Pembicaraan mengenai Indonesia Game Rating System (IGRS) masih belum mereda hingga kini. Sistem tersebut pertama kali diperkenalkan dalam acara BEKRAF Game Prime pada 2016 sebelum kembali diangkat oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam ajang Indonesia Game Developer (IDGX) Business & Conference 2025. IGRS sendiri dirancang sebagai upaya pelaksanaan Peraturan Pemerintah (PP) TUNAS Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak.
Sayang seribu sayang, ekspektasi tersebut tidak berbuah manis dengan realitas di lapangan. Sejak mulai diterapkan di platform Steam, sistem ini langsung dibanjiri kritik hingga hujatan dari para gamer Tanah Air. Lalu, apa yang membuat IGRS begitu kontroversial, baik di dalam maupun di luar negeri?
