Di industri gaming, sebuah seri game yang sudah mulai menurun jarang bisa bangkit kembali. Satu game buruk masih bisa dimaafkan, tapi jika sudah dua atau tiga kali berturut-turut mengecewakan biasanya nasibnya sudah tamat. Namun sesekali, ada game yang datang layaknya penyelamat dan benar-benar membalikkan keadaan. Entah lewat perombakan total, kembali ke formula awal, atau sekadar dikerjakan dengan lebih serius dan penuh perhatian, game-game semacam itu berhasil mengingatkan para pemain mengapa mereka jatuh cinta pada seri game yang mereka mainkan sejak awal. Berikut beberapa di antaranya.
5 Game yang Menyelamatkan Serinya dari Kehancuran

1. Tomb Raider
Seri Tomb Raider pernah hampir mati. Di awal tahun 2000-an, nama Lara Croft yang dulu begitu besar justru mulai pudar dan puncaknya adalah Angel of Darkness, game yang seharusnya menjadi kebangkitan tapi malah menjadi bencana. Namun serinya kemudian diserahkan ke Crystal Dynamics yang pelan-pelan membangun ulang fondasi Tomb Raider lewat trilogi Legend, Anniversary dan Underworld. Ketiganya bagus, tapi belum cukup untuk mengembalikan reputasi serinya. Titik balik sesungguhnya baru datang di Tomb Raider versi reboot pada tahun 2013. Game ini mengubah total pendekatan serinya di mana Lara bukan lagi petualang tangguh bersenjatakan dua pistol, melainkan seorang penyintas muda yang rapuh dan manusiawi.
2. Devil May Cry 3
Game pertama Devil May Cry pertama hadir sebagai game hack-and-slash bergaya gothic dengan protagonis karismatik dan combat bertempo cepat yang cukup kuat untuk melahirkan sebuah genre tersendiri. Sayangnya, sekuelnya justru menjadi bencana. DMC2 dirilis terburu-buru oleh tim pengembang yang berbeda sehingga menghasilkan game dengan combat yang tidak optimal, level yang luas tapi kosong dan Dante yang kehilangan seluruh kepribadiannya. Serinya hampir tamat sebelum waktunya sampai DMC3 datang dan membalikkan segalanya. Sebagai prekuel, game ini mengembalikan Dante ke bentuk terbaiknya yaitu sombong dan mematikan. DMC3 bukan sekadar penebusan, tapi juga menjadi puncak dari serinya.
3. Hitman
Setelah kesuksesan besar Blood Money, seri Hitman malah hampir tenggelam lewat Absolution, sebuah game yang terasa asing bagi penggemar serinya. Level-level luas yang menjadi ciri khas serinya digantikan oleh lorong-lorong sempit dan formula stealth yang kaku. Untungnya, IO Interactive menyadari kesalahan itu dan bangkit dengan Hitman versi reboot di tahun 2016 yang benar-benar merombak segalanya. Game ini menghadirkan kembali level-level besar yang penuh kesempatan bermain kreatif, mulai dari penyamaran, jebakan hingga cara-cara pembunuhan yang absurd tapi seru. Format episodiknya mendorong pemain untuk terus bereksperimen, dan kesuksesan game ini berlanjut hingga melahirkan trilogi World of Assassination.
4. Assassin’s Creed Origins
Pada pertengahan 2010-an, seri Assassin's Creed berada di titik terendahnya. Unity yang penuh bug, siklus rilis tahunan yang terlalu cepat dan gameplay yang monoton membuat para pemain mulai berpaling. Ubisoft akhirnya sadar dan mengambil langkah berani dengan merilis Origins pada tahun 2017, yang secara total merombak formula lama menjadi RPG berlatar Mesir Kuno. Dengan sistem combat baru, dunia yang lebih hidup dan protagonis mengesankan bernama Bayek, Origins berhasil mengembalikan reputasi serinya. Sayangnya, kebangkitan itu tidak bertahan lama karena penerusnya seperti Odyssey dan Valhalla justru kembali terjebak dalam pola lama. Alih-alih terus berkembang, Assassin's Creed perlahan kembali kehilangan pesonanya.
5. God of War
Setelah trilogi di era PS2 dan PS3 yang legendaris, seri God of War mulai kehilangan tajinya lewat Ascension, sebuah game prekuel yang seperti dipaksakan dengan mode multiplayer yang tanggung dan cerita yang tidak menarik. Namun, Santa Monica Studios kemudian membuat keputusan berani. Alih-alih mematikan Kratos, mereka mengubahnya. God of War versi reboot di tahun 2018 membawa serinya ke mitologi Nordik dengan pendekatan yang sama sekali baru. Sudut pandang kamera dibuat lebih dekat, sistem combat lebih taktis dan yang paling mengejutkan, Kratos kini hadir bukan sebagai “mesin pembunuh” semata, melainkan sebagai seorang ayah yang berduka dan berjuang keras untuk terhubung dengan putranya, Atreus.
Demikian tadi ulasan mengenai beberapa game yang menyelamatkan serinya dari kehancuran. Pernah memainkan salah satu game di atas?