Microsoft Word vs. Google Docs, Mana Paling Pas Buat Skripsi?

- Microsoft Word menawarkan pengaturan format skripsi lebih terperinci, termasuk margin, section break, nomor halaman, dan Styles untuk menyesuaikan pedoman kampus.
- Google Docs unggul dalam kolaborasi melalui berbagi tautan, komentar, dan riwayat versi, sehingga revisi dari dosen pembimbing dapat ditinjau tanpa bertukar berkas manual.
- Keduanya mendukung daftar isi otomatis serta sitasi dan bibliografi, tetapi Google Docs gratis sepenuhnya, sedangkan fitur desktop Word lengkap memerlukan langganan atau lisensi.
Menyusun skripsi membutuhkan aplikasi pengolah kata yang mampu menangani dokumen panjang, mulai dari halaman judul, daftar isi, isi bab, dan daftar pustaka. Dua pilihan yang sering digunakan mahasiswa saat ini adalah Microsoft Word dan Google Docs.
Microsoft Word dan Google Docs menyediakan fitur untuk mengatur dokumen akademik. Namun, keduanya memiliki beberapa perbedaan dalam beberapa hal yang bisa memengaruhi kenyamanan saat mengerjakan skripsi. Jika kamu sedang memilih salah satunya, simak perbandingan Microsoft Word dan Google Docs berikut!
1. Microsoft Word lebih leluasa untuk mengatur format dokumen

Microsoft Word (microsoft.com) Microsoft Word menawarkan pengaturan dokumen yang cukup lengkap untuk kebutuhan skripsi. Word memungkinkan kamu untuk mengatur margin, jenis huruf, spasi, indentasi, dan format nomor halaman secara terperinci. Fitur section break berguna untuk membedakan format halaman awal yang menggunakan angka Romawi dan bagian isi yang memakai angka biasa. Pengaturan seperti ini penting karena setiap kampus biasanya memiliki pedoman penulisan skripsi sendiri. Word menyediakan fitur Styles untuk mengatur tingkatan judul dan subjudul secara konsisten. Jika struktur dokumen sudah rapi, kamu bisa menghasilkan daftar isi otomatis.
2. Google Docs unggul untuk kolaborasi

ilustrasi Google Docs (blog.google) Google Docs memiliki keunggulan ketika skripsi dikerjakan bersama dosen pembimbing atau rekan penelitian. Dokumen dapat dibagikan melalui tautan dengan pengaturan akses sebagai pembaca, pemberi komentar, atau editor. Fitur komentar dan riwayat versi membantu mahasiswa meninjau revisi dengan teliti. Dosen pembimbing bisa memberikan catatan langsung pada bagian yang perlu diperbaiki. Keunggulan ini sangat membantu mahasiswa karena tak perlu lagi berbagi berkas secara manual.
3. Keduanya mendukung daftar isi otomatis

Microsoft Word (microsoft.com) Daftar isi menjadi bagian penting dalam skripsi karena membantu pembaca menemukan bab dan subbab tertentu. Microsoft Word bisa menyusun daftar isi secara otomatis berdasarkan format judul yang sudah diterapkan melalui Styles. Ketika ada perubahan halaman atau judul, daftar isi bisa diperbarui melalui beberapa klik. Di sisi lain, Google Docs juga fitur daftar isi otomatis yang mengambil struktur dari judul dan subjudul dalam dokumen. Kamu bisa memilih tampilan dengan nomor halaman atau tautan menuju bagian tertentu. Untuk kebutuhan dasar ini, kedua aplikasi sama-sama bisa diandalkan.
4. Pengelolaan sitasi dan daftar pustaka

ilustrasi logo Microsoft Word (unsplash.com/@rubaitulazad) Mahasiswa wajib mencantumkan sumber referensi untuk mendukung argumen dalam skripsi. Google Docs menyediakan fitur Citations yang mendukung gaya penulisan MLA edisi ke-8, APA edisi ke-7, dan Chicago Author-Date edisi ke-17. Setelah memasukkan informasi sumber, kamu bisa menyisipkan sitasi dan menghasilkan bibliografi dari menu yang tersedia. Sementara itu, Microsoft Word memiliki fitur pengelolaan sumber dan bibliografi melalui tab References. Mahasiswa dapat memasukkan identitas buku, jurnal, atau sumber lain, lalu menyisipkan sitasi ke dalam dokumen. Meski begitu, pastikan gaya sitasi dan format daftar pustaka tetap mengikuti pedoman kampus karena pengaturan otomatis belum tentu sesuai dengan seluruh ketentuan akademik.
5. Google Docs dapat digunakan gratis sepenuhnya

ilustrasi mengetik di laptop (unsplash.com/@lukesouthern) Google Docs menjadi pilihan ekonomis bagi mahasiswa karena dapat digunakan secara gratis dengan akun Google pribadi. Kamu bisa mengakses fitur penulisan, pemformatan, kolaborasi, dan penyimpanan dokumen di Google Drive tanpa membayar biaya langganan. Sebaliknya, Microsoft Word memiliki versi web gratis yang bisa diakses melalui peramban. Namun, jika membutuhkan aplikasi desktop dengan fitur lebih lengkap, kamu perlu berlangganan Microsoft 365 atau membeli lisensi Office satu kali. Sebagai gambaran, Microsoft 365 Personal di Indonesia tercantum seharga Rp135.999 per bulan atau Rp1.359.999 per tahun di situs resmi Microsoft.
Perbandingan Microsoft Word dan Google Docs
Aspek
Microsoft Word
Google Docs
Format dokumen
Pengaturan lebih lengkap
Pengaturan dasar hingga menengah
Kolaborasi
Melalui OneDrive
Kolaborasi langsung
Daftar isi
Otomatis
Otomatis
Sitasi
Tersedia
Tersedia
Akses offline
Aplikasi desktop
Perlu diaktifkan
Harga
• Rp135.999 per bulan (Office 365 Personal)
• Rp2.279.999 (Office Home 2024)
• Gratis (via web dan aplikasi HP)
Gratis sepenuhnya
Sebagai penutup, Microsoft Word lebih cocok untuk mahasiswa yang ingin fitur lebih lengkap, terutama untuk penulisan skripsi yang ketat. Sementara itu, Google Docs ideal untuk mahasiswa yang tidak memiliki langganan Microsoft 365 karena bisa dipakai tanpa biaya, praktis, dan adanya fitur kolaborasi yang sangat membantu dalam proses penulisan skripsi.





















