Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membawa banyak kemudahan, tetapi teknologi ini juga membuat ancaman keamanan digital semakin kompleks. Hacker kini bisa memanfaatkan AI untuk menemukan celah keamanan perangkat lunak, menyusun pesan penipuan yang meyakinkan, hingga mempercepat serangan terhadap sistem yang digunakan banyak orang.
5 Cara Melindungi Akun dari Serangan Hacker Berbasis AI

- Ancaman siber berbasis AI makin kompleks, termasuk pencarian celah keamanan dan penipuan meyakinkan; kerentanan PHP menunjukkan perbaikan juga bergantung pada perusahaan teknologi.
- Pengguna disarankan mengaktifkan MFA, memakai kata sandi unik, mempertimbangkan passkey, serta menyalakan pembaruan otomatis pada perangkat, router, aplikasi, dan perangkat rumah pintar.
- Waspadai pesan mendesak berisi tautan, OTP, atau PIN; akses layanan melalui kanal resmi, pantau transaksi keuangan, dan pilih situs maupun layanan dengan rekam jejak keamanan baik.
Situasi ini menjadi perhatian setelah kerentanan pada PHP, bahasa pemrograman yang digunakan di balik banyak situs web, memicu kekhawatiran terhadap keamanan layanan digital. Meski sebagian besar perbaikan harus dilakukan oleh perusahaan teknologi dan pengelola situs, kamu tetap bisa mengambil langkah untuk mengurangi risiko pencurian akun dan kebocoran data pribadi. Beberapa cara melindungi akun dari serangan hacker berbasis AI berikut ini bisa kamu terapkan sebagai langkah preventif.
1. Aktifkan autentikasi multifaktor dan gunakan kata sandi unik

ilustrasi password, kata sandi (magnific.com/onlyyouqj) Langkah pertama yang perlu kamu lakukan adalah mengaktifkan autentikasi multifaktor atau multi-factor authentication (MFA) pada akun penting, seperti email, media sosial, layanan perbankan, dan marketplace. Fitur ini meminta lebih dari satu bentuk verifikasi saat kamu masuk ke akun, misalnya kata sandi yang diikuti dengan kode verifikasi atau persetujuan melalui aplikasi autentikator. Dengan begitu, orang lain akan lebih sulit mengakses akunmu meskipun berhasil mengetahui kata sandinya. Jika tersedia, kamu juga bisa menggunakan kunci keamanan fisik atau metode verifikasi lain yang lebih tahan terhadap penipuan digital.
Selain mengaktifkan MFA, pastikan setiap akun memiliki kata sandi yang berbeda. Hindari memakai satu kata sandi untuk email, akun belanja, dan media sosial karena kebocoran di satu layanan bisa membuka jalan bagi peretas untuk mencoba masuk ke akun lainnya. Emily Austin, peneliti keamanan utama di perusahaan keamanan siber Censys, menyarankan penggunaan kata sandi unik untuk setiap situs serta pemantauan transaksi secara berkala. Kamu bisa memanfaatkan pengelola kata sandi agar lebih mudah membuat dan menyimpan kombinasi yang kuat tanpa harus menghafal semuanya.
2. Aktifkan pembaruan otomatis pada perangkat

ilustrasi OS Harmony, Huawei, perusahaan teknologi, smartphone (unsplash.com/wu yi) Kamu mungkin sering menunda pembaruan sistem operasi atau aplikasi karena merasa prosesnya memakan waktu. Padahal, pembaruan perangkat lunak kerap berisi perbaikan celah keamanan yang dapat dimanfaatkan penyerang untuk menyusup ke sistem. Ketika celah tersebut sudah diketahui, menunda pemasangan pembaruan bisa membuat perangkat lebih lama berada dalam kondisi rentan. Karena itu, aktifkan fitur pembaruan otomatis pada ponsel, komputer, dan router Wi-Fi di rumah selama fitur tersebut tersedia.
Dan Guido, CEO sekaligus salah satu pendiri perusahaan keamanan siber Trail of Bits, merekomendasikan agar pengguna mengaktifkan pembaruan otomatis pada perangkat pribadi dan router. Runa Sandvik, pendiri Granitt sekaligus pakar keamanan digital, juga mengingatkan pentingnya memperbarui aplikasi dan memeriksa perangkat rumah yang terhubung ke internet. Contohnya, kamera pengawas, televisi pintar, dan perangkat rumah pintar lainnya mungkin memiliki pembaruan keamanan tersendiri. Jika perangkat sudah tidak mendapat dukungan pembaruan, periksa pilihan dari produsennya dan pertimbangkan menggantinya apabila risiko keamanannya tinggi.
3. Pastikan layanan digital yang kamu gunakan rutin diperbarui

ilustrasi SEO, mesin pencari, search, browsing (magnific.com/magnific) Perlu kamu pahami bahwa keamanan akun gak sepenuhnya berada di tangan pengguna, lho. Adakalanya celah keamanan ditemukan pada perangkat lunak yang digunakan oleh sebuah situs web atau aplikasi, sehingga perbaikannya harus dilakukan oleh pengembang maupun pengelola layanan. Salah satu contohnya adalah kerentanan PHP yang ramai dibicarakan pada Oktober 2026. Menurut laporan The Guardian, PHP digunakan oleh sekitar 70 persen situs web di dunia, sehingga kelemahan pada bahasa pemrograman tersebut berpotensi berdampak luas apabila tidak segera diperbaiki.
Daniel Gardham, dosen di Surrey Centre for Cyber Security dan University of Surrey, menjelaskan bahwa organisasi perlu mengetahui perangkat lunak yang mereka jalankan, segera memasang perbaikan keamanan, serta memeriksa apakah sistem mereka sudah terlanjur disusupi. Hal ini penting karena AI dapat mempercepat penemuan celah keamanan, sementara memperbaikinya di banyak sistem membutuhkan waktu dan koordinasi. Sebagai pengguna, kamu memang gak bisa memasang perbaikan langsung pada server milik sebuah perusahaan. Namun, kamu bisa memilih layanan yang memiliki rekam jejak keamanan yang baik, memperhatikan pengumuman resmi terkait gangguan keamanan, dan menghindari transaksi penting melalui situs yang menunjukkan tanda-tanda mencurigakan.
4. Waspadai pesan penipuan yang memanfaatkan kepanikan

ilustrasi pesan di ponsel (pexels.com/cottonbro) Ketika kabar tentang serangan siber ramai dibicarakan, penipu bisa memanfaatkan situasi tersebut untuk membuat korban bertindak terburu-buru. Kamu mungkin menerima email, SMS, atau pesan WhatsApp yang mengaku berasal dari bank, marketplace, maupun layanan digital tertentu. Pesan tersebut bisa berisi peringatan bahwa akunmu terancam diretas dan meminta kamu segera mengeklik tautan untuk mengamankannya. Jangan langsung percaya, ya, karena tautan tersebut bisa mengarah ke situs palsu yang dirancang untuk mencuri kata sandi atau informasi pribadi.
Nic Adams, salah satu pendiri sekaligus CEO perusahaan keamanan siber 0rcus, mengingatkan pengguna agar berhati-hati terhadap tautan yang dikirim tanpa diminta. Ia menyarankan agar pengguna memeriksa petunjuk keamanan melalui aplikasi resmi atau mengetik alamat situs secara langsung, bukan mengikuti tautan dalam pesan yang mencurigakan. Kamu juga perlu waspada terhadap pesan yang mengandung ancaman, batas waktu singkat, atau permintaan kode OTP dan PIN. Jika pesan mengaku berasal dari bank, hubungi layanan pelanggan melalui kanal resmi untuk memastikan kebenarannya.
5. Lindungi transaksi keuangan dan pertimbangkan penggunaan passkey

ilustrasi bank, internet banking (freepik.com/rawpixel.com) Akun keuangan perlu mendapat perhatian khusus karena dampak pembobolan bisa langsung terasa pada saldo dan transaksi pribadimu. Biasakanlah memeriksa riwayat transaksi secara rutin, mengaktifkan notifikasi pembayaran, dan segera menghubungi bank jika menemukan aktivitas yang gak kamu kenali. Saat berbelanja online, utamakan toko dengan reputasi baik dan periksa alamat situs sebelum memasukkan informasi pembayaran. Hindari menyimpan informasi sensitif di situs yang gak jelas keamanannya, terutama ketika kamu belum pernah bertransaksi di sana.
Paul Benda, wakil presiden eksekutif bidang risiko, penipuan, dan keamanan siber di American Bankers Association, menilai konsumen tetap perlu waspada meskipun bank telah memperkuat pertahanan terhadap ancaman digital. Ia juga menyarankan agar pengguna tidak menggunakan ulang kata sandi di berbagai situs belanja dan mempertimbangkan passkey jika tersedia. Menurut penjelasan Microsoft Learn, passkey dan kunci keamanan berbasis FIDO2 dapat membantu mengurangi risiko phishing karena proses autentikasinya dirancang agar lebih sulit dimanipulasi melalui situs palsu. Jadi, ketika sebuah layanan menyediakan pilihan masuk menggunakan passkey, kamu bisa mempertimbangkannya sebagai alternatif kata sandi konvensional.
Melindungi akun digital di era AI memang membutuhkan kewaspadaan lebih karena pelaku kejahatan siber bisa memanfaatkan teknologi untuk mempercepat dan menyempurnakan serangannya. Akan tetapi, beberapa cara melindungi akun dari serangan hacker berbasis AI bisa kamu gunakan untuk mengurangi risiko. Perlindungan terhadap akunmu bisa dilakukan dengan mengaktifkan autentikasi multifaktor, menggunakan kata sandi unik, memperbarui perangkat, serta menghindari tautan mencurigakan.
Jangan lupa memantau transaksi keuangan dan memanfaatkan metode autentikasi yang lebih tahan terhadap phishing jika tersedia. Meski begitu, perlu diingat bahwa langkah pribadi gak bisa mencegah seluruh jenis serangan, sehingga perusahaan penyedia layanan juga bertanggung jawab untuk memperbaiki celah keamanan dan melindungi data penggunanya.






![[REVIEW] Harvest Moon: Echoes of Teradea, Bukan Game Rekomendasi](https://image.idntimes.com/post/20261023/harvest-moon-echoes-of-teradea-1_35b0c2d8-9c60-46e7-8b3c-8d0ea4f54dd4.png)















