Ambisi Besar Metaverse yang Berakhir Buntung

- Mark Zuckerberg mengganti nama Facebook menjadi Meta dan menginvestasikan 10 miliar dolar AS untuk membangun metaverse sebagai evolusi internet dengan dukungan perangkat VR, MR, dan AR.
- Divisi Reality Labs mencatat kerugian 19,2 miliar dolar AS per tahun hingga Meta menutup proyek VR metaverse dan mengalihkan fokus investasi ke pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
- Kurangnya minat konsumen terhadap Horizon Worlds serta pemutusan ribuan staf membuat Meta menghentikan layanan VR pada 2026 dan beralih ke lini bisnis kacamata pintar sebagai strategi baru.
Pada 2021, Mark Zuckerberg mengubah nama perusahaan Facebook menjadi Meta. Ia menginvestasikan dana 10 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp170 triliun untuk membangun Metaverse. Pemimpin perusahaan itu mengambil visi ini dari novel science fiction, seperti Snow Crash dan Ready Player One.
Mark Zuckerberg membangun Metaverse sebagai ide utopis untuk menciptakan ekonomi baru dari barang dan layanan virtual. Pengguna menggunakan avatar fisik utuh atau hologram untuk berinteraksi di ruang digital itu. Perusahaan itu menyiapkan teknologi kripto, seperti non-fungible token (NFT) dan smart contract, untuk mendukung sistem kepemilikan.
1. Metaverse diharapkan bisa menjadi evolusi internet masa depan lewat berbagai perangkat keras, termasuk Meta Quest

Mark Zuckerberg merencanakan Metaverse sebagai evolusi internet masa depan. Pengguna bisa mengakses dunia virtual itu lewat berbagai perangkat keras Meta dan perusahaan lain. Melalui langkah itu, perusahaan teknologi satu ini menciptakan pengalaman digital yang lebih nyata bagi pengguna internet.
Sebagai bentuk dukungan, Meta menyiapkan headset Meta Quest untuk mengakses Metaverse. Pengguna tidak memerlukan akun Facebook saat memakai perangkat virtual reality (VR) itu. Oleh karena itu, perusahaan ini menyatukan sistem akun pengguna yang melintasi semua aplikasi sosial dan perangkat keras pada masa mendatang.
Tak lupa, Meta juga mengembangkan Project Cambria sebagai headset mixed reality (MR) kelas atas pada masa mendatang. Perangkat itu menggabungkan grafik virtual dengan dunia nyata dalam warna penuh. Pada saat bersamaan, mereka turut merancang kacamata augmented reality (AR) Nazaré untuk memproyeksikan komputasi ke dunia sekitar pengguna.
2. Divisi Reality Labs yang menaungi metaverse mengalami kerugian 19,2 miliar dolar (Rp326 triliun) tiap tahun

Reality Labs, divisi yang menaungi Metaverse, mencatatkan kerugian operasional 19,2 miliar dolar Amerika Serikat atau Rp326 triliun pada 2025. Kerugian itu membebani margin keuntungan perusahaan. Para investor mengkhawatirkan profitabilitas jangka pendek perusahaan karena laporan kerugian divisi itu.
Meta menutup proyek VR Metaverse sebagai langkah strategis. Mereka lebih memilih menggandakan investasi infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Mereka merencanakan teknologi itu sebagai fondasi pertumbuhan bisnis selanjutnya.
Petinggi Meta menyiapkan dana capital expenditure setidaknya 115 miliar dolar Amerika Serikat atau Rp1,9 kuadriliun pada 2026. Mereka menargetkan peningkatan pendapatan operasional pada tahun itu. Mengingat, produk Meta AI berhasil menjaring 1 miliar pengguna aktif bulanan pada kuartal pertama 2025.
3. Meta memberikan janji yang terlalu berlebihan sehingga berbenturan dengan kurangnya minat konsumen

Semenjak awal, Mark Zuckerberg menjanjikan strategi Metaverse yang terlalu berlebihan. Direktur riset Ramon Llamas menyebut presentasi awal itu sebagai tawaran luar biasa bagi para konsumen. Mengingat, perusahaan Zuckerberg menyandarkan visi besar itu kepada inovasi teknologi terbaru.
Bagaimana pun, platform perangkat lunak Meta Horizon gagal memikat minat jangka panjang konsumen. Pengguna mengkritik grafis buruk platform itu melalui berbagai lelucon di dunia maya. Tampilan avatar tanpa kaki makin memperburuk tanggapan masyarakat terhadap sistem ruang digital itu.
Pada Januari 2026, pimpinan Meta memberhentikan 1,5 ribu staf Reality Labs. Sebelumnya, perusahaan itu menunda proyek headset VR pihak ketiga dari ASUS dan Lenovo pada Desember 2025. Jajaran manajemen perusahaan itu memindahkan sisa dana penghematan ke lini bisnis kacamata pintar sebagai langkah alternatif.
4. Mengalami kemunduran, platform VR dan Horizon Worlds dalam Meta Quest dipisah pada 2026

Pada 2026, Meta memisahkan platform VR dan Horizon Worlds dalam ekosistem Meta Quest. Perusahaan itu mengubah Horizon Worlds menjadi pengalaman mobile-only secara penuh. Oleh karena itu, pengguna hanya bisa mengakses dunia itu lewat aplikasi Meta Horizon.
Horizon Worlds dihapus dari toko digital Meta Quest pada 31 Maret 2026. Tim pengembang meniadakan area Horizon Central dan Events Arena dari VR itu. Kemudian, perusahaan itu mencabut akses semua dunia virtual ini dari perangkat kacamata digital paling lambat 15 Juni 2026.
Pada 24 Maret 2026, Meta memindahkan sistem Hyperscape Capture dari Horizon Worlds. Pengguna bisa melihat tangkapan digital itu melalui aplikasi Preview pada perangkat masing-masing. Lalu, jajaran manajemen menghapus keuntungan langganan Meta Horizon Plus, seperti koin Meta Credits dan pakaian digital, pada 31 Maret 2026.
Singkat kata, ambisi tinggi Metaverse malah memberikan hasil buruk bagi margin keuntungan Meta. Wajar saja jika jajaran manajemen menutup layanan VR itu secara permanen. Oleh karena itu, mereka lebih memilih memusatkan modal finansial perusahaan untuk infrastruktur AI.


















