ilustrasi profil LinkedIn (unsplash.com/Nathana Rebouças)
Seseorang juga bisa menjadi target doksing karena informasi pribadinya relatif mudah ditemukan. Banyak orang tanpa sadar meninggalkan jejak digital melalui unggahan media sosial, komentar di forum, atau akun yang menggunakan nama pengguna serupa. Sebagai contoh, seseorang menggunakan nama pengguna yang sama untuk akun Instagram, TikTok, dan forum online. Dari satu akun, orang lain mungkin dapat menemukan akun lainnya yang memuat informasi lebih pribadi, seperti nama lengkap, lokasi tempat tinggal, atau tempat bekerja.
Informasi tersebut sebenarnya mungkin dibagikan pada waktu dan konteks yang berbeda. Namun, ketika dikumpulkan dan digabungkan, berbagai potongan informasi bisa digunakan untuk mengidentifikasi seseorang secara lebih detail. Kendati demikian, memiliki jejak digital yang mudah ditemukan bukan berarti seseorang pantas menjadi korban doksing. Tanggung jawab tetap berada pada pihak yang menyalahgunakan dan menyebarkan informasi pribadi tersebut.
Pada akhirnya, ada banyak alasan mengapa seseorang menjadi target doksing, mulai dari perbedaan pendapat hingga konflik pribadi. Namun, apa pun pemicunya, tidak ada alasan yang membenarkan penyebaran informasi pribadi untuk mengintimidasi orang lain. Karena itu, selain lebih berhati-hati dalam membagikan informasi di internet, penting juga untuk menghormati privasi orang lain, termasuk ketika kita tidak menyukai tindakan atau pendapatnya.