Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Game Berbayar yang Dimatikan dan Ironisnya Tidak Memberikan Refund
Battleborn (dok. Gearbox Software)
  • Sejumlah game berbayar yang ditutup servernya membuat pemain kehilangan akses penuh tanpa kompensasi, menegaskan bahwa pembelian sering kali hanya berupa lisensi penggunaan.
  • Aliens: Fireteam Elite versi cloud Switch, LawBreakers, dan Battleborn menjadi tak bisa dimainkan meski memiliki konten solo atau campaign; pemain tidak memperoleh refund.
  • The Crew bahkan lisensi digitalnya dicabut dari akun pemain setelah server tutup, sementara kasus ini mendorong lahirnya gerakan Stop Killing Games.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika game free-to-play harus menutup server, pemain kehilangan item kosmetik, progress dan waktu yang telah mereka investasikan. Namun, ketika game berbayar mendadak tidak bisa dimainkan sama sekali, pemain diingatkan bahwa yang sebenarnya mereka beli hanyalah lisensi penggunaan, bukan kepemilikan penuh. Kasus Concord menjadi pengecualian karena Sony segera mengembalikan uang pemain yang sempat membelinya setelah game tersebut hanya bertahan sekitar dua minggu. Ironisnya, ternyata ada cukup banyak game berbayar yang ketika dimatikan, tidak menawarkan kompensasi apa pun kepada pemain, termasuk opsi refund. Berikut beberapa di antaranya.

1. Aliens: Fireteam Elite

Awal bulan ini, Aliens: Fireteam Elite mematikan versi cloud di Nintendo Switch sehingga game ini kini sama sekali tidak bisa dimainkan di konsol itu. Ironisnya, baik pemain yang sudah membeli edisi standar maupu Ultimate sama-sama kehilangan akses tanpa mendapatkan kompensasi apa pun. Masalahnya, berbeda dari game berbayar yang harus selalu online, Aliens: Fireteam Elite pada dasarnya merupakan game yang bisa dimainkan secara offline, terutama untuk versi non-cloud. Karenanya, cukup mengecewakan ketika game shooter dengan mode single-player ini tetap bisa hilang sepenuhnya hanya karena versi Switch-nya selalu bergantung pada layanan cloud.

2. Babylon’s Fall

Kolaborasi Square Enix dan PlatinumGames seharusnya mampu menghasilkan game berkualitas tinggi, seperti yang terlihat pada NieR: Automata. Namun, ketika keduanya mencoba terjun ke ranah live-service, hasilnya justru berantakan. Babylon’s Fall dijual dengan harga cukup mahal sebagai game aksi RPG, namun kualitasnya jauh dari layak sekalipun game ini tersedia secara gratis. Berbeda dari beberapa game live-service yang berhasil bangkit setelah perilisan yang buruk, Babylon’s Fall gagal dengan begitu parah hingga peluang untuk memperbaikinya nyaris tidak ada. Alhasil, baik pemain maupun pihak studio sama-sama menyadari bahwa game ini telah menjadi kesalahan besar yang sulit diselamatkan.

3. The Crew

The Crew sering dianggap sebagai contoh paling terkenal dari game berbayar yang servernya dimatikan dan menuai kritik besar. Padahal, meski multiplayer merupakan bagian penting, game balap open-world ini juga memiliki banyak konten single-player yang seharusnya tetap bisa dimainkan secara offline tanpa harus terus terhubung ke server Ubisoft. Sayangnya, setelah game ini tidak lagi dapat dimainkan, Ubisoft mulai mencabut lisensi digitalnya dari akun pemain, sehingga pemain tidak bisa mengakses atau mengunduhnya lagi. Alhasil, upaya komunitas pemain untuk membuat server offline pun jadi semakin sulit. Kasus The Crew kemudian menjadi titik penting dalam lahirnya gerakan Stop Killing Games.

4. LawBreakers

Meski didukung nama besar dan menawarkan gameplay yang cukup solid, LawBreakes nyaris gagal sejak awal karena kalah bersaing dengan popularitas Overwatch. Dikembangkan Boss Key Productions sebagai game hero shooter 5v5, game ini mengandalkan mobilitas tinggi dan mekanisme gravitasi nol, serta memilih model bisnis berbayar tanpa microtransaction. Namun, jumlah pemainnya di Steam merosot hingga di bawah 100 pemain pada Desember 2017. Ketika akhirnya digratiskan pada Juni tahun berikutnya, langkah tersebut justru dilakukan bersamaan dengan pengumuman bahwa server-nya akan ditutup, dan pemain yang dulu sempat membelinya, tidak lagi bisa mengajukan permintaan pengembalian dana.

5. Battleborn

Battleborn menjadi korban lain dari persaingannya dengan Overwatch. Game buatan Gearbox dan 2K ini memang bukan berasal dari studio kecil, namun tetap gagal menandingi popularitas game garapan Blizzard tersebut. Nasibnya semakin menyedihkan karena Battleborn memiliki mode campaign PvE yang bisa dimainkan sendirian, namun seluruh modenya tetap membutuhkan autentikasi ke server. Setelah dukungan multiplayer-nya dihentikan, mode campaign-nya juga ikut tidak bisa dimainkan. Banyk pemain kecewa karena game sudah dibeli berubah menjadi barang tak berguna. Sebenarnya, Gearbox bisa saja merilis patch yang menambahkan dukungan untuk bermain offline dan menyelamatkan konten campaign-nya, tapi sayangnya hal itu tidak pernah terjadi.

Demikian tadi ulasan mengenai beberapa game berbayar yang dimatikan dan ironisnya tidak memberikan refund. Pernah menjadi korban game-game di atas?

Curated For You

Editorial Team

Related Article