ilustrasi akses RFID (pexels.com/ Susanne Plank)
Agar sistem ini dapat bekerja, ada tiga komponen penting yang saling terhubung. Yang pertama adalah kartu RFID (RFID Tag). Ini adalah kartu akses yang biasa digunakan sebenarnya bukan sekadar kartu plastik. Di dalamnya terdapat sebuah microchip dan antena kecil. Microchip berfungsi menyimpan identitas unik, misalnya nomor kartu atau kode akses. Sementara itu, antena bertugas menangkap energi yang dipancarkan oleh alat pembaca RFID.
Sebagian besar kartu akses menggunakan teknologi passive RFID, sehingga tidak memerlukan baterai sebagai sumber daya. Saat kartu didekatkan ke reader, antena di dalamnya akan menangkap energi dari gelombang radio yang dipancarkan perangkat tersebut. Energi inilah yang kemudian mengaktifkan chip agar dapat mengirimkan data identitas ke sistem.
Lalu, ada RFID Reader, yaitu perangkat yang biasanya dipasang di dekat pintu masuk. Alat ini terus-menerus memancarkan medan elektromagnetik atau gelombang radio. Saat kartu berada dalam jarak tertentu - umumnya sekitar 1 hingga 10 sentimeter - gelombang tersebut akan mengaktifkan chip yang ada di dalam kartu. Setelah aktif, kartu langsung mengirimkan data identitasnya kembali ke reader.
Terakhir, reader tidak mengambil keputusan sendiri karena ada sistem kontrol dan database. Data yang diterima akan dikirim ke sistem kontrol atau server yang berisi database seluruh pengguna. Sistem kemudian mengecek apakah nomor kartu tersebut terdaftar dan memiliki hak akses. Jika datanya cocok, pintu elektronik akan terbuka secara otomatis. Sebaliknya, jika kartu tidak dikenali atau izin aksesnya sudah dicabut, pintu tetap terkunci.