Perkembangan akal imitasi (artificial intelligence/AI) tidak hanya mempercepat inovasi digital, tetapi juga membuat ancaman keamanan siber semakin cepat, realistis, dan sulit dikenali. Teknologi seperti deepfake, voice cloning, hingga model AI terbuka kini dapat dimanfaatkan untuk memperluas skala penipuan dan serangan siber.
Kondisi ini membuat keamanan tidak lagi bisa diperlakukan sebagai lapisan tambahan setelah sebuah teknologi selesai dikembangkan. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mendorong agar aspek keamanan justru dirancang sejak awal, seiring dengan pengembangan teknologi AI.
