satu spesifikasi. Performa, RAM, penyimpanan, layar, baterai, portabilitas, dan konektivitas perlu dilihat sebagai satu kesatuan. Jadi, sebelum mengeluarkan uang, tentukan terlebih dahulu untuk apa laptop tersebut akan digunakan. Dengan begitu, kamu tidak perlu membayar mahal untuk fitur yang tidak dibutuhkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More