Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi smartphone yang sedang membuka layar panggilan telepon (dial pad) (unsplash.com/Alexey Demidov)
  • Bareskrim mengungkap dugaan nomor Presiden Prabowo dan sejumlah pihak dimasukkan ke server LIMS tanpa verifikasi pada 2025–2026; file hasil intersepsi diduga diperintahkan untuk dihapus.
  • LIMS melalui jaringan operator dapat mengintersepsi panggilan seluler dan SMS, serta melihat metadata seperti IP, waktu koneksi, volume data, dan perkiraan lokasi, tanpa otomatis membaca WhatsApp.
  • Enkripsi ujung ke ujung melindungi isi WhatsApp, tetapi spyware yang menguasai perangkat dapat mengakses data; pengguna disarankan memperbarui aplikasi, mengaktifkan verifikasi dua langkah, dan memeriksa perangkat tertaut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kasus dugaan penyadapan nomor HP Presiden Prabowo Subianto melalui teknologi Lawful Interception Management System (LIMS) memunculkan pertanyaan menarik tentang keamanan komunikasi digital. Jika sebuah nomor HP berhasil disadap melalui jaringan telekomunikasi, apakah pelakunya otomatis bisa membaca seluruh percakapan WhatsApp, melihat foto, hingga mendengarkan panggilan pribadi? Jawabannya tidak sesederhana itu.

Penyadapan nomor telepon dan pembobolan akun WhatsApp merupakan dua hal berbeda. Ada perbedaan antara memantau komunikasi melalui jaringan operator dan mengakses isi percakapan yang dilindungi enkripsi end-to-end. Untuk memahaminya, kita perlu melihat bagaimana kedua sistem tersebut bekerja.

1. Mengenal LIMS, teknologi yang diduga digunakan untuk menyadap nomor HP Prabowo

ilustrasi peretas atau hacker (freepik.com/freepik)

LIMS merupakan singkatan dari Lawful Interception Management System, yaitu sistem yang mengelola proses intersepsi komunikasi melalui jaringan telekomunikasi. Teknologi ini menghubungkan pihak yang memiliki kewenangan penyadapan dengan infrastruktur operator telekomunikasi. Dalam praktiknya, sistem tersebut memungkinkan informasi komunikasi dari nomor target disalurkan melalui jaringan operator ke pusat pemantauan sesuai kemampuan intersepsi dan otorisasi yang berlaku.

Dalam kasus ini, Bareskrim Polri mengungkap bahwa sejumlah nomor telepon, termasuk milik Presiden Prabowo Subianto, diduga dimasukkan ke server LIMS tanpa melalui proses verifikasi. Menurut keterangan Kabareskrim Komjen Asep Safrudin dalam jumpa pers yang digelar di Mabes Polri, Jakarta Selatan (3/11/2026), dugaan penyadapan tersebut berlangsung sepanjang periode 2025–2026. Pada Oktober 2026, para tersangka juga diduga memerintahkan penghapusan file hasil penyadapan dari komputer sistem LIMS.

Pakar keamanan siber Vaksincom, Alfons Tanujaya, menjelaskan kepada detikInet (4/11/2026) bahwa nomor target dapat dimasukkan melalui pusat pemantauan, kemudian operator mengalirkan salinan komunikasi yang dapat diintersepsi. Mekanisme ini berbeda dari spyware yang harus menyusup langsung ke perangkat korban. Karena prosesnya berlangsung melalui jaringan operator, HP target tidak harus mengalami perubahan sistem maupun pemasangan aplikasi tambahan. Akibatnya, pemilik perangkat tidak selalu menyadari bahwa komunikasinya sedang diintersepsi.

2. Mengapa isi pesan WhatsApp tidak otomatis bisa dibaca?

ilustrasi login WhatsApp (pexels.com/Rahul Shah)

Salah satu alasan WhatsApp relatif terlindungi dari penyadapan melalui jaringan operator adalah penggunaan teknologi end-to-end encryption (E2EE) atau enkripsi ujung ke ujung. Teknologi ini memastikan isi pesan hanya dapat dibaca oleh pengirim dan penerima yang memiliki kunci untuk membukanya. Perlindungan tersebut juga berlaku untuk berbagai bentuk komunikasi, termasuk pesan teks, foto, video, dan panggilan yang menggunakan enkripsi end-to-end.

Mengutip penjelasan Alfons kepada detikInet (4/11/2026), LIMS tidak bisa begitu saja mengakses isi percakapan WhatsApp karena informasi yang dikirimkan melalui aplikasi tersebut sudah dienkripsi. Operator telekomunikasi yang menyalurkan lalu lintas internet hanya dapat melihat informasi tertentu pada tingkat jaringan, bukan membuka isi pesan yang terlindungi enkripsi. Dengan demikian, intersepsi melalui jaringan operator tidak otomatis membuat pelakunya mampu membaca seluruh percakapan WhatsApp pengguna.

3. Jika nomor HP tetap disadap, informasi apa yang bisa diketahui?

ilustrasi menggunakan smartphone (unsplash.com/Swello)

Meskipun isi percakapan WhatsApp terlindungi, bukan berarti seluruh aktivitas komunikasi pengguna sepenuhnya tersembunyi. Ada informasi lain yang disebut metadata, yakni data yang menjelaskan konteks atau aktivitas komunikasi, bukan isi pesan itu sendiri. Contohnya meliputi waktu koneksi, alamat IP, volume transfer data, serta perkiraan lokasi berdasarkan jaringan yang digunakan.

Dalam pemberitaan CNBC Indonesia (4/11/2026), Alfons menjelaskan bahwa operator dapat mengetahui informasi jaringan seperti alamat IP pengguna, alamat IP server WhatsApp yang dihubungi, waktu koneksi seluler aktif, dan volume paket data yang ditransfer. Lokasi perangkat juga dapat diperkirakan melalui menara BTS (Base Transceiver Station) yang melayani koneksi HP. Informasi tersebut dapat membantu menggambarkan pola aktivitas komunikasi seseorang, meskipun isi percakapannya tidak terbaca.

Namun, ada perbedaan antara metadata yang dapat dilihat operator dan informasi yang dimiliki penyedia aplikasi. Operator dapat mengamati pola koneksi jaringan, sedangkan penyedia aplikasi memiliki informasi tertentu mengenai aktivitas pengguna di dalam layanannya, seperti pihak yang berkomunikasi, frekuensi komunikasi, dan grup yang diikuti. Artinya, informasi yang dimiliki penyedia aplikasi tidak otomatis dapat diperoleh operator melalui LIMS. Sumber data dan tingkat akses masing-masing pihak berbeda.

Selain itu, penggunaan HTTPS pada sebagian besar situs web juga memberikan lapisan perlindungan tambahan. Pihak yang memantau jaringan mungkin dapat mengetahui domain atau situs yang diakses, tetapi tidak otomatis bisa membaca isi halaman, formulir, maupun informasi yang dikirimkan pengguna. Hal ini karena HTTPS mengenkripsi komunikasi antara perangkat dan server sehingga konten data tidak dapat dibaca begitu saja melalui intersepsi jaringan.

Kemampuan LIMS juga berbeda ketika berhadapan dengan komunikasi telepon seluler biasa dan SMS. Menurut penjelasan Alfons kepada CNBC Indonesia (4/11/2026), sistem ini dapat digunakan untuk mengintersepsi percakapan melalui panggilan seluler serta membaca isi SMS beserta informasi pengirimannya. Hal tersebut berbeda dari WhatsApp yang menggunakan enkripsi end-to-end untuk melindungi isi pesan dan panggilan. Dengan demikian, jenis layanan komunikasi yang digunakan turut menentukan informasi apa saja yang berpotensi diakses melalui intersepsi jaringan.

4. Kapan isi WhatsApp tetap bisa diakses pihak lain?

ilustrasi versi WhatsApp (pexels.com/Anton)

Perlindungan enkripsi end-to-end bukan berarti akun WhatsApp kebal dari segala bentuk penyadapan. Risiko berbeda muncul ketika perangkat pengguna berhasil dikuasai pihak lain, misalnya melalui infeksi spyware yang mampu mengakses informasi langsung dari HP. Dalam kondisi tersebut, penyerang berpotensi memperoleh informasi sebelum pesan dienkripsi atau setelah pesan didekripsi pada perangkat penerima.

Alfons menjelaskan kepada detikInet (4/11/2026) bahwa spyware yang berhasil tertanam di perangkat dapat mengambil informasi WhatsApp sebelum melalui proses enkripsi. Salah satu contohnya adalah ketukan keyboard (keystroke) ketika pengguna sedang mengetik pesan. Artinya, penyerang tidak harus membobol sistem enkripsi WhatsApp apabila sudah memiliki akses terhadap informasi yang tampil atau diproses langsung di perangkat. Mekanisme inilah yang membedakan serangan spyware dari intersepsi melalui jaringan operator.

Sebagai perbandingan, Pegasus merupakan salah satu spyware yang dikembangkan NSO Group untuk mengeksploitasi perangkat target dan memperoleh akses ke informasi di dalamnya. Berbeda dari LIMS yang bekerja melalui infrastruktur operator, Pegasus menyerang perangkat secara langsung. Apabila infeksi berhasil, spyware berpotensi mengakses informasi yang tersimpan atau diproses di perangkat, bergantung pada celah keamanan dan kemampuan serangannya.

Perlindungan enkripsi juga perlu diperhatikan ketika menggunakan aplikasi pesan instan lainnya. WhatsApp dan Signal menerapkan enkripsi end-to-end secara default pada komunikasi pribadi, sedangkan Telegram memiliki mekanisme berbeda. Pada Telegram, perlindungan enkripsi end-to-end tersedia melalui fitur Secret Chat, sementara percakapan biasa atau Cloud Chats tidak menggunakan enkripsi tersebut secara default. Karena itu, pengguna perlu memahami pengaturan keamanan setiap aplikasi sebelum menggunakannya untuk bertukar informasi sensitif.

5. Cara menjaga keamanan akun WhatsApp dari akses tidak sah

ilustrasi menggunakan WhatsApp (unsplash.com/Dimitri Karastelev)

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko informasi pribadi diakses pihak lain. Pertama, gunakan aplikasi komunikasi yang menerapkan enkripsi end-to-end, seperti WhatsApp dan Signal, untuk percakapan sensitif. Kedua, hindari membagikan informasi penting melalui SMS atau panggilan telepon seluler biasa karena keduanya tidak memiliki perlindungan enkripsi end-to-end seperti aplikasi pesan tersebut.

Ketiga, rutin memperbarui sistem operasi dan aplikasi agar memperoleh perbaikan keamanan terbaru. Keempat, hindari memasang aplikasi dari sumber yang tidak tepercaya serta jangan sembarangan membuka tautan mencurigakan. Pengguna juga perlu mengaktifkan verifikasi dua langkah dan memeriksa daftar perangkat tertaut WhatsApp secara berkala untuk mengurangi risiko pengambilalihan akun.

Meski begitu, langkah-langkah tersebut tidak sepenuhnya mencegah intersepsi yang terhubung di jaringan operator. Metadata tetap dapat memberikan gambaran mengenai aktivitas seseorang meskipun isi komunikasinya terlindungi enkripsi. Oleh karena itu, keamanan komunikasi digital tidak hanya bergantung pada aplikasi yang digunakan, tetapi juga pada perlindungan perangkat dan kesadaran pengguna terhadap informasi yang dibagikan.

Kasus dugaan penyadapan nomor HP Presiden Prabowo melalui LIMS menjadi pengingat bahwa keamanan komunikasi digital memiliki beberapa lapisan. Intersepsi melalui jaringan telekomunikasi dapat membuka informasi tertentu mengenai aktivitas komunikasi, tetapi tidak otomatis membongkar isi pesan WhatsApp yang dilindungi enkripsi end-to-end. Kemampuan tersebut berbeda dari serangan spyware yang berusaha memperoleh akses langsung ke perangkat pengguna.

Perbedaan antara isi pesan, metadata, dan akses langsung ke perangkat perlu dipahami agar masyarakat tidak salah mengartikan kemampuan teknologi penyadapan. Pada akhirnya, perlindungan privasi digital bukan hanya bergantung pada enkripsi aplikasi, tetapi juga keamanan perangkat dan pengelolaan akun. Memahami cara kerja teknologi tersebut menjadi langkah awal agar pengguna lebih bijak dalam menjaga informasi pribadi di ruang digital.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article