prasasti di Taman Balekambang Solo (dok. pribadi/Fatma R. N.)
Taman Balekambang Solo tidak hanya dihiasi pepohonan rindang, tetapi juga ornamen, patung, hingga prasasti. Jika kamu berjalan menuju area Kolam Partini, akan menjumpai pohon besar yang dikelilingi pagar pembatas. Konon, terdapat prasasti yang sakral di sela-sela akar pohon tersebut.
Kisahnya, ada dua orang pencuri yang membawa prasasti tersebut ke Boyolali. Kemudian mereka meninggal dunia setelah melakukan aksinya. Selain dikaitkan dengan kesakralannya, benda ini juga mendapat perhatian khusus selama proses revitalisasi taman.
Selain itu, kamu juga akan menjumpai prasasti dengan aksara Jawa yang isinya sebagai berikut.
“Kajeng mandira, tanemanipun Pakempalan Darah, nalika dinten Rebo Kliwon, 23-Sapar-Ehe 1952, utawi surya kaping, 26-10-1921, amengeti yuswa, 40, dinten miyosipun, Gusti Bandara Raden Ajeng Siti Nurul Karamil Ngarasati Kusumowardani, Putri Dalem Kangjeng Gusti Pangeran Harya Prabu Prangwadana, ingkang jumeneng kaping VII, miyos saking garwa dalem Gusti Kangjeng Ratu Timur. Mawi kaseksen pakempalan Narpawandawa, Muhammadiyah, Budiutama, Mardiguna, Jong Java, P.G.H.B., Sedya tresna, Tresna sudara, saha abdi dalem, tuwin Padpinder.”
Prasasti tersebut mencatat penanaman pohon beringin (kajeng mandira) pada 26 Oktober 1921 oleh perkumpulan kerabat istana, untuk memperingati hari lahir ke-40 Gusti Nurul, putri dari Mangkunegara VII dan Gusti Kanjeng Ratu Timur. Momen sakral tersebut tidak hanya dihadiri kalangan internal istana dan abdi dalem, tetapi juga berbagai organisasi modern serta pergerakan nasional. Hal ini menunjukkan bahwa Taman Balekambang menjadi ruang bersejarah yang memadukan tradisi budaya keraton dengan semangat persatuan masyarakat modern pada masanya.