Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rupiah Melemah, Harga HP dan Laptop di Indonesia Terancam Naik

Rupiah Melemah, Harga HP dan Laptop di Indonesia Terancam Naik
ilustrasi pecahan uang rupiah Indonesia (pexels.com/Ahsanjaya)
Intinya Sih
  • Pelemahan rupiah terhadap dolar AS membuat biaya impor komponen elektronik naik, sehingga harga HP dan laptop di Indonesia berpotensi meningkat dalam waktu dekat.
  • Kenaikan harga RAM dan SSD global akibat lonjakan permintaan memperbesar biaya produksi laptop, memaksa vendor menyesuaikan harga jual agar stok dan kualitas tetap terjaga.
  • Ledakan industri AI memperketat pasokan chip karena produsen memprioritaskan kebutuhan data center, menyebabkan kelangkaan komponen untuk perangkat konsumen hingga 2027.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai memberi tekanan terhadap industri elektronik di Indonesia. Harga perangkat seperti HP dan laptop diperkirakan berpotensi mengalami kenaikan dalam beberapa waktu ke depan. Pakar IT sekaligus Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi, mengatakan pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor perangkat elektronik. Pasalnya, sebagian besar komponen elektronik masih bergantung pada pasar global dan transaksi menggunakan dolar AS.

“Dampaknya memang tidak langsung terasa karena stok lama masih dijual dengan harga sebelumnya,” ujar Heru Sutadi, mengutip Bisnis Tekno, Sabtu (16/5/2026). Menurut Heru, kenaikan harga biasanya mulai terlihat saat vendor melakukan restock atau meluncurkan produk baru. Penyesuaian harga tersebut umumnya terjadi beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah nilai tukar rupiah melemah.

Berdasarkan data Bank Indonesia, Sabtu (16/5/2026), nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp17.602 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang menekan pasar keuangan, termasuk meningkatnya tensi geopolitik global. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran harga perangkat elektronik di Indonesia akan ikut terkerek naik.

1. Harga elektronik sangat bergantung pada dolar AS

ilustrasi gerai penjualan HP
ilustrasi gerai penjualan HP (unsplash.com/NSYS Group)

Menurut laporan Bisnis Tekno, Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, menyebut industri elektronik menjadi salah satu sektor yang cukup sensitif terhadap pergerakan kurs rupiah karena rantai pasok HP dan laptop masih sangat bergantung pada impor komponen dari luar negeri. Menurut Heru, sejumlah komponen penting seperti chip, layar, baterai, RAM, hingga SSD diperdagangkan menggunakan dolar AS. Karena itu, pelemahan rupiah turut memengaruhi biaya produksi dan distribusi perangkat elektronik di Indonesia.

Heru menjelaskan sensitivitas industri elektronik juga dipengaruhi oleh skala impor, kontrak pembelian, serta efisiensi logistik masing-masing vendor. Meski demikian, kenaikan harga perangkat elektronik biasanya tidak langsung dibebankan kepada konsumen. Vendor umumnya memiliki berbagai strategi untuk menjaga daya beli pasar, mulai dari menyerap sebagian biaya tambahan, meningkatkan efisiensi operasional, hingga menghadirkan promo dan bundling produk.

Namun, Heru menilai kenaikan harga pada akhirnya sulit dihindari apabila pelemahan rupiah berlangsung dalam jangka panjang. Kondisi tersebut berpotensi membuat vendor meneruskan penyesuaian harga kepada konsumen.

2. Harga RAM dan SSD ikut melonjak

ilustrasi media penyimpanan NVMe SSD
ilustrasi media penyimpanan NVMe SSD (pexels.com/Andrey Matveev)

Selain faktor kurs rupiah, harga HP dan laptop pada 2026 juga terdorong naik akibat lonjakan harga komponen memori global. Komponen seperti RAM dan SSD mengalami kenaikan harga cukup tinggi karena permintaan pasar yang terus meningkat. Padahal, keduanya menjadi komponen utama di hampir semua laptop modern.

RAM berfungsi mendukung multitasking dan menjalankan aplikasi, sementara SSD memengaruhi kecepatan perangkat saat booting maupun membuka program. Lembaga riset TrendForce memperkirakan harga conventional DRAM pada kuartal pertama 2026 naik hingga 90-95 persen secara kuartalan. Sementara itu, harga NAND Flash diprediksi melonjak sekitar 55-60 persen.

Kenaikan tersebut membuat biaya produksi laptop ikut membengkak. Vendor pun mau tak mau harus menyesuaikan harga jual agar kualitas produk dan ketersediaan stok tetap terjaga. Dampaknya, laptop entry level semakin sulit dipertahankan di harga lama. Spesifikasi yang sebelumnya dianggap standar kini menjadi lebih mahal dalam struktur biaya produksi.

3. Ledakan industri AI dorong krisis pasokan chip

ilustrasi komponen chip elektronik
ilustrasi komponen chip elektronik (pexels.com/Jakub Pabis)

Perkembangan artificial intelligence (AI) juga ikut memperketat pasokan chip global. Saat ini perusahaan teknologi besar berlomba membangun data center AI yang membutuhkan chip memori berperforma tinggi seperti High Bandwidth Memory (HBM). Kondisi tersebut membuat produsen chip lebih memprioritaskan produksi untuk kebutuhan server AI dibanding perangkat konsumen.

Selain permintaannya tinggi, margin bisnis di sektor ini juga lebih besar. Akibatnya, pasokan chip untuk laptop, HP, dan PC menjadi semakin terbatas. Lembaga riset IDC bahkan menyebut krisis kekurangan memori global yang dimulai sejak akhir 2025 diperkirakan masih berdampak hingga 2027.

Tak hanya laptop, kenaikan harga diperkirakan juga terjadi pada HP, PC rakitan, konsol game, hingga perangkat elektronik lain yang menggunakan chip semikonduktor. Selain chip dan memori, harga gadget turut dipengaruhi biaya logistik internasional, ongkos pengiriman global, hingga fluktuasi nilai tukar mata uang.

Pelemahan rupiah ditambah lonjakan harga komponen diperkirakan akan menekan pasar elektronik di Indonesia. Imbasnya, harga HP dan laptop berpotensi naik bertahap sepanjang 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika
Follow Us

Related Articles

See More