Bagaimana Kamera Analog Memotret Proklamasi Kemerdekaan?

- Foto Proklamasi 17 Agustus 1945 diabadikan dengan kamera analog berfilm, yang membutuhkan proses cuci-cetak dan membatasi jumlah bidikan setiap gulungan.
- Frans dan Alex Mendur mempertaruhkan keselamatan untuk mendokumentasikan pembacaan Proklamasi; Frans memakai Leica 35 mm dan berhasil menyelamatkan gulungan film dari penyitaan tentara Jepang.
- Klise foto disembunyikan di bawah pohon pisang, lalu diterbitkan Harian Merdeka pada Februari 1946; dokumentasi yang ditemukan mencakup foto-foto Proklamasi lebih beragam.
Tiap tanggal 17 Agustus, masyarakat Indonesia kembali melihat foto-foto ikonis ketika Soekarno membacakan teks Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Gambar hitam-putih tersebut telah menghiasi buku pelajaran, museum, hingga berbagai media selama puluhan tahun. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa foto-foto bersejarah itu diabadikan menggunakan kamera analog dengan gulungan film, jauh sebelum era kamera digital dan smartphone. Berkat dokumentasi itulah, generasi saat ini masih bisa menyaksikan salah satu momen paling penting dalam sejarah bangsa.
Di balik foto yang kini menjadi simbol lahirnya Republik Indonesia, terdapat kisah perjuangan dua wartawan foto bersaudara, Alex Impurung Mendur dan Frans Soemarto Mendur. Keduanya mempertaruhkan keselamatan demi mengabadikan pembacaan Proklamasi pada 17 Agustus 1945. Tanpa keberanian mereka, Indonesia mungkin tidak memiliki bukti visual autentik tentang detik-detik kemerdekaan.
1. Kamera analog jadi andalan wartawan pada masa itu

ilustrasi kamera (unsplash.com/Luca Bravo) Pada 1945, teknologi fotografi masih mengandalkan kamera analog yang menggunakan gulungan film peka cahaya atau film seluloid. Saat tombol rana ditekan, cahaya masuk melalui lensa dan mengenai lapisan kimia pada film sehingga membentuk gambar laten. Hasil foto belum bisa langsung dilihat karena film harus dicuci dan diproses di laboratorium sebelum akhirnya dicetak. Proses ini membutuhkan ketelitian sekaligus kesabaran karena fotografer baru mengetahui hasil jepretannya setelah seluruh tahapan selesai.
Berbeda dari kamera digital, kamera analog memiliki keterbatasan jumlah bidikan dalam satu gulungan film. Satu roll film umumnya hanya mampu menyimpan 12, 24, atau 36 frame sehingga setiap jepretan harus benar-benar diperhitungkan. Selain itu, fotografer juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli film, mencuci klise, hingga mencetak hasil foto. Karena itu, memotret pada masa tersebut membutuhkan keterampilan sekaligus perencanaan yang matang.
2. Leica menjadi salah satu kamera yang digunakan untuk mengabadikan Proklamasi

ilustrasi film strip (unsplash.com/Ina Andrijenko) Salah satu kamera yang paling populer di kalangan wartawan foto saat itu adalah Leica berformat 35 mm. Ukurannya yang ringkas membuat kamera ini mudah dibawa ke berbagai lokasi peliputan tanpa mengorbankan kualitas gambar. Leica juga dikenal memiliki lensa berkualitas tinggi sehingga mampu menghasilkan foto yang tajam dan detail. Tak heran jika kamera ini menjadi pilihan banyak jurnalis foto di berbagai negara.
Frans Soemarto Mendur menggunakan kamera Leica ketika mengabadikan pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Menurut fotografer senior sekaligus kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara, Oscar Motuloh, penggunaan Leica menunjukkan bahwa Frans telah memakai teknologi fotografi yang tergolong modern pada masanya. Kamera jenis ini mulai digunakan wartawan foto sejak 1937 dan juga menjadi andalan para fotografer di Eropa.
3. Momen bersejarah yang nyaris hilang

dokumentasi pembacaan Proklamasi (commons.wikimedia.org/JayCubby) Pada pagi 17 Agustus 1945, Alex dan Frans Mendur datang ke kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 untuk mendokumentasikan pembacaan Proklamasi. Mereka menjadi dua fotografer yang berhasil merekam momen bersejarah ketika Indonesia menyatakan kemerdekaannya kepada dunia. Hasil jepretan tersebut kemudian menjadi bukti visual paling penting mengenai lahirnya Republik Indonesia. Foto-foto itu juga menjadi arsip sejarah yang terus dikenang hingga sekarang.
Namun, perjalanan keduanya tidak berjalan mulus setelah upacara selesai. Alex ditangkap oleh tentara Jepang dan hasil jepretannya dirampas sehingga diduga musnah. Sementara itu, Frans berhasil meloloskan diri sambil menyelamatkan gulungan film yang berisi foto-foto Proklamasi. Keberhasilan Frans menjaga klise itulah yang membuat dokumentasi sejarah tersebut tetap bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menurut kisah keluarga Mendur, klise tersebut dimasukkan ke dalam sebuah kaleng, dibungkus kain, lalu ditanam di bawah pohon pisang di belakang rumah. Cara sederhana itu dilakukan agar film tidak ditemukan oleh tentara Jepang yang sedang melakukan penyisiran. Beberapa bulan kemudian, foto-foto tersebut berhasil diterbitkan di Harian Merdeka pada Februari 1946 atau sekitar enam bulan setelah Indonesia merdeka. Publik pun akhirnya dapat melihat secara langsung dokumentasi Proklamasi Kemerdekaan.
4. Foto proklamasi ternyata lebih banyak

pengibaran Sang Saka Merah Putih di jalan Pegangsaan Timur 56 (commons.wikimedia.org/Arsonal) Selama bertahun-tahun, masyarakat hanya mengenal beberapa foto Proklamasi yang sering dimuat dalam buku pelajaran sejarah. Padahal, keluarga Mendur menyebut masih menyimpan lima foto penting, mulai dari pembacaan Proklamasi, pengibaran bendera, naskah Proklamasi tulisan tangan, naskah ketikan, hingga suasana upacara yang menampilkan Mohammad Hatta. Seluruh foto tersebut berasal dari gulungan film yang berhasil diselamatkan Frans Mendur. Keberadaannya menunjukkan bahwa dokumentasi Proklamasi sebenarnya lebih beragam daripada yang selama ini dikenal masyarakat.
Di sisi lain, penelitian yang dilakukan Kantor Berita Antara bersama Yayasan Bung Karno pada 2012 menemukan 13 foto lain hasil jepretan Frans Mendur. Mengutip Good News From Indonesia, foto-foto langka tersebut sempat dipamerkan di Galeri Foto Jurnalistik Antara sebelum kemudian dihadirkan dalam aplikasi augmented reality bertajuk Histori Masa Depan. Oscar Motuloh juga menduga masih ada foto-foto lain yang belum ditemukan hingga sekarang. Dugaan itu muncul karena satu gulungan film Leica pada masa tersebut dapat memuat lebih banyak frame daripada yang selama ini diketahui.
5. Mengapa kamera analog terlihat berbeda?

ilustrasi lensa kamera (unsplash.com/aziz abdul) Selain prosesnya yang lebih rumit, kamera analog menghasilkan karakter visual yang berbeda dibanding kamera digital. Foto analog memiliki butiran halus atau grain yang khas, warna yang cenderung lebih hangat, dan kontras yang dipengaruhi oleh jenis film yang digunakan. Setiap merek film bahkan memiliki karakter warna yang berbeda sehingga hasil akhirnya tidak selalu sama. Keunikan inilah yang membuat banyak fotografer masih menggemari kamera analog hingga sekarang.
Sebaliknya, kamera digital menawarkan hasil yang lebih tajam, konsisten, dan dapat langsung dilihat sesaat setelah memotret. File digital juga jauh lebih mudah diedit, mulai dari koreksi warna hingga menghapus objek yang tidak diinginkan. Selain itu, fotografer tidak perlu membeli gulungan film setiap kali ingin memotret karena penyimpanan dilakukan menggunakan kartu memori. Kemudahan tersebut membuat kamera digital menjadi pilihan utama untuk kebutuhan fotografi modern.
Foto-foto karya Mendur Bersaudara bukan sekadar dokumentasi sejarah, tetapi juga bukti bahwa Indonesia benar-benar memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Tanpa jepretan mereka, kisah Proklamasi mungkin hanya diwariskan melalui cerita lisan atau ilustrasi yang dibuat bertahun-tahun kemudian. Kehadiran kamera analog justru memastikan peristiwa tersebut dapat disaksikan lintas generasi melalui gambar yang autentik. Itulah sebabnya foto-foto Proklamasi memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.
Hingga kini, tiap kali foto-foto Proklamasi ditampilkan, masyarakat tidak hanya melihat sosok Soekarno dan Mohammad Hatta. Di balik setiap bingkai hitam-putih itu terdapat keberanian dua wartawan foto yang mempertaruhkan keselamatan demi menyelamatkan sejarah bangsa. Kamera Leica dan gulungan film sederhana menjadi saksi bisu lahirnya Republik Indonesia. Karena itulah, setiap jepretan tersebut layak dikenang sebagai warisan visual yang tak ternilai harganya.






















