Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Barclays Pangkas 5.000 Karyawan, AI mulai Ancam Pekerja Bank
ilustrasi Barclays, bank, perbankan (unsplash.com/Rubaitul Azad)
  • Barclays akan memangkas sekitar 5.000 posisi, termasuk 1.000 yang sudah dihapus, sebagai bagian efisiensi, modernisasi operasional, dan peningkatan investasi teknologi hingga akhir 2026.
  • Sekitar 60 persen pengurangan diperkirakan menyasar fungsi pendukung, sementara AI berpotensi membantu tugas administratif, pengolahan informasi, dan pemrograman dasar, tanpa berarti seluruh pekerjaan tersebut hilang.
  • Meski laba sebelum pajak kuartal III 2026 naik 12 persen menjadi £2,3 miliar, Barclays tetap menekan biaya; tren pengurangan pekerja terkait investasi AI juga terjadi di perusahaan lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai membawa perubahan besar di dunia kerja, termasuk industri perbankan. Barclays, salah satu grup perbankan besar asal Inggris, berencana memangkas sekitar 5.000 karyawan di tengah upaya perusahaan meningkatkan penggunaan teknologi.

Langkah ini menimbulkan kekhawatiran karena AI berpotensi mengambil alih sejumlah pekerjaan yang selama ini dikerjakan manusia, terutama tugas administratif dan operasional. Meski begitu, perusahaan menegaskan bahwa pengurangan tenaga kerja tersebut gak seluruhnya disebabkan oleh penggunaan AI.

Buat kamu yang bekerja di sektor keuangan atau sedang mempertimbangkan karier di bidang perbankan, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa kemampuan beradaptasi dengan teknologi semakin penting. Yuk, simak lima hal penting di balik keputusan Barclays pangkas 5.000 karyawan dan bagaimana perkembangan AI bisa memengaruhi masa depan dunia kerja!

1. Barclays targetkan pengurangan 5.000 karyawan

ilustrasi layoff, PHK, pengangguran, menganggur (magnific.com/Drazen Zigic)

Barclays berencana mengurangi sekitar 5.000 posisi pekerjaan atau setara dengan 5 persen dari total tenaga kerjanya di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 posisi sudah dihapus, sedangkan 4.000 posisi lainnya ditargetkan selesai dikurangi hingga akhir 2026. Kebijakan ini menjadi bagian dari program efisiensi perusahaan yang telah berjalan selama tiga tahun. Fokus utamanya berada pada bisnis perbankan ritel Barclays di Inggris.

Pengurangan tenaga kerja tersebut tidak sepenuhnya berkaitan dengan AI. Barclays juga sedang melakukan modernisasi operasional untuk menyederhanakan proses kerja dan menekan biaya perusahaan. Meski begitu, peningkatan penggunaan teknologi menjadi bagian penting dari strategi tersebut karena sejumlah pekerjaan bisa diselesaikan secara lebih efisien dengan bantuan sistem otomatis. Kondisi ini memperlihatkan bahwa perubahan teknologi dapat memengaruhi kebutuhan tenaga kerja, bahkan di perusahaan perbankan besar.

2. Pekerja bagian pendukung menghadapi risiko terbesar

ilustrasi programmer, IT (pexels.com/Lisa from Pexels)

Sekitar 60 persen dari total pengurangan posisi di Barclays diperkirakan menyasar fungsi pendukung atau support functions. Bagian ini mencakup sejumlah pekerjaan di balik operasional bank, termasuk posisi pengembang perangkat lunak. Sementara itu, sebagian pekerjaan pendukung untuk operasional Inggris dilakukan di India. Karena itu, karyawan yang menjalankan fungsi tersebut diperkirakan ikut terdampak cukup besar oleh kebijakan pengurangan tenaga kerja.

Lantas, kenapa pekerjaan di bagian pendukung menjadi perhatian? Sejumlah tugas administratif, pengolahan informasi, dan pekerjaan pemrograman dasar berpotensi dibantu atau diotomatisasi dengan AI. Ketika perusahaan mampu menyelesaikan tugas tertentu menggunakan teknologi, kebutuhan terhadap tenaga kerja untuk mengerjakan tugas yang sama bisa berkurang. Namun, hal ini bukan berarti semua pekerjaan administratif atau pemrograman akan langsung hilang, ya, sebab penerapan teknologi tetap bergantung pada kebutuhan operasional dan tingkat kompleksitas pekerjaan.

Bagi kamu yang bekerja di sektor perbankan, perkembangan ini bisa menjadi alasan untuk mulai mengevaluasi keterampilan yang dimiliki. Kemampuan mengoperasikan teknologi, memahami data, serta menyelesaikan masalah yang membutuhkan penilaian manusia dapat menjadi nilai tambah. Kamu juga perlu memahami bagaimana AI digunakan dalam pekerjaan sehari-hari agar bisa menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan perusahaan.

3. Investasi teknologi menjadi alasan utama efisiensi

ilustrasi AI (unsplash.com/Mohamed Nohassi)

CEO Barclays, C. S. Venkatakrishnan, menjelaskan bahwa pengurangan karyawan berkaitan dengan investasi besar perusahaan di bidang teknologi. Investasi tersebut ditujukan untuk menyederhanakan proses kerja sekaligus meningkatkan kinerja bisnis. Ia juga menilai AI akan memiliki peran penting dalam operasional perusahaan pada masa mendatang. Akan tetapi, menurutnya, AI hanyalah bagian pelengkap dari strategi yang lebih besar karena perusahaan tetap perlu membangun infrastruktur teknologi agar manfaatnya bisa dirasakan secara maksimal.

Strategi ini menunjukkan bahwa penerapan AI gak cukup dilakukan dengan memasang perangkat lunak terbaru. Perusahaan perlu menyiapkan sistem, infrastruktur, dan proses kerja yang mendukung penggunaan teknologi tersebut. Setelah semuanya terintegrasi, otomatisasi dapat membantu menyelesaikan tugas tertentu dengan lebih cepat dan mengurangi pekerjaan berulang. Dampaknya, perusahaan berpeluang menghemat biaya operasional sekaligus mengalihkan anggaran untuk mengembangkan teknologi.

Meski demikian, penghematan melalui teknologi gak selalu berarti kinerja keuangan langsung meningkat sesuai harapan. Analis investasi AJ Bell, Russ Mould, menilai Barclays belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi melalui hasil keuangannya. Ia juga menyoroti bahwa industri perbankan masih perlu mempertimbangkan keamanan dan kualitas layanan pelanggan sebelum menerapkan AI secara luas untuk menekan biaya. Artinya, perusahaan tetap harus menyeimbangkan efisiensi dengan kebutuhan nasabah.

4. Laba Barclays naik, tapi pengurangan karyawan tetap berlanjut

ilustrasi suasana kantor, ruang kerja, karyawan kantoran, coworking space (vecteezy.com/Benis Arapovic)

Di tengah rencana pengurangan tenaga kerja, Barclays justru mencatatkan kenaikan laba sebelum pajak pada kuartal III 2026. Menurut laporan Reuters pada 22 Oktober 2026, laba sebelum pajak perusahaan mencapai £2,3 miliar atau sekitar Rp50,6 triliun, naik 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar £2,1 miliar. Namun, angka tersebut sedikit di bawah perkiraan rata-rata analis sebesar £2,4 miliar.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa perusahaan dapat mencatatkan pertumbuhan laba sekaligus melakukan pengurangan tenaga kerja. Barclays tengah menjalankan strategi untuk menekan biaya jangka panjang, termasuk melalui pemanfaatan teknologi dan penyederhanaan operasional. Perusahaan juga memperkirakan langkah efisiensinya akan menghasilkan tambahan penghematan sebesar £1,1 miliar atau sekitar Rp24,2 triliun pada 2027.

Perlu kamu pahami, kenaikan laba gak otomatis membuktikan bahwa AI menjadi penyebab langsung pengurangan karyawan, lho. Keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi efisiensi yang lebih luas, sementara kontribusi teknologi terhadap hasil keuangan perusahaan masih perlu dilihat dari perkembangan berikutnya. Meski begitu, langkah Barclays memperlihatkan bahwa perusahaan besar semakin serius menghubungkan investasi teknologi dengan pengelolaan biaya dan kebutuhan tenaga kerja.

5. Barclays bukan satu-satunya perusahaan yang mengurangi pekerja

ilustrasi Meta, perusahaan teknologi, AI (magnific.com/magnific)

Perubahan ini juga terjadi di perusahaan lain yang sedang meningkatkan investasi AI. Menurut laporan Associated Press pada 23 Oktober 2026, Meta berencana memangkas sekitar 8.000 karyawan atau 10 persen dari tenaga kerjanya, sementara Microsoft menawarkan program pengunduran diri sukarela kepada sekitar 8.750 karyawan di Amerika Serikat. Sejumlah perusahaan tersebut sedang mengatur ulang pengeluaran agar bisa memberikan lebih banyak anggaran untuk pengembangan AI dan infrastruktur teknologi.

Di industri perbankan sendiri, Standard Chartered berencana mengurangi lebih dari 15 persen tenaga kerja bagian back office hingga 2030. Perusahaan keuangan lainnya juga mulai mengandalkan otomatisasi untuk menyederhanakan proses operasional. Tren ini menunjukkan bahwa perubahan kebutuhan tenaga kerja akibat perkembangan teknologi berpotensi meluas ke berbagai sektor, meskipun alasan dan skala pengurangan karyawan berbeda-beda di setiap perusahaan.

Namun, bukan berarti kamu harus langsung khawatir bahwa semua pekerjaan akan digantikan AI. Teknologi memang mampu mengambil alih sejumlah tugas berulang, tapi perusahaan tetap membutuhkan manusia untuk mengawasi proses, menangani persoalan yang rumit, menjaga keamanan, dan memberikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Bagi pekerja maupun pencari kerja, langkah yang lebih realistis adalah terus meningkatkan keterampilan digital, belajar menggunakan AI secara produktif, dan mengembangkan kemampuan yang sulit digantikan otomatisasi.

Rencana Barclays pangkas 5.000 karyawan menjadi salah satu gambaran nyata tentang bagaimana AI dan otomatisasi mulai memengaruhi dunia kerja. Meski gak seluruh pengurangan tenaga kerja disebabkan oleh AI, investasi teknologi kini menjadi bagian penting dari strategi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi.

Untuk kamu yang sedang membangun karier, perkembangan ini bisa dijadikan momentum untuk mengevaluasi kemampuan dan mempelajari keterampilan baru. Sebab di tengah perubahan dunia kerja, kemampuan beradaptasi akan semakin penting agar kamu tetap relevan dengan kebutuhan industri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article