Apa Perbedaan ESRB dan PEGI dalam Memberikan Rating Game?

- ESRB digunakan di Amerika Utara, sedangkan PEGI berlaku di Eropa dan beberapa wilayah lain untuk mengatur klasifikasi usia game secara resmi.
- ESRB memakai kategori berbasis teks seperti Everyone hingga Adults Only, sementara PEGI menggunakan angka usia 3 hingga 18 agar lebih mudah dipahami.
- Keduanya menilai konten sensitif dengan metode berbeda: ESRB memakai deskriptor teks rinci, sedangkan PEGI menggunakan ikon visual dan kuesioner bagi pengembang.
Jauh sebelum kemunculan Indonesia Game Rating System (IGRS), sebenarnya sudah ada lembaga rating resmi yang menangani klasifikasi usia secara internasional. Dua lembaga yang paling sering muncul adalah ESRB dan PEGI yang memiliki pendekatan berbeda dalam klasifikasi. Perbedaan tersebut bagi sebagian orang mungkin agak membingungkan. Sebab, satu game bisa memiliki label usia berbeda tergantung wilayahnya.
ESRB banyak digunakan di Amerika Utara, sedangkan PEGI dipakai di Eropa dan beberapa wilayah lain. Keduanya sama-sama menilai kekerasan, bahasa kasar, dan konten sensitif. Metode penilaian, kategori usia, serta cara penyajian informasinya memiliki sejumlah perbedaan. Berikut adalah poin-poin penting perbedaan keduanya.
1. ESRB untuk Amerika Utara, sedangkan PEGI digunakan di Eropa

ESRB digunakan terutama di Amerika Serikat dan Kanada. Sistem ini dibuat untuk memberi panduan kepada orang tua tentang konten game yang beredar di wilayah tersebut. Sebagian publisher besar mengikuti standar ESRB saat merilis game di Amerika Utara. PEGI digunakan di negara-negara Eropa dan beberapa wilayah lain seperti Inggris serta sebagian Timur Tengah. Sistem ini dirancang agar berlaku lintas negara dengan satu standar klasifikasi. Penggunaan PEGI membuat distribusi game di Eropa menjadi lebih konsisten.
2. Klasifikasi usia keduanya tidak sama

ESRB memiliki kategori seperti Everyone, Everyone 10+, Teen, Mature 17+, dan Adults Only. Setiap kategori disertai deskriptor konten untuk menjelaskan alasan klasifikasi tersebut. Struktur ini menekankan panduan usia sekaligus penjelasan tambahan. Di sisi lain, PEGI menggunakan angka usia seperti 3, 7, 12, 16, dan 18. Angka tersebut langsung menunjukkan batas usia minimum yang disarankan. Sistem angka dianggap lebih sederhana dan mudah dipahami secara universal.
3. Memiliki perbedaan dalam deskriptor konten

ESRB menampilkan deskriptor dalam bentuk teks seperti Violence, Strong Language, atau Blood. Penjelasan biasanya cukup rinci agar orang tua memahami isi game. Deskripsi ini sering ditampilkan pada kotak game fisik maupun halaman digital. Sementara itu, PEGI menggunakan ikon visual untuk menunjukkan jenis konten. Ikon tersebut mencakup kekerasan, ketakutan, judi, diskriminasi, atau pembelian dalam game. Metode visual bertujuan untuk memudahkan pemain memahami konten secara cepat
4. PEGI menggunakan semacam kuisoner untuk pengembang

ESRB menilai game berdasarkan materi yang dikirim publisher seperti video gameplay dan deskripsi konten. Tim penilai kemudian menentukan kategori usia sebelum game dirilis. Proses ini dilengkapi audit setelah rilis untuk memastikan kesesuaian. PEGI juga menggunakan materi yang disediakan publisher, tetapi menambahkan sistem kuesioner terstruktur. Pengembang menjawab pertanyaan terkait konten, lalu tim PEGI memverifikasi hasilnya. Cara ini membuat proses lebih sistematis dan terstandarisasi.
5. Sama-sama memberikan dampak terhadap distribusi game

Rating ESRB tidak selalu wajib secara hukum, tetapi sering menjadi standar industri. Toko ritel besar biasanya menolak menjual game tanpa rating ESRB. Kondisi ini membuat publisher hampir selalu mengurus klasifikasi sebelum rilis. PEGI memiliki pengaruh kuat di pasar Eropa karena banyak distributor mewajibkannya. Beberapa negara bahkan menggunakan PEGI sebagai acuan regulasi. Perbedaan kebijakan tersebut menyebabkan satu game bisa memiliki strategi distribusi berbeda.
Kesimpulannya, ESRB dan PEGI sama-sama bertujuan memberi panduan usia, tetapi memiliki cara yang berbeda dalam kategori, tampilan, dan wilayah penggunaan. Pertanyaannya, apakah IGRS juga menggunakan metode serupa dengan kedua lembaga tersebut?
















