Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Game Indonesia yang Jadi Tonggak Penting Industri Game Lokal

5 Game Indonesia yang Jadi Tonggak Penting Industri Game Lokal
DreadOut pertama (dok. Digital Happiness/DreadOut)
  • Infectonator membuktikan developer Indonesia mampu menarik gamer global sejak 2009, sementara DreadOut membawa folklore horor Nusantara ke pasar internasional lewat pendanaan Indiegogo yang melampaui target.
  • Coffee Talk sukses secara global melalui kekuatan narasi sederhana, dengan penjualan Steam terbesar di Amerika Serikat, lalu berkembang menjadi franchise dengan sekuel dan judul baru.
  • A Space for the Unbound meraih pengakuan lewat budaya Indonesia 1990-an, sedangkan Acts of Blood menarik perhatian internasional melalui demo Steam dan tampil di Summer Game Fest 2025.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Game telah berkembang menjadi industri yang mulai mendapat perhatian serius. Pasalnya, game kini menjadi salah satu media hiburan yang mudah diakses dan dinikmati oleh berbagai kalangan. Melihat peluang tersebut, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) turut membidik industri game sebagai salah satu motor baru pertumbuhan ekonomi nasional yang mampu bersaing di kancah global.

Di Tanah Air, industri game telah melewati perjalanan panjang hingga seperti sekarang. Perjalanan tersebut tidak terlepas dari proses yang dilalui para developer dalam mengembangkan game yang berkualitas. Hasilnya, tidak sedikit game buatan developer Indonesia yang mendapat perhatian di luar negeri sekaligus menjadi tonggak penting bagi perkembangan industri game lokal.

  1. 1. Infectonator membuktikan potensi Indonesia di peta game dunia

    Infectonator
    Infectonator (dok. Toge Productions/Infectonator)

    Sebelum dikenal lewat Coffee Talk (2020) maupun A Space for the Unbound (2023), Toge Productions lebih dahulu merintis kiprahnya melalui Infectonator (2009), game strategi kasual yang mengajakmu menyebarkan virus zombie kepada para non-playable character (NPC). Ia dikembangkan menggunakan Adobe Flash, teknologi yang populer pada awal 2000-an karena memungkinkan developer membuat dan mendistribusikan game berukuran relatif kecil melalui browser. Saat itu, Toge Productions yang digawangi Kris Antoni Handiputra bersama rekannya, Sudarmin Then, mulai mengembangkan game Flash untuk mencari penghasilan tambahan setelah baru lulus kuliah.

    Tak disangka, Infectonator justru menjadi salah satu tonggak penting dalam pertumbuhan industri game Indonesia. Game yang mengandalkan desain dan mekanisme permainan sederhana ini justru berhasil mencuri perhatian para gamer dari luar negeri. Tak hanya melahirkan sekuel dari Infectonator 2 (2012) hingga Infectonator: Apocalypse (2021), kesuksesan seri Infectonator menunjukkan bahwa developer Indonesia sebetulnya mempunyai modal kuat untuk bersaing di industri game internasional.

  2. 2. DreadOut mengangkat hantu khas Nusantara ke dalam game

    DreadOut
    DreadOut pertama (dok. Digital Happiness/DreadOut)

    Hantu macam pocong, kuntilanak, suster ngesot, sudah menjadi makanan sehari-hari masyarakat Indonesia. Digital Happiness, studio asal Bandung, mampu menyulap cerita-cerita supranatural tersebut menjadi game horor indie berjudul DreadOut (2014). Ia mengisahkan Linda, seorang siswi SMA yang terpaksa menggunakan smartphone untuk bertahan hidup dari serangan makhluk-makhluk halus.

    Ketika warnet masih menjadi salah satu tempat utama untuk bermain game PC, DreadOut menjadi salah satu game horor yang cukup populer di kalangan pengunjung. Game yang akan segera menelurkan seri ketiganya, DreadOut 3 (2026), bahkan berhasil menarik perhatian gamer dari berbagai negara ketika Digital Happiness menggalang dana di platform Indiegogo pada 2013 dan mengumpulkan sekitar 29 ribu dolar Amerika Serikat dari target 25 ribu dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp517 juta dari target Rp446 juta berdasarkan kurs saat ini. Hal yang membuat DreadOut terasa istimewa dikarenakan keberaniannya mengangkat folklore dan nuansa mistis khas Indonesia yang cukup jarang diperlihatkan dalam game-game kala itu.

  3. 3. Tanpa grafik mentereng, Coffee Talk berhasil merebut hati para gamer dunia

    Coffee Talk
    Coffee Talk (dok. Toge Productions/Coffee Talk)

    Setelah sebelumnya banyak berkecimpung dalam game bergenre action adventure, Coffee Talk hadir dengan pendekatan yang jauh lebih sederhana. Dalam game ini, kamu berperan sebagai barista di sebuah kedai kopi yang bertugas melayani pelanggan sekaligus mendengarkan berbagai cerita tentang persoalan hidup mereka. Di balik kesederhanaannya, konsep tersebut justru menjadi salah satu kekuatan utama Coffee Talk di mata gamer internasional.

    Coffee Talk dilaporkan mencatat penjualan Steam terbesar di Amerika Serikat dengan kontribusi 29 persen, disusul Korea Selatan 15 persen dan Jepang 8 persen, dilansir WIRED. Game ini bahkan menjelma sebagai sebuah franchise dengan menghadirkan sekuel berjudul Coffee Talk Episode 2: Hibiscus & Butterfly (2023) dan Coffee Talk Tokyo (2026). Bagi developer Indonesia, Coffee Talk telah membuka ruang untuk mengeksplorasi kekuatan cerita dalam format narrative adventure meski dikemas dengan grafik yang sederhana.

  4. 4. A Space for the Unbound, kisah cinta yang mengharumkan nama Indonesia

    A Space for the Unbound
    A Space for the Unbound (dok. Mojiken Studio/A Space for the Unbound)

    Toge Productions kembali berdiri di panggung industri game internasional ketika berkolaborasi dengan Mojiken Studio untuk merilis A Space for the Unbound. Game ini berani tampil berbeda dengan menonjolkan kehidupan dan budaya Indonesia pada era 1990-an. Kamu diajak mengikuti perjalanan dua remaja SMA, Atma bersama pacarnya, Raya, yang diceritakan mempunyai kekuatan supranatural untuk mengubah realitas di sekitar mereka.

    Daya tarik utama A Space for the Unbound tidak cuma terletak pada grafik pixel art yang indah, tetapi juga pada caranya menggambarkan kehidupan remaja Indonesia secara autentik, mulai dari lingkungan sekolah hingga suasana kota kecil pada 1990-an. Game ini bahkan berhasil memenangkan Game of the Year di Indonesian Game Awards 2023 dan masuk nominasi Games for Impact di The Game Awards 2023. Berkat A Space for the Unbound, developer Tanah Air mempunyai pijakan baru dalam mengolah identitas dan budaya lokal menjadi game yang tak kalah berkualitas dari game buatan developer luar negeri.

  5. 5. Acts of Blood menunjukkan taring lewat action dengan cita rasa Indonesia

    Acts of Blood
    Acts of Blood (dok. Eksil Team/Acts of Blood)

    Eksil Team, developer asal Bandung yang didirikan oleh Fajrul Falakh Nurfitryansyah, turut membawa nama Indonesia ke ranah game 3D melalui Acts of Blood (2026). Ia mendapat kesempatan tampil dalam ajang Summer Game Fest 2025 setelah Fajrul menerima email langsung dari Geoff Keighley, presenter sekaligus produser acara, yang menawarkan kesempatan untuk membantu mempromosikan game ini. Menceritakan perjalanan seorang pemuda bernama Hendra yang ingin membalas dendam, Acts of Blood seolah menjadi perpaduan antara game Sleeping Dogs (2012) dan Sifu (2022) dengan atmosfer film laga macam The Raid (2011) serta The Night Comes for Us (2018).

    Berawal sebagai proyek pribadi Fajrul, Acts of Blood menjelma menjadi salah satu game buatan developer Tanah Air yang cukup diantisipasi oleh gamer mancanegara. Sleeping Dogs dan Sifu versi lokal ini bisa dibilang sebagai langkah awal untuk menyentuh ranah action dan beat 'em up dengan nuansa khas Indonesia yang autentik. Walaupun belum mendapat tanggal rilis resmi, Acts of Blood dapat kamu mainkan demonya di Steam dan telah mengumpulkan ratusan ribu wishlist saat artikel ini ditulis.

    Kelima game ini menjadi bagian dari perkembangan industri game Indonesia yang semakin pesat. Semoga perjalanan mereka dapat menjadi pijakan dan inspirasi bagi developer Tanah Air untuk berani berkarya dengan mengangkat kebudayaan Indonesia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More