Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Di Balik Strategi Arab Saudi Mengakuisisi EA Seharga Rp900 Triliun
EA SPORTS FC™ 27 (dok. Electronic Arts/EA SPORTS FC™ 27)
  • Konsorsium PIF Arab Saudi, Silver Lake, dan Affinity Partners membeli EA senilai sekitar 55 miliar dolar AS; transaksi rampung 4 Agustus 2026 dan mengembalikan EA menjadi perusahaan privat.
  • EA dinilai bernilai tinggi berkat waralaba global, pendapatan sekitar 7,5 miliar dolar AS, serta model bisnis konten dan layanan berkelanjutan yang menghasilkan pemasukan jangka panjang.
  • Akuisisi mendukung Vision 2030 Arab Saudi untuk memperluas sektor gaming, esports, hiburan, dan pengaruh global melalui jaringan olahraga serta audiens muda EA.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pada September 2025, Electronic Arts (EA) mengumumkan rencana penjualan perusahaan dengan nilai sekitar 55 miliar dolar AS atau Rp900 Triliun. Pembelinya adalah konsorsium yang terdiri dari Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi, Silver Lake, dan Affinity Partners. Kesepakatan tersebut selesai pada 4 Agustus 2026 dan membuat EA kembali menjadi perusahaan privat setelah 36 tahun berada di bursa saham.

Besarnya nilai transaksi ini membuat banyak orang bertanya-tanya. Mengapa Arab Saudi mau mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membeli perusahaan game? Jawabannya bukan karena EA sedang kesulitan atau hampir bangkrut, tetapi karena perusahaan ini memiliki franchise besar, basis pemain global, serta posisi penting di antara industri game, olahraga, dan esports.

1. EA masih menjadi perusahaan game yang sangat berharga

EA SPORTS™ Madden NFL 27 (dok. Tiburon/EA SPORTS™ Madden NFL 27)

EA masih memiliki banyak waralaba yang dikenal di seluruh dunia. EA Sports FC, Battlefield, Madden NFL, Apex Legends, dan The Sims menjadi bagian penting dari bisnis perusahaan. Game-game tersebut tidak hanya menghasilkan uang ketika pertama kali dibeli, tetapi juga dapat menghasilkan pendapatan tambahan melalui konten dan layanan yang terus berjalan setelah game dirilis.

Kondisi tersebut membuat EA menjadi aset yang menarik bagi investor. BBC melaporkan bahwa EA menghasilkan pendapatan sekitar 7,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp130 triliun pada tahun terakhir yang dilaporkan, sementara Battlefield 6 terjual lebih dari 7 juta kopi dalam tiga hari pertama setelah dirilis. Jadi, masalah EA bukan karena game-game mereka sudah tidak laku. Justru, perusahaan ini masih mempunyai bisnis yang besar dan waralaba yang mampu menghasilkan uang dalam jangka panjang.

2. Arab Saudi ingin menjadi kekuatan besar di kancah gaming

Apex Legends™ (dok. Respawn/Apex Legends™)

Ketertarikan Arab Saudi terhadap EA tidak bisa dipisahkan dari Vision 2030. Melalui program ini, Arab Saudi berusaha mengurangi ketergantungan ekonominya terhadap minyak dengan mengembangkan sektor baru seperti teknologi, hiburan, olahraga, game, dan esports. PIF sudah menginvestasikan miliaran dolar AS ke industri game sebelum membeli EA, termasuk memiliki saham di sejumlah perusahaan game besar.

Arab Saudi juga ingin membangun posisi sebagai salah satu pusat gaming dan esports dunia. Negara tersebut telah mengadakan turnamen esports besar dan sedang mengembangkan Qiddiya, sebuah proyek hiburan besar yang memiliki kawasan khusus untuk gaming dan esports. Reuters melaporkan bahwa Qiddiya bahkan menargetkan kedatangan hingga 10 juta pengunjung per tahun ke kawasan gaming dan esports pada 2030.

3. EA bisa menjadi alat untuk memperluas pengaruh Arab Saudi

The Sims™ 4 (dok. Maxis/The Sims™ 4)

EA menjadi semakin menarik karena perusahaan ini tidak hanya berkaitan dengan video game. Melalui EA Sports FC, perusahaan memiliki hubungan dengan dunia sepak bola yang sangat luas. BBC mencatat bahwa ekosistem tersebut mencakup sekitar 20.000 pemain, 750 klub, dan 35 liga, sehingga kepemilikan EA dapat memberikan PIF akses yang jauh lebih besar ke dunia olahraga global.

Gaming juga bisa menjadi cara bagi Arab Saudi untuk membangun pengaruh di luar negeri. Pakar industri game, Joost van Dreunen, mengatakan bahwa video game memiliki audiens muda yang sangat besar dan dapat digunakan untuk membangun soft power serta pengaruh budaya. Dengan memiliki perusahaan game global seperti EA, Arab Saudi tidak hanya mendapatkan bisnis yang menghasilkan uang, tetapi juga memiliki salah satu merek hiburan dengan jangkauan global.

Bagi gamer, akuisisi EA ini dampaknya baru akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan. Pemilik baru bisa saja meningkatkan investasi untuk membuat game baru dan mengembangkan waralaba yang sudah ada, tetapi tekanan untuk membayar utang juga dapat membuat mereka lebih berhati-hati dalam mengeluarkan biaya. Karena itu, pertanyaan terbesar setelah akuisisi bukan lagi apakah EA masih berharga, melainkan bagaimana pemilik barunya akan mengelola perusahaan tersebut agar tetap menghasilkan uang tanpa mengorbankan kualitas game dan studio yang ada di dalamnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article