Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

ASUS Balik Kanan dari Bisnis Smartphone, Mantap All In AI

Chairman ASUS, Jonney Shih
Chairman ASUS Jonney Shih dalam acara bertajuk 30 Years of ASUS Graphics Card Excellence (youtube.com/ASUS)
Intinya sih...
  • ASUS tidak akan merilis smartphone baru, fokus ke AI dan robotika
  • Perusahaan tetap melayani pelanggan yang sudah ada tanpa menambah lini produk baru
  • ASUS agresif dalam menggarap teknologi berbasis AI, robot, dan perangkat masa depan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Awal 2026 diwarnai kabar kejutan ASUS yang tidak berencana merilis smartphone baru. Informasi ini langsung memicu tanda tanya, mengingat seri Zenfone dan HP gaming ROG Phone selama ini mengisi portofolio perusahaan asal Taiwan tersebut. Nasib kedua seri itu pun mulai dipertanyakan oleh publik.

Menanggapi spekulasi yang berkembang, Chairman ASUS Jonney Shih akhirnya angkat bicara dalam sebuah acara internal perusahaan yang digelar di Taipei pada akhir pekan lalu. Ia menegaskan bahwa ASUS memang tidak berencana menambah atau merilis produk smartphone baru ke depannya. Pernyataan ini menguatkan dugaan bahwa ASUS perlahan mulai menjauh dari bisnis smartphone.

Sebagai gantinya, ASUS memilih mengarahkan fokus ke bidang kecerdasan buatan dan robotika. Melalui slogan “All in AI”, perusahaan menegaskan ambisinya untuk mengintegrasikan AI ke berbagai aspek kehidupan, baik untuk kebutuhan konsumen maupun profesional. Lantas, apa yang melatarbelakangi keputusan ASUS untuk tidak merilis smartphone pada tahun ini? Apakah keputusan untuk banting setir ke AI dinilai sudah tepat? Berikut penjelasannya!

1. ASUS tetap melayani pelanggan, tetapi tidak akan menambah lini atau smartphone baru ke depannya

ASUS Zenfone 11 Ultra
ASUS Zenfone 11 Ultra (asus.com)

ASUS menekankan bahwa penyesuaian strategi ini bukan berarti meninggalkan pengguna smartphone yang sudah ada. Perusahaan tetap berkomitmen memberikan pembaruan perangkat lunak dan dukungan garansi bagi konsumen yang telah membeli produknya. Sikap tersebut menegaskan komitmen ASUS untuk tetap bertanggung jawab terhadap ekosistem yang telah dibangun selama ini. Namun, seiring perubahan arah bisnis, perusahaan memutuskan untuk tidak lagi memperluas portofolio smartphone.

Saat menanggapi pertanyaan media terkait masa depan bisnis smartphone, Chairman ASUS Jonney Shih memberikan pernyataan yang lugas bahwa tidak akan ada penambahan lini maupun model smartphone baru ke depannya. Sumber daya riset dan pengembangan yang sebelumnya difokuskan pada smartphone kini mulai dialihkan ke sektor lain yang dinilai lebih prospektif. “Pada dasarnya, kami akan tetap memperhatikan pelanggan yang sudah ada, tetapi tidak akan menambahkan lini produk baru,” ujar Jonney Shih, seperti dikutip dari media Taiwan Wealth Magazine, Selasa (20/1/2026). Pernyataan ini semakin menguatkan indikasi bahwa penghentian ekspansi smartphone ASUS bukanlah langkah sementara, melainkan bagian dari strategi jangka panjang.

2. ASUS terlihat agresif dalam menggarap teknologi berbasis AI, robot, dan perangkat masa depan

ROG XREAL R1 Glasses
ROG XREAL R1 Glasses (rog.asus.com)

Di tengah keputusan memperlambat ekspansi bisnis smartphone, ASUS justru menunjukkan sikap agresif dalam menggarap teknologi berbasis kecerdasan buatan. Perusahaan kini menempatkan AI sebagai poros utama strategi jangka panjangnya, mencakup komputasi, perangkat fisik, hingga sistem yang terintegrasi. Chairman ASUS, Jonney Shih menggambarkan arah tersebut melalui konsep “artificial brain” sebagai representasi masa depan teknologi yang tengah dibangun. Dalam kerangka ini, AI tidak lagi diposisikan sekadar sebagai fitur pendukung, melainkan fondasi utama dari keseluruhan pengembangan produk ASUS.

Mengutip laporan Engadget, arah strategis tersebut tercermin dalam fokus ASUS pada pengembangan robotika, smartglasses, dan perangkat berbasis Physical AI. ASUS juga menegaskan pentingnya pendekatan edge computing agar kecerdasan buatan dapat berjalan langsung di perangkat. Sejumlah inovasi ini juga diperlihatkan dalam ajang CES 2026. Ketiadaan peluncuran smartphone baru justru mempertegas bahwa ASUS tengah mengalihkan perhatian ke ranah teknologi masa depan.

3. Keputusan ASUS untuk All in on AI dipengaruhi oleh kondisi geopolitik dan ketidakpastian rantai pasok

ASUS ROG Phone 8
ASUS ROG Phone 8 (rog.asus.com)

ASUS memandang industri teknologi tengah berada dalam masa transisi besar menuju era kecerdasan buatan. Pendekatan pengembangan perangkat lunak berbasis aturan manual perlahan ditinggalkan dan digantikan oleh sistem yang mampu belajar, beradaptasi, dan mengambil keputusan secara mandiri. Artinya, keunggulan produk tidak lagi semata ditentukan oleh spesifikasi perangkat, tetapi oleh kemampuan integrasi hardware dan software secara menyeluruh.

Sejalan hal tersebut, teknologi AI memang tengah mengalami ledakan adopsi global dan menawarkan peluang bisnis yang sangat menjanjikan. ASUS pun tidak tinggal diam menghadapi tren tersebut. Perusahaan ini telah menyiapkan portofolio server AI berbasis platform terbaru NVIDIA, mulai dari AI POD bertenaga Nvidia GB300 NVL72 hingga server berbasis Nvidia HGXB300.

Keputusan untuk “all in on AI” juga tidak terlepas dari berbagai tantangan eksternal, seperti ketidakpastian geopolitik dan dinamika rantai pasok global. ASUS mengembangkan solusi AI end-to-end demi menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan dan resilien. Strategi ini dinilai lebih adaptif dibandingkan terus bersaing di pasar smartphone yang semakin jenuh dan minim ruang diferensiasi. Bagi ASUS, investasi pada AI merupakan taruhan jangka panjang untuk menjaga daya saing.

Secara kinerja, langkah tersebut mulai menunjukkan hasil. Sepanjang 2025, ASUS mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 26 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Pendapatan yang mencapai 100 miliar dolar Taiwan bahkan terealisasi lebih cepat dari target. Sementara itu, bisnis server melonjak lebih dari 100 persen YoY pada kuartal III 2025 dan berkontribusi sekitar 20 persen terhadap total pendapatan pada periode tersebut.

Meski demikian, keputusan “balik kanan” dari ekspansi smartphone tidak berarti ASUS kehilangan identitasnya di pasar teknologi. Langkah ini mencerminkan keberanian perusahaan keluar dari zona nyaman dan mengalihkan fokus ke bidang yang masih terbuka luas dan sarat potensi inovasi. Meski mengandung risiko, strategi tersebut menunjukkan upaya ASUS tetap relevan di tengah perubahan industri global.

Hingga kini, ASUS belum memberikan pernyataan lanjutan terkait masa depan bisnis smartphone mereka. Jika jeda peluncuran perangkat ini benar-benar berlangsung lebih dari satu tahun, pertanyaannya adalah apakah ini sekadar “istirahat panjang” atau awal perpisahan secara bertahap dari pasar smartphone. Namun, satu hal yang pasti, smartphone tidak lagi ditempatkan sebagai pusat strategi ASUS, melainkan sebagai bagian dari masa lalu yang perlahan ditinggalkan demi menyongsong era kecerdasan buatan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika
Follow Us

Latest in Tech

See More

Telkomsel Konfirmasi Layanannya Kembali Pulih

22 Jan 2026, 15:05 WIBTech