Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Kesalahan Seseorang saat Belajar Skill Digital, FOMO Ikut Tren?

5 Kesalahan Seseorang saat Belajar Skill Digital, FOMO Ikut Tren?
ilustrasi seseorang yang sedang belajar skill digital (pexels.com/Mikhail Nilov)
Intinya Sih
  • Jumlah pengguna internet Indonesia mencapai 229,4 juta pada 2025, menandakan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penguasaan skill digital untuk beradaptasi di era teknologi.
  • Artikel menyoroti lima kesalahan umum saat belajar skill digital, seperti ikut tren tanpa tujuan jelas, menimbun teori tanpa praktik, dan berharap hasil instan di awal proses belajar.
  • Ditekankan pentingnya keterbukaan terhadap saran serta keberanian menghadapi rasa takut agar proses belajar skill digital lebih efektif dan tidak terhambat oleh tekanan atau burnout.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pengguna internet semakin bertumbuh dengan cepat dan diprediksi akan terus meningkat tiap tahunnya. Hal ini dibuktikan oleh data dari hasil survey Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 yang menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 229,4 juta. Melihat fakta tersebut, artinya banyak orang yang mulai sadar dengan pentingnya pemanfaatan teknologi untuk kemajuan peradaban.

Itulah mengapa diperlukan kemampuan adaptasi bila ingin maju dan tidak ketinggalan. Kemampuan adaptasi ini bisa diwujudkan dengan belajar skill digital. Hanya saja, belajar bukanlah sekadar ikut-ikutan tanpa adanya tujuan yang jelas. Jika hal ini masih terjadi padamu, bukannya maju kamu justru lebih mudah burn out di tengah jalan. Untuk memahami lebih lanjut, simak dulu inspirasi lima kesalahan orang saat belajar skill digital ini agar bisa kamu hindari di tahun ini!

1. Asal ikut tren tanpa memahami kebutuhan dan minat diri

ilustrasi seseorang yang sedang melamun di depan komputer
ilustrasi seseorang yang sedang melamun di depan komputer (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Tidak ada salahnya untuk mengikuti skill digital yang sedang ramai di media sosial. Apalagi, jika kamu semakin termotivasi karena keberhasilan orang lain saat berhasil menguasai skill tersebut. Lagipula belajar seringkali dimulai dari rasa penasaran sebelum berujung mengambil tindakan.

Akan tetapi, aksi belajar yang dimulai dengan ikut-ikutan tanpa melihat kebutuhan, keinginan, dan tujuan diri sendiri adalah sebuah kesalahan. Kamu boleh belajar AI, SEO, SEM, editing, clipping, coding, asalkan tahu akan dipakai untuk apa. Jangan sampai kamu tidak menyambungkan skill dengan masalah nyata. Takutnya, di tengah nanti kamu akan mudah menyerah dan burn out dalam menguasainya.

2. Kebanyakan menimbun informasi dan kurang praktik

ilustrasi seseorang di depan laptop
ilustrasi seseorang di depan laptop (pexels.com/Edward Jenner)

Proses belajar selalu dimulai dengan memahami informasi dan memperdalam teori. Hal ini penting khususnya jika skill yang ingin kamu pelajari masih sangat baru. Kamu sangat dianjurkan untuk mengikuti mentoring skill, mengikuti akun media sosial terkait skill incaran, membaca buku yang mendukung, dan segala hal lainnya.

Hanya saja, jangan sampai semangatmu habis hanya untuk menimbun informasi dan membuatmu tidak mempraktikkannya. Banyaknya informasi hanya akan membuatmu bingung, jadi cukup terima informasi secukupnya saja. Setelah itu, mulailah beraksi kecil secara konsisten. Learning by doing adalah cara terbaik agar overloaded informasi tidak menghambatmu berkembang.  

3. Berharap hasil yang instan di fase awal belajar

ilustrasi lelaki yang sedang lelah dan kesal akan sesuatu
ilustrasi lelaki yang sedang lelah dan kesal akan sesuatu (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

Siapa di sini yang sering berharap hasil instan dan terlihat profesional padahal baru mulai belajar? Sebenarnya berharap tidak ada salahnya, hanya saja kamu harus paham konteks dan kemampuan diri. Mulai sedikit ubah pemikiran dari “ingin hasil cepat” menjadi “ingin hasil maksimal di waktu yang tepat”

Buru-buru tidak akan membuatmu cepat mahir menguasai skill baru. Justru, buru-buru hanya akan membuatmu susah menikmati proses dan berujung stres. Cukup nikmati saja fase awal belajar sambil terus evaluasi di tengah perjalanannya. Semua juga akan profesional pada waktunya, jadi tenang saja.

4. Tidak terbuka dengan saran dan timbal balik

ilustrasi seorang pekerja kantoran
ilustrasi seorang pekerja kantoran (pexels.com/Gustavo Fring)

Mudahnya akses informasi, banyaknya mentor online yang berbagi di media sosial, dan ramainya video tutorial adalah surga bagi para pembelajar skill baru. Inilah mengapai otodidak menjadi cara belajar yang paling sering dipilih. Hal ini baik untuk para pemula hanya saja saran dan timbal balik tetap diperlukan.

Jangan sampai kamu merasa bisa melakukan semuanya sendiri sehingga tidak terbuka dengan saran dan evaluasi. Padahal, kedua hal itu penting untuk pengembangan skill lebih baik. Sesekali cobalah minta pendapat dari orang sekitar, berkoneksi dan berdiskusi dengan mentor untuk memberi masukan, atau lakukan apa pun yang bisa membuatmu mendapatkan pandangan baru.

5. Terjebak dalam siklus ketakutan yang menghambat

ilustrasi lelaki yang sedang memikirkan sesuatu
ilustrasi lelaki yang sedang memikirkan sesuatu (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)

Percaya tidak percaya, ketakutan selalu menjadi pembunuh mimpi dan penghambat proses belajar skill baru. Rasa takut yang dipelihara ini akan membuat hal-hal baik semakin menjauh. Hapus keinginanmu untuk menjadi ahli skill digital misal coding jika kamu terus terjebak pada rasa takut. Entah itu rasa takut gagal, takut terlihat pemula, takut diomongin orang, takut sulit dijalannya, dan takut lainnya. Rasa takut ada hanya untuk diterima dan dilewati. Bukannya dipelihara dan justru akan menghambat semua mimpi. Sekali lagi, kalau kamu ingin mahir mempelajari skill digital tahun ini, lewati dulu rasa takutmu dan semua kelancaran akan mengikutimu.

Kesadaran banyak untuk belajar skill digital semakin meningkat. Kenyataan ini berarti semakin banyak orang yang sudah memiliki growth mindset untuk berkembang. Hanya saja dalam proses belajar beberapa orang masih melakukan kesalahan. Hal ini wajar terjadi, tetapi sebisa mungkin harus dihindari. Semoga dengan mengetahui lima kesalahan belajar skill digital di atas, kamu bisa menghindarinya agar proses belajarmu lebih maksimal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika
Follow Us

Latest in Tech

See More