5 Keunggulan Platform AI Open Source, Lebih Bagus dari Closed Source?

- AI open source memungkinkan transparansi dan pemahaman lebih baik terhadap proses pengambilan keputusan model AI.
- Kolaborasi global dalam komunitas open source memungkinkan perkembangan dan peningkatan kualitas AI secara bersama-sama.
- Model AI open source memberikan keuntungan biaya dan fleksibilitas penggunaan bagi perusahaan, serta aksesibilitas untuk akademisi dan peneliti.
AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan kini makin populer dan digunakan di berbagai bidang. Kemunculan DeepSeek AI pada akhir-akhir ini, yang berhasil melampaui performa ChatGPT dalam beberapa benchmark, telah membuktikan bahwa model AI open source mampu bersaing dengan platform proprietari besar.
Tapi, tahukah kamu bahwa persaingan antara platform AI open source dan closed source sebenarnya sudah berlangsung jauh sebelumnya? Masing-masing pendekatan memiliki kelebihan tersendiri. Namun, ternyata komunitas open source terus menunjukkan kemajuan yang mengagumkan.
Sebagai contoh, DeepSeek berhasil merilis model yang performanya setara dengan GPT-4 meski ia dikembangkan dengan sumber daya yang jauh lebih terbatas. Hal ini membuat banyak pengembang dan perusahaan mulai mempertimbangkan ulang pilihan mereka. Mana yang sebenarnya lebih baik?
1. Transparansi dan akuntabilitas yang lebih baik

Salah satu masalah besar dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) adalah sulitnya memahami bagaimana AI membuat keputusan. Model AI sering dianggap sebagai "kotak hitam" karena proses berpikirnya tidak transparan. Hal ini menjadi tantangan besar, terutama di bidang-bidang yang membutuhkan pengawasan yang ketat.
Menurut laporan New America, AI open source menawarkan solusi yang lebih baik karena pengguna bisa melihat dan mempelajari komponen teknis serta proses pengambilan keputusan di dalam model AI tersebut. Dengan begitu, para pengembang dan peneliti dapat memahami cara kerja AI, menemukan potensi bias yang mungkin muncul, dan memastikan bahwa model AI tersebut adil dan dapat dipertanggungjawabkan.
Selain itu, Benjamin Brooks dari Harvard University’s Berkman Klein Center menekankan bahwa AI sebaiknya dipandang sebagai sebuah sistem yang lengkap. Artinya, pengguna tidak hanya fokus pada model AI itu sendiri, tetapi juga pada faktor-faktor lain seperti bagaimana AI tersebut diterapkan, bagaimana manusia mengawasinya, dan bagaimana cara memperbaiki kesalahan yang mungkin terjadi. Faktor-faktor ini sangat penting untuk mengurangi risiko yang mungkin timbul dari penggunaan AI.
2. Inovasi dan kolaborasi lebih cepat

AI yang bersifat open source atau sumber terbuka memungkinkan para ahli dari seluruh dunia untuk bekerja sama. Mereka bisa mengembangkan dan meningkatkan kualitas AI secara bersama-sama.
"Komunitas open source dapat memainkan peran besar di sini, bermitra dengan organisasi inovasi demokratis untuk melatih model-model terbuka yang selaras dengan perspektif publik," ujar Divya Siddarth dan Saffron Huang dari Collective Intelligence Project, bersama Audrey Tang, Menteri Urusan Digital pertama di Taiwan, sebagaimana dilansir New America.
Sistem operasi open source Linux adalah contoh sukses bagaimana open source dapat menjadi fondasi bagi banyak teknologi canggih saat ini, termasuk kecerdasan buatan (AI). Seperti yang dilaporkan oleh Meta, platform open source seperti Llama 3 bahkan sudah bisa menyaingi model AI berbayar yang terkenal seperti GPT-4. Ini menjadi bukti bahwa inovasi di dunia open source tidak kalah cepat, bahkan seringkali lebih cepat karena banyaknya orang yang berkontribusi.
3. Biaya yang lebih terjangkau dan fleksibilitas lebih baik

AI yang bersifat open source atau sumber terbuka memberikan keuntungan besar bagi perusahaan-perusahaan kecil dan menengah, terutama dalam hal biaya. Model AI yang closed source atau tidak terbuka biasanya memerlukan biaya lisensi yang mahal, akses API berbayar, dan sumber daya komputer yang besar. Sebaliknya, AI open source memungkinkan perusahaan atau organisasi untuk menggunakan model yang sudah ada dan memodifikasinya sesuai kebutuhan tanpa harus membayar biaya lisensi.
Keuntungan lainnya adalah fleksibilitas dalam penggunaan. Perusahaan dapat menjalankan model AI mereka sendiri tanpa perlu bergantung pada penyedia layanan cloud. Meta juga menekankan bahwa salah satu alasan mereka memilih AI open source adalah untuk menghindari ketergantungan pada vendor tertentu dan memberikan kebebasan bagi penggunanya.
4. Lebih mudah untuk akses pendidikan dan riset

Kecerdasan Buatan (AI) seharusnya tidak hanya dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar saja. Para akademisi, mahasiswa, dan peneliti juga perlu memiliki akses untuk mempelajari dan mengembangkan teknologi ini. Salah satu cara untuk memastikan aksesibilitas ini adalah dengan mengembangkan AI secara open source.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Carnegie Mellon dan Apple menunjukkan bahwa model AI open source sangat bermanfaat untuk penelitian. Dengan menggunakan model terbuka, para peneliti dapat mengembangkan metode pelatihan AI yang lebih akurat meski dengan data yang lebih sedikit dan waktu pelatihan yang lebih singkat sehingga lebih efisien dalam penggunaan sumber daya. Lawrence Lessig, seorang profesor hukum di Harvard, juga menekankan pentingnya budaya open source dalam dunia pengetahuan. Menurutnya, open source memungkinkan inovasi berkelanjutan karena pengetahuan dapat dibagikan tanpa batasan apapun.
5. Lebih aman dan terpercaya

Banyak orang percaya bahwa kecerdasan buatan (AI) yang bersifat open source atau terbuka lebih tidak aman dibandingkan AI yang bersifat tertutup. Namun, laporan dari National Telecommunications and Information Administration (NTIA) menunjukkan bahwa anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Faktanya, tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa model open source lebih berbahaya daripada closed source. Justru sebaliknya, karena sifatnya yang terbuka celah keamanan pada AI open source lebih mudah dan cepat ditemukan serta diperbaiki. Laporan Microsoft’s 2023 Digital Defense Report juga menekankan bahwa kolaborasi dalam ekosistem open source memungkinkan deteksi ancaman yang lebih luas dan respons yang lebih cepat terhadap potensi serangan. Ini serupa dengan sistem operasi Linux yang selama bertahun-tahun terbukti lebih tahan terhadap serangan siber dibandingkan dengan banyak sistem operasi berbayar lainnya.
Setelah menilik berbagai kelebihan AI open source dibandingkan AI closed source, jelas bahwa AI open source menawarkan manfaat yang lebih besar, salah satunya adalah dapat dikembangkan oleh siapa saja. Makin berkembangnya komunitas open source dan banyaknya perusahaan yang mendukung model ini meningkatkan kemungkinan masa depan AI lebih terbuka dan kolaboratif. Lalu, bagaimana menurutmu? Apakah AI open source akan menjadi standar industri di masa depan?



















