Upaya Apple Tahan Harga iPhone 18 meski Harga Memori Naik

- Apple melakukan negosiasi harga memori secara kuartalan untuk menahan lonjakan biaya produksi iPhone 18.
- Apple berada dalam posisi leverage di tengah krisis pasokan memori, mampu mengamankan suplai dan menyerap biaya untuk menjaga harga jual produk.
- Apple memilih untuk menyerap biaya kenaikan komponen demi menjaga stabilitas harga iPhone 18 dan mengejar pangsa pasar melalui ekosistem layanan.
Kelangkaan DRAM dan NAND diperkirakan memberi tekanan besar bagi industri smartphone pada 2026. Meski harus menghadapi kenaikan biaya memori, Apple disebut berupaya menahan harga jual iPhone 18 agar tidak mengalami lonjakan. Upaya tersebut dilakukan di tengah meningkatnya harga komponen yang menjadi salah satu faktor utama biaya produksi iPhone.
Informasi ini diungkapkan oleh analis Apple, Ming-Chi Kuo, melalui akun X miliknya pada 28 Januari 2026. Ia menjelaskan bahwa lonjakan harga memori dipicu oleh terbatasnya pasokan dan pergeseran fokus produsen chip ke kebutuhan server AI. Situasi ini berpotensi mendorong kenaikan harga smartphone secara global. Lantas, strategi apa yang disiapkan Apple untuk meredam dampak tekanan tersebut? Berikut penjelasannya!
1. Apple kini melakukan negosiasi harga memori secara kuartalan

Mengutip MacRumors, Jumat (31/1/2026), analis Ming-Chi Kuo mengungkapkan bahwa Apple kini menegosiasikan harga memori dengan pemasok setiap kuartal (per tiga bulan). Hal ini berbeda dari sebelumnya yang dilakukan per enam bulan. Perubahan pola ini membuat dampak kenaikan harga lebih cepat tercermin dalam struktur biaya produksi iPhone. Pada kuartal pertama tahun fiskal 2026, harga LPDDR dilaporkan meningkat sekitar 10 hingga 25 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tren kenaikan tersebut diperkirakan masih akan berlanjut pada kuartal kedua.
Tak hanya DRAM, harga NAND flash juga ikut mengalami kenaikan, meski terbatas. Lonjakan biaya komponen ini secara langsung menekan margin kotor iPhone. Dalam kondisi normal, tekanan seperti ini biasanya mendorong produsen untuk menyesuaikan harga jual. Namun, Apple disebut memilih strategi berbeda dengan menyerap sebagian kenaikan biaya tersebut demi menjaga stabilitas harga produk.
2. Posisi leverage Apple di tengah krisis pasokan memori

Apple dinilai berada dalam posisi yang lebih kuat dibandingkan produsen smartphone lain di tengah ketatnya pasokan memori global. Ming-Chi Kuo mengungkapkan bahwa banyak merek non-AI mengalami kesulitan memperoleh pasokan memori, bahkan ketika bersedia membayar lebih mahal. Di saat yang sama, produsen chip lebih memprioritaskan permintaan dari industri server AI karena menawarkan margin keuntungan yang lebih tinggi. Akibatnya, ketersediaan memori untuk sektor smartphone semakin terbatas.
Di sisi lain, Apple mampu mengamankan suplai berkat skala pemesanan besar dan hubungan jangka panjang dengan pemasok. Kemampuan mengunci suplai ini mencerminkan kuatnya daya tawar Apple dalam rantai pasok global. Kondisi tersebut membuat Apple dapat menjaga kelangsungan produksi iPhone tanpa gangguan berarti. Keunggulan ini juga memberikan fleksibilitas bagi Apple untuk menahan harga jual produknya di tengah tekanan biaya komponen.
3. Apple memilih untuk menyerap biaya dan mengejar pangsa pasar

Menurut Ming-Chi Kuo, arah strategi Apple dalam merespons lonjakan biaya memori semakin jelas. Perusahaan memilih menyerap kenaikan harga komponen, meskipun langkah tersebut berpotensi menekan margin laba kotor iPhone dalam jangka pendek. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas harga iPhone 18 di pasar. Pendekatan tersebut dinilai krusial guna mempertahankan daya saing, terutama ketika banyak pesaing diperkirakan akan menaikkan harga jual.
Kuo menegaskan bahwa kenaikan biaya memori memang akan berdampak langsung pada margin kotor iPhone. Namun, Apple disebut memanfaatkan ketidakstabilan pasar sebagai peluang strategis. Berkat mengamankan pasokan chip, menyerap kenaikan biaya, dan memperluas pangsa pasar, Apple diyakini dapat menutup tekanan margin tersebut di kemudian hari melalui bisnis layanan. Pernyataan ini disampaikan Kuo, seperti yang dikutip MacRumors, 31 Januari 2026.
Isu kenaikan harga memori juga berpotensi dibahas dalam laporan keuangan Apple pada 30 Januari, yang mencakup kuartal pertama tahun fiskal 2026 periode Oktober hingga Desember 2025. Kuo memperkirakan Apple akan berupaya menghindari kenaikan harga iPhone semaksimal mungkin. Setidaknya, harga awal model iPhone 18 diprediksi akan tetap sama.
Lebih lanjut, Apple dinilai tidak hanya mengandalkan penjualan perangkat keras sebagai sumber pendapatan utama. Ekosistem layanan seperti App Store, iCloud, dan Apple Music menjadi penopang pendapatan jangka panjang yang mampu meredam tekanan margin. Melalui strategi ini, Apple dapat memanfaatkan kondisi pasar yang penuh ketidakpastian untuk memperkuat posisi dan memperluas pangsa pasar. Kuo menilai pendekatan tersebut sebagai bagian dari “playbook” klasik Apple dalam menghadapi krisis komponen.
4. Apple bukan pertama kali menekan harga jual iPhone

Langkah menahan harga bukanlah strategi baru bagi Apple. Saat meluncurkan iPhone 17, perusahaan tetap mempertahankan harga model dasar di kisaran 799 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp13,4 juta, meskipun biaya komponen saat itu juga mengalami kenaikan. Keputusan tersebut menunjukkan upaya Apple menjaga daya tarik produk di segmen entry-level. Strategi ini terbukti efektif dalam mempertahankan minat konsumen.
Meski demikian, Apple tetap melakukan penyesuaian pada lini tertentu. Varian iPhone 17 Pro mengalami kenaikan harga sebesar 100 dolar seiring peningkatan kapasitas penyimpanan minimum menjadi 256 GB. Pola ini menegaskan bahwa Apple cenderung menjaga harga awal tetap stabil, sambil menyesuaikan banderol pada segmen premium. Pendekatan serupa diperkirakan akan kembali diterapkan pada iPhone 18.
5. Risiko kenaikan harga masih mengintai

Meski perhatian saat ini banyak tertuju pada kenaikan harga memori, Kuo menegaskan bahwa potensi risiko tidak hanya datang dari sektor tersebut. Sejumlah komponen lain, termasuk material layar dan berbagai komponen pendukung, juga berpeluang mengalami keterbatasan pasokan. Lonjakan permintaan dari industri server berbasis AI dinilai terus memberi tekanan pada rantai pasok global. Apabila kondisi ini berlanjut, biaya produksi smartphone berpotensi meningkat lebih jauh.
Tekanan biaya komponen tersebut diperkirakan menjadi salah satu isu utama dalam laporan keuangan Apple untuk kuartal pertama fiskal 2026. Pernyataan manajemen Apple dalam agenda earnings call berpotensi memengaruhi sentimen pasar secara luas. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada pergerakan saham Apple, tetapi juga sektor teknologi secara keseluruhan. Meski peluang penyesuaian harga masih terbuka, saat ini Apple dinilai tetap berupaya keras menahan harga iPhone 18 agar tetap stabil.

















