Komdigi Bersama UGM Kembangkan Wadah Pembentukan Spesialis AI

- Komdigi dan UGM mengembangkan NVAITC Joint Center serta AITF untuk memperkuat talenta, riset, kapasitas komputasi, dan inovasi AI nasional.
- Pemerintah menilai AI penting bagi pertumbuhan ekonomi, seiring ekonomi digital Indonesia bernilai USD99 miliar pada 2025 dan diproyeksikan USD340 miliar pada 2030.
- Talenta AI diarahkan membuat solusi lokal seperti mitigasi bencana, pertanian, dan skrining TB, dengan tetap menekankan keamanan data, tata kelola, serta kolaborasi global.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan bahwa kedaulatan akal imitasi (artificial intelligence/AI) Indonesia tidak berarti menutup diri dari teknologi global. Kedaulatan justru harus dibangun dengan memperkuat talenta, riset, kapasitas komputasi, dan ekosistem teknologi di dalam negeri agar Indonesia mampu mengembangkan AI untuk menjawab kebutuhan nasional.
Menurutnya, pengembangan AI tidak dapat hanya mengandalkan kemampuan untuk mengadopsi teknologi yang dikembangkan negara lain. Indonesia perlu membangun kemampuan sendiri melalui riset, pengembangan talenta, dan inovasi sehingga teknologi yang tersedia dapat menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat dan perekonomian nasional.
Penguatan kapasitas AI
Peluncuran Joint Center menjadi salah satu bentuk kolaborasi untuk memperkuat kemampuan tersebut. Meutya mengatakan penguatan kapasitas AI semakin penting karena teknologi digital dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Dalam RPJMN 2025–2029, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 8 persen pada 2029. Untuk mencapai target tersebut, Indonesia membutuhkan peningkatan produktivitas, efisiensi investasi dan daya saing.
Potensi ekonomi digital Indonesia, kata Meutya, terus berkembang. Laporan e-Conomy SEA 2025 mencatat nilai ekonomi digital mencapai USD99 miliar pada 2025 dan diproyeksikan mencapai USD340 miliar tahun 2030.
Pemerintah juga menargetkan ekonomi digital memberikan kontribusi 19 persen terhadap PDB pada 2045. Namun, besarnya aktivitas digital harus diubah menjadi produktivitas, inovasi, lapangan kerja berkualitas dan kemampuan teknologi nasional.
Percepat riset, inovasi, dan pengembangan talenta AI

ilustrasi Artificial Intelligence (Pexels/Tara Winstead) Komdigi mengarahkan transformasi digital melalui tiga agenda yang saling terkait, yakni terhubung, tumbuh dan terjaga. Menurut Menteri Meutya, konektivitas, pusat data, layanan cloud, dan kapasitas komputasi harus diikuti kemampuan untuk menghasilkan produktivitas dan inovasi, sekaligus disertai perlindungan data, keamanan sistem dan kepercayaan publik.
Dalam konteks penguatan ekosistem tersebut, NVAITC Joint Center menjadi bagian dari inisiatif Indonesia AI Center of Excellence yang dipimpin Komdigi untuk mempercepat riset, inovasi, dan pengembangan talenta AI. Pusat ini mempertemukan kekuatan perguruan tinggi, industri, mitra teknologi, dan pemerintah.
Salah satu fondasinya adalah GPU Merdeka, yang memungkinkan mahasiswa dan peneliti memperoleh akses komputasi berperforma tinggi melalui model GPU-as-a-Service.
Meutya menekankan kapasitas teknologi tidak akan menghasilkan nilai tambah tanpa talenta yang mampu menggunakannya. Karena itu, Komdigi bersama UGM mengembangkan Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) untuk menyiapkan AI Practitioner dan AI Specialist melalui studi kasus dunia nyata, dengan pendampingan akademisi internasional dan praktisi industri. Peluncuran angkatan kedua AITF turut dilakukan dalam kegiatan tersebut.
Ruang bagi talenta Indonesia
Talenta yang dikembangkan diarahkan untuk menghasilkan solusi atas persoalan Indonesia. Sejumlah proyek yang disebut Meutya antara lain Tech4Disaster untuk memperkuat mitigasi bencana, SmartAgri meningkatkan produktivitas pertanian dan efisiensi irigasi, serta e-Nose TB untuk membantu skrining tuberkulosis secara non-invasif.
Menurutnya, ekosistem tersebut menunjukkan talenta Indonesia tidak hanya dapat mengadopsi teknologi global, tetapi juga mengembangkan solusi lokal yang berpotensi memenuhi standar dunia.
Pada saat yang sama, dia juga mengingatkan bahwa semakin strategis penggunaan AI, semakin penting pula aspek keamanan data, tata kelola dan kepercayaan publik. Menkomdigi menegaskan kedaulatan AI bukan berarti Indonesia harus mengembangkan seluruh teknologi secara mandiri atau mengisolasi diri dari dunia. Kolaborasi dengan mitra global tetap diperlukan, sepanjang kemampuan tersebut memperkuat kepentingan dan kapasitas nasional.
Karena itu, Meutya mendorong agar NVAITC Joint Center tidak berhenti sebagai fasilitas teknologi, melainkan menjadi ruang bagi talenta Indonesia untuk menguasai teknologi kelas dunia dan menghasilkan manfaat ekonomi serta sosial bagi masyarakat.
Keberhasilannya harus terlihat dari lahirnya talenta yang kompeten, riset terapan, solusi yang digunakan masyarakat dan industri, serta inovasi dan kekayaan intelektual yang dikembangkan di Indonesia.




















