Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah AI Bisa Jadi Ancaman Bagi Dunia Pendidikan?
AI di App Store (pexels.com/@sanketgraphy)

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang sangat cepat dan mulai mengubah cara belajar di berbagai jenjang pendidikan. Mahasiswa, guru, hingga dosen memanfaatkan teknologi tersebut untuk menyelesaikan pekerjaan dalam waktu lebih singkat. Perdebatan pun muncul karena AI dianggap mampu menghadirkan manfaat sekaligus memunculkan tantangan baru di dunia akademik.

Perkembangan AI terlihat semakin nyata dalam aktivitas perkuliahan sehari-hari. Teknologi ini dipakai untuk mengerjakan tugas, memaparkan materi belajar, penyusunan soal, dan proses penilaian oleh pengajar. Lalu, apakah benar AI dapat menjadi ancaman bagi dunia pendidikan, khususnya di tingkat pendidikan tinggi?

1. Mahasiswa semakin mudah mencari jalan pintas

pelajar mengetik di laptop (unsplash.com/@kaitlynbaker)

AI memberi kemudahan saat mencari referensi, merangkum materi, hingga menyusun esai hanya dalam hitungan detik. Kemudahan itu dapat mendorong sebagian mahasiswa memilih hasil instan dibanding memahami materi secara mendalam. Kebiasaan tersebut berisiko mengurangi kemampuan berpikir kritis, analisis, dan penyelesaian masalah yang menjadi tujuan utama pendidikan. Masih banyak pelajar yang mengerjakan tugas dengan AI dan mengumpulkannya mentah-mentah tanpa mengedit atau memasukan pemikiran sendiri.

2. Hasil tugas berpotensi memiliki isi yang seragam

ilustrasi mengerjakan tugas (pixabay.com/deeezy)

Prompt yang hampir sama dapat menghasilkan jawaban dengan struktur, gaya bahasa, maupun poin pembahasan yang mirip. Dosen akhirnya menerima puluhan tugas yang memiliki pola penulisan serupa meski berasal dari mahasiswa berbeda. Kreativitas dan sudut pandang pribadi pun berpeluang berkurang apabila peserta didik hanya mengandalkan AI tanpa mengembangkan idenya sendiri. Ini yang menjadi masalah terbesar karena hadirnya AI di dunia pendidikan. 

3. Dosen ikut memanfaatkan AI dalam proses mengajar

ilustrasi teks AI (unsplash.com/@markuswinkler)

Pemanfaatan AI tidak berhenti di sisi mahasiswa. Sebagian dosen menggunakan teknologi tersebut untuk menyusun soal, merancang silabus, mencari contoh kasus, hingga menyusun materi presentasi agar pekerjaan administratif selesai lebih cepat. Langkah tersebut dapat meningkatkan efisiensi selama hasil akhirnya tetap diperiksa dan disesuaikan berdasarkan kebutuhan pembelajaran. Di sisi lain, ini memunculkan risiko baru jika pengajar kurang kompeten dalam menyusun prompt

4. AI mulai membantu proses penilaian tugas

ChatGPT di laptop (unsplash.com/@berctk)

Beberapa platform pendidikan telah menghadirkan fitur penilaian berbasis AI untuk membantu memeriksa tata bahasa, struktur tulisan, maupun kesesuaian isi terhadap rubrik yang telah ditentukan. Fenomena menarik pun muncul ketika tugas yang disusun menggunakan AI diperiksa kembali oleh sistem AI sebelum dosen memberikan keputusan akhir. Meski terdengar unik, penilaian akademik tetap memerlukan pertimbangan manusia agar aspek kreativitas, argumentasi, dan orisinalitas tidak terabaikan. Menariknya, kini sudah ada platform pendeteksi tulisan hasil AI dengan bantuan AI. Lucunya, orang yang mengerjakan tugas dengan AI juga dapat meminta platform tersebut agar tulisannya tidak terdeteksi sebagai hasil generatif AI. 

5. AI lebih tepat diposisikan sebagai alat pendukung

ilustrasi kecerdasan buatan (pexels.com/@pavel-danilyuk)

AI sebaiknya dipandang sebagai alat bantu, bukan pengganti proses belajar. Mahasiswa tetap perlu membaca referensi, berdiskusi, melakukan riset, serta menyusun argumen berdasarkan pemahamannya sendiri. Kampus pun memiliki peran penting dalam menyusun aturan penggunaan AI agar teknologi tersebut dimanfaatkan secara etis dan memberi nilai tambah bagi kualitas pendidikan.

AI memang menghadirkan ancaman baru bagi dunia pendidikan, terutama jika digunakan sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas. Pemerintah Indonesia sendiri telah menerbitkan SKB Tujuh Menteri tentang Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital serta AI sebagai acuan penggunaan kecerdasan buatan di dunia pendidikan secara aman, etis, dan bertanggung jawab. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pengembangan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article