Berharap Untung dari iPhone Duo Apple, Scalper Malah Boncos

- Scalper di China yang memborong iPhone Duo saat peluncuran justru merugi karena harga pasar sekunder turun cepat, dengan kerugian sejumlah pelaku mencapai puluhan hingga ratusan ribu yuan.
- Permintaan iPhone Duo melemah akibat harga awal tinggi, laporan masalah engsel layar, dan optimalisasi perangkat lunak yang belum matang, sehingga reseller sulit menjual di atas modal.
- Informasi produk yang makin terbuka serta ketersediaan perangkat melalui jalur resmi dan e-commerce membuat strategi menimbun smartphone flagship untuk dijual lebih mahal semakin berisiko.
Peluncuran iPhone Duo sebagai smartphone lipat pertama Apple sempat memunculkan ekspektasi keuntungan besar bagi para reseller atau scalper. Mereka memborong perangkat tersebut sejak awal peluncuran karena memperkirakan stok terbatas bakal membuat harga jual kembali melonjak. Namun, harapan itu justru berbalik menjadi kerugian setelah harga iPhone Duo di pasar sekunder turun lebih cepat dari perkiraan.
Alih-alih mendapatkan keuntungan dari selisih harga, sejumlah scalper di China dilaporkan merugi hampir setiap kali menjual satu unit iPhone Duo. Kondisi ini dipengaruhi oleh permintaan pasar yang tidak sesuai ekspektasi, persoalan pada engsel layar, serta optimalisasi perangkat lunak yang dinilai belum matang. Bahkan, beberapa pelaku bisnis reseller disebut mengalami kerugian hingga ratusan ribu yuan.
1. Harga iPhone Duo turun, scalper kehilangan potensi cuan

iPhone Duo (apple.com) Menurut laporan Zhejiang Economic and Social Channel, iPhone Duo telah dipasarkan sekitar satu minggu sebelum laporan tersebut diterbitkan. Sebelum peluncuran, sejumlah scalper di China membeli perangkat ini dalam jumlah besar, bahkan dengan harga tinggi. Mereka berharap bisa mengulang keuntungan dari praktik penjualan kembali smartphone flagship yang stok awalnya terbatas.
Namun, situasi di pasar justru berkembang di luar perkiraan. Masalah pada engsel layar dan optimalisasi perangkat lunak iPhone Duo membuat minat calon pembeli tidak setinggi ekspektasi. Akibatnya, harga jual kembali perangkat tersebut mengalami penurunan dalam waktu singkat, sehingga para reseller kesulitan menjualnya dengan harga lebih tinggi dari modal pembelian.
Seorang pedagang di Yigao Digital City, Hangzhou, mengatakan hampir seluruh scalper yang memperdagangkan iPhone Duo dan produk HP lipat sejenis sedang mengalami kerugian. Berdasarkan informasi yang beredar di kalangan pedagang, sejumlah scalper berpengalaman bahkan mengalami kerugian puluhan hingga ratusan juta rupiah. Jika dikonversikan, kerugian 10.000 yuan saja setara sekitar Rp27,16 juta, sedangkan 100.000 yuan mencapai sekitar Rp271,65 juta dari stok perangkat yang telanjur diborong. Dalam kondisi tersebut, pedagang yang masih bisa balik modal justru dianggap beruntung.
2. Mengapa scalper iPhone Duo justru mengalami kerugian?

Pengguna iPhone Duo dapat memindahkan aplikasi ke salah satu sisi layar dalam dan meluncurkan aplikasi kedua di sisi lain untuk multitasking Split View (apple.com) Ada beberapa faktor yang membuat strategi menimbun iPhone Duo tidak berjalan sesuai harapan. Pertama, harga awal perangkat yang relatif tinggi membatasi jumlah calon pembeli yang benar-benar mampu atau berminat membelinya. Ketika antusiasme awal setelah peluncuran mulai mereda, permintaan di pasar sekunder ikut melemah.
Kedua, persoalan engsel layar dan perangkat lunak turut memengaruhi persepsi konsumen terhadap produk tersebut. Calon pembeli tentu mempertimbangkan kualitas dan pengalaman penggunaan sebelum mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Ketika muncul laporan mengenai masalah pada perangkat, sebagian konsumen bisa memilih menunda pembelian atau menunggu produk yang lebih matang.
Ketiga, ketersediaan informasi mengenai produk teknologi kini semakin cepat dan terbuka. Konsumen dapat mengetahui harga, spesifikasi, ulasan, hingga masalah perangkat melalui media sosial dan kanal teknologi. Kondisi ini membuat scalper semakin sulit memanfaatkan ketimpangan informasi untuk menjual produk dengan harga jauh di atas harga normal.
3. Era cuan dari menimbun smartphone flagship perlahan kian berubah

penampilan visual iPhone Duo (apple.com) Kasus iPhone Duo memperlihatkan bahwa strategi membeli smartphone saat peluncuran untuk kemudian menjualnya kembali dengan harga lebih tinggi tidak selalu menguntungkan. Dahulu, keterbatasan stok pada periode awal peluncuran bisa menciptakan peluang bagi scalper untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga. Namun, strategi tersebut semakin berisiko ketika konsumen bisa membandingkan harga dan mengetahui kondisi produk secara langsung melalui internet.
Selain itu, ketersediaan produk yang membaik turut mempersempit kesempatan reseller untuk mempertahankan harga jual tinggi. Ketika konsumen tidak lagi kesulitan mendapatkan perangkat melalui jalur resmi maupun platform e-commerce, alasan untuk membeli dari scalper dengan harga lebih mahal menjadi semakin lemah. Situasi ini membuat stok yang dibeli menggunakan modal besar justru berpotensi menjadi beban.
Menariknya, laporan South China Morning Post mencatat bahwa sejumlah reseller di China mulai memangkas harga jual iPhone Duo setelah muncul keluhan mengenai ketahanan perangkat dan kompatibilitas aplikasi. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa antusiasme saat peluncuran belum tentu mencerminkan permintaan yang berkelanjutan. Pada akhirnya, para scalper iPhone Duo harus menghadapi risiko dari keputusan menimbun produk berdasarkan spekulasi kelangkaan. Kerugian yang mencapai puluhan hingga ratusan ribu yuan menjadi pengingat bahwa popularitas sebuah smartphone tidak otomatis menjamin keuntungan di pasar jual kembali.





















