ilustrasi kecerdasan buatan (unsplash.com/Steve Johnson)
Kecerdasan Sonnet 5 terlihat pada tolok ukur pengujian rekayasa perangkat lunak bernama SWE-bench Pro. Model ini sukses meraih skor 63,2 persen, melampaui pencapaian versi sebelumnya yang hanya 58,1 persen. Skor tersebut bahkan mampu mengungguli GPT-5.5 besutan OpenAI yang mencatatkan angka 58,6 persen.
Meskipun begitu, skor kodingnya masih berada di bawah Opus 4.8 yang unggul dengan skor 69,2 persen. Kemampuan navigasi sistem komputer Sonnet 5 juga diuji melalui evaluasi OSWorld-Verified. Pada tes tersebut, AI ini menembus skor 81,2 persen, hampir menyamai skor Opus 4.8 di kisaran 83,4 persen.
Hal menarik justru muncul pada pengujian kemampuan pekerjaan berbasis pengetahuan menggunakan metode GDPval-AA v2. Sonnet 5 mencetak skor 1618, mengalahkan Opus 4.8 secara tipis yang hanya mampu meraih skor 1615. Artinya, Sonnet 5 sangat bisa diandalkan untuk riset mendalam, tugas kantoran, atau analisis yang membutuhkan penilaian kritis.
Sayangnya, Anthropic belum merilis skor resmi untuk pengujian Terminal-Bench 2.1 bagi model terbarunya ini. Kategori pengujian tersebut saat ini dikuasai oleh model pratinjau GPT-5.6 Sol Ultra milik pesaingnya dengan skor 91,9 persen. Kendati demikian, model Anthropic ini tetap unggul dari segi ketersediaan karena sudah bisa digunakan secara luas oleh publik.