Untuk pemain yang suka bermain game dan ingin merasakan pengalaman imersif dari game-game AAA, suka tidak suka mereka harus berurusan dengan perusahaan game raksasa, karena hampir mustahil menghindarinya kecuali hanya ingin bermain game indie. Awalnya, beberapa perusahaan game besar memiliki reputasi yang bagus karena mereka besar lewat game yang memang berkualitas dan dicintai oleh banyak pemain. Sayangnya, reputasi baik yang mereka dapatkan sejak awal jarang bertahan lama, di mana seiring berjalannya waktu, kepercayaan pemain terhadap mereka pun mulai luntur, untuk berbagai macam alasan. Berikut beberapa perusahaan game yang mulai kehilangan kepercayaan pemain dalam beberapa tahun terakhir.
6 Perusahaan Game yang Kehilangan Kepercayaan Pemain, Bikin Kecewa

1. Ubisoft
Ubisoft dulu memiliki reputasi yang sangat baik di mata pemain, terutama lewat game-game seperti Rayman, Assassin's Creed dan Tom Clancy's Rainbow Six Vegas. Namun seiring waktu, mereka terus memproduksi game dalam jumlah besar tanpa banyak inovasi dan malah cenderung mengulang formula yang sama berkali-kali. Hal ini akhirnya memicu apa yang disebut "Ubisoft fatigue", di mana pemain merasa jenuh karena game-game Ubisoft terasa monoton. Parahnya lagi, seri game andalan seperti Assassin's Creed malah semakin menurun kualitasnya alih-alih berkembang, ditambah masalah klasik berupa bug yang membuat banyak game baru mereka jadi terasa belum matang ketika rilis. Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat Ubisoft kini menjadi salah satu perusahaan game yang paling sering dikritik.
2. Bethesda
Bethesda dulunya dikenal sebagai pencetak game RPG legendaris, mulai dari seri Elder Scrolls, Fallout 3, Fallout: New Vegas hingga Wolfenstein: The New Order. Sayangnya dalam beberapa tahun terakhir, performa mereka terasa menurun. Fallout 76 memang sudah membaik sejak perilisan awal yang berantakan, namun tetap belum bisa menyamai kedalaman dan daya tarik game Fallout klasik. Wolfenstein: Youngblood juga terasa jauh lebih dangkal dibanding The New Order maupun The New Colossus, sementara Starfield sendiri tergolong "cukup baik" saja tanpa benar-benar memiliki kualitas game-game Bethesda di masa jayanya. Singkatnya, Bethesda kini sudah tidak lagi bisa dipastikan akan melahirkan game hebat.
3. Konami
Konami dulu memiliki reputasi mentereng lewat seri-seri game legendaris seperti Metal Gear Solid, Castlevania, dan Silent Hill, tapi nama baik mereka mulai tercoreng sejak berpisah dengan Hideo Kojima, yang berujung pada dibatalkannya proyek Silent Hills sekaligus terpisahnya sang kreator dari "anak kandungnya" sendiri, Metal Gear Solid. Tidak hanya itu, keputusan Konami dalam beralih fokus ke game mobile dan mesin Pachinko juga turut memperburuk citra mereka di mata para pemain, meski belakangan ini mereka sedikit menebus dosa tersebut lewat game remake berkualitas seperti Silent Hill 2 dan Metal Gear Solid: Delta Snake Eater. Namun tidak dapat disangkal bahwa jalan Konami untuk kembali ke masa kejayaannya masih panjang dan penuh tantangan.
4. Bungie
Bungie sempat berada di puncak kejayaan pada tahun 2000-an lewat seri Halo, di mana tiga game pertamanya menjadi mahakarya legendaris, sementara ODST dan Reach pun masih tergolong solid. Setelah itu, Bungie beralih fokus ke Destiny, dan meski dua game dalam seri tersebut terbilang bagus meski belum sanggup menyamai kehebatan Halo, reputasi Bungie justru tercoreng oleh sistem live-service dan monetisasi yang berlebihan, khususnya di Destiny 2. Masalah semakin runyam dengan adanya content vaulting yaitu praktik menghapus konten lama (termasuk yang sudah dibeli pemain) demi memberi ruang untuk konten baru. Game terbaru Bungie yaitu Marathon memang diterima cukup baik, tapi penjualannya yang biasa-biasa saja menjadi bukti bahwa kepercayaan pemain terhadap Bungie sudah jauh berkurang.
5. BioWare
Sempat ada masa di mana BioWare dikenal sebagai perusahaan game yang selalu bisa diandalkan untuk membuat game RPG berkualitas tinggi, lewat karakter yang ditulis dengan matang dan sistem cerita berbasis pilihan, seperti yang terlihat pada trilogi Mass Effect, Dragon Age dan Star Wars Knights of the Old Republic. Sayangnya, reputasi mereka mulai pudar dalam beberapa tahun terakhir. Anthem gagal total ketika rilis karena dipenuhi bug dan masalah teknis, sementara Dragon Age: Veilguard, meski secara teknis lebih baik, kualitas penceritaannya jauh dari kata berkualitas Dua kegagalan game tersebut menunjukkan bahwa konsistensi yang dulu menjadi identitas BioWare kini mulai dipertanyakan.
6. EA
EA sempat memiliki reputasi yang cukup baik, dan itu bukan tanpa alasan. FIFA (yang sekarang berganti nama menjadi EA Sports FC) pernah menjadi game simulasi sepak bola terbaik, sementara The Sims memang selalu berkualitas. Sayangnya, seiring waktu reputasi baik EA mulai pudar, terutama karena fakta bahwa mereka kelewat gencar mengejar keuntungan dari para pemainnya. Mode Ultimate Team di FIFA, tempat pemain bisa membeli paket kartu dengan uang asli, jadi salah satu pemicu utama tren microtransaction dan live-service yang kini merajalela di industri gaming. Selain itu, game-game EA belakangan ini juga semakin sering dikeluhkan karena bug yang bertebaran, sementara sisi orisinalitas dan kreativitas mereka terasa makin menipis.
Demikian tadi ulasan mengenai beberapa perusahaan game yang kehilangan kepercayaan pemain dalam beberapa tahun terakhir. Pernah memainkan game-game buatan perusahaan di atas?
Curated For You
- 8 Perusahaan Game Terbesar di Dunia, Miliki Banyak Franchise!10 Sep 2023, 21:52 WIB
- 7 Developer Game Ternama yang Kini Telah Tutup11 Jun 2025, 20:45 WIB