"AI tidak secara tiba-tiba menciptakan kejahatan siber, tetapi secara eksponensial meningkatkan kecepatan dan jangkauannya," kata Nezar dalam Kaspersky Academic Partners Summit 2026, Rabu (19/8/2026).
Keamanan Siber Harus Dirancang Sejak Awal, Bukan Setelah Diretas

- Kemajuan AI, termasuk deepfake dan voice cloning, mempercepat serta memperluas penipuan siber; di Indonesia, teknologi ini disebut berkontribusi pada kerugian hingga Rp9,1 triliun.
- Wamenkomdigi Nezar Patria meminta keamanan dan akuntabilitas dirancang sejak awal pengembangan AI, bukan ditambahkan setelah kebocoran atau serangan terjadi, melalui pendekatan resilience over restriction.
- AI bersifat dual-use: dapat memperkuat deteksi ancaman, tetapi juga disalahgunakan untuk menyerang. Nezar menekankan pengawasan manusia, batasan jelas, dan sistem yang dapat diaudit.
Perkembangan akal imitasi (artificial intelligence/AI) tidak hanya mempercepat inovasi digital, tetapi juga membuat ancaman keamanan siber semakin cepat, realistis, dan sulit dikenali. Teknologi seperti deepfake, voice cloning, hingga model AI terbuka kini dapat dimanfaatkan untuk memperluas skala penipuan dan serangan siber.
Kondisi ini membuat keamanan tidak lagi bisa diperlakukan sebagai lapisan tambahan setelah sebuah teknologi selesai dikembangkan. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mendorong agar aspek keamanan justru dirancang sejak awal, seiring dengan pengembangan teknologi AI.
AI buat serangan siber semakin cepat
Kemajuan AI membuat penipuan dan serangan siber tidak hanya semakin canggih, tetapi juga bisa dilakukan dengan lebih cepat dan dalam skala yang jauh lebih besar. Teknik penipuan di atas dapat dimanfaatkan untuk meniru suara, membuat identitas palsu, hingga meyakinkan korban seolah-olah sedang berkomunikasi dengan orang yang mereka kenal.
Di Indonesia, penggunaan teknologi itu disebut telah berkontribusi terhadap kerugian hingga Rp9,1 triliun. Menurut Nezar, AI sebenarnya tidak menciptakan kejahatan siber dari nol. Namun, teknologi ini membuat serangan bisa bergerak lebih cepat dan menjangkau lebih banyak korban.
Masalahnya, masyarakat juga semakin sulit membedakan mana konten yang benar-benar dibuat manusia dan mana yang dihasilkan AI. Karena itu, menurut Nezar, keamanan perlu dipikirkan bersamaan dengan perkembangan teknologi, bukan menunggu sampai serangan terjadi.
Keamanan harus dirancang sejak awal

Ilustrasi tulisan tanda peringatan serangan siber (pexels.com/Lucas Andrade) Menghadapi ancaman tersebut, Nezar mendorong perubahan cara pandang dalam membangun teknologi berbasis AI. Menurutnya, keamanan tidak seharusnya menjadi fitur tambahan yang baru dipikirkan ketika sebuah sistem sudah selesai dibuat. Sebaliknya, perlindungan dan pertanggungjawaban harus sudah dimasukkan sejak tahap awal pengembangan.
Dalam paparannya, pendekatan ini disebut 'resilience over restriction'. Artinya, pemerintah tidak ingin keamanan justru menghambat inovasi AI. Inovasi tetap perlu berkembang, tetapi harus dibarengi dengan sistem pertahanan dan akuntabilitas sejak awal.
"Kita perlu bergeser ke kiri, bukan ke kiri dalam politik, tetapi shift to the left dalam design thinking atau perencanaan bisnis, di mana keamanan ditempatkan sebagai hal pertama," ujar Nezar.
Dengan cara ini, keamanan tidak lagi diposisikan sebagai respons setelah terjadi kebocoran atau serangan, melainkan menjadi bagian dari proses ketika teknologi tersebut pertama kali dirancang. Menurut Nezar, pendekatan ini penting agar Indonesia tetap bisa mendorong inovasi digital tanpa mengorbankan keamanan masyarakat.
AI bisa saja disalahgunakan
Menurut Nezar, tantangan keamanan AI tidak berhenti pada bagaimana teknologi digunakan untuk melawan serangan. Teknologi yang sama juga bisa dimanfaatkan untuk menyerang. Karena itu, AI perlu dipandang sebagai teknologi dual-use, yakni teknologi yang bisa digunakan untuk tujuan pertahanan sekaligus disalahgunakan oleh pihak lain.
Misalnya, teknologi untuk mendeteksi deepfake, mengenali identitas palsu, atau merespons ancaman secara otomatis memang dapat membantu memperkuat keamanan. Namun, jika tidak diawasi dengan baik, kemampuan tersebut juga berpotensi digunakan untuk kepentingan yang merugikan.
Karena itu, Wamen Nezar menekankan pentingnya pengawasan manusia dan sistem yang dapat diaudit sejak teknologi tersebut dibuat.
Artinya, membangun keamanan berbasis AI bukan sekadar membuat teknologi yang semakin pintar. Sistem tersebut juga harus memiliki batasan yang jelas, dapat diawasi, dan tetap menempatkan manusia sebagai pihak yang bertanggung jawab.





















